detikcom

Senin, 05/01/2009 16:53 WIB

Prabowo Subianto

Teguh Budi Santoso - detikNews
Jakarta - Nama : Prabowo Subianto
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 17 Oktober 1951
Agama : Islam
Istri : Ny Siti Hediati (mantan)
Anak : Ragowo Hedi Prasetyo
Pendidikan : Akabri Magelang tahun 1974
Karir : 1996 - 1998 Danjen Kopassus
1998 - 1998 Panglima Kostrad
1998 - 1998 Danseskoad
2004 - 2009 Ketum HKTI
2008 - 2013 Ketum APPSI
Alamat : Menara Bidakara 9th Floor, Jl. Gatot Subroto kav. 71-73, Jakarta 12870 Indonesia

Dulu, banyak yang meramalkan masa depan Prabowo Subianto akan gilang gemilang. Pada menjelang berakhirnya masa pemerintahan Orde Baru, ia adalah jenderal paling bersinar. Dalam usia 47 tahun, ia sudah menyandang 3 bintang di pundaknya dan juga memimpin jabatan elit, Panglima Kostrad. Tak heran ada dugaan, dialah pewaris Dinasti Suharto, mengingat ia anggota klan yang paling bersinar (saat itu, Prabowo masih menantu Soeharto).

Namun segala kegemilangan itu buyar ketika era reformasi ternyata menuntut lebih pada Prabowo. Lengsernya Soeharto membuat kasus penculikan aktivis yang terjadi pada era ia menjabat Danjen Kopassus, ditelisik oleh Mabes TNI. Ujungnya, dibarengi dengan isu ketidakcocokannya dengan Panglima TNI Jenderal Wiranto, Prabowo harus pensiun dini dari dinas militer.

Setelah itu, Prabowo seperti mengasingkan diri. Ia banyak berdomisili di Timur Tengah (Yordania) dan menyibukkan diri segera terjun ke dunia usaha. Bisnis Prabowo terutama bergerak di bidang Pertambangan dan Perkebunan.

Nama Prabowo kembali muncul tatkala Parta Golkar di bawah Akbar Tandjung membuat konvensi untuk memilih capres 2004. Prabowo menjadi salah satu peserta meskipun kemudian ia harus mengakui bahwa konvensi lebih memilih sosok Wiranto untuk didukung Golkar pada Pilpres 2004.

Lepas dari Konvensi, Prabowo banyak bergerak di level Ormas. Ia terpilih menjadi ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menggantikan Sarwono Yudohusodo pada tahun 2004. Kemudian ia juga terpilih menjadi ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) di tahun 2008. Selain itu, Prabowo juga menyiapkan diri dengan membidani lahirnya Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Semua organ tersebut mencuri perhatian publik saat kampanyenya mulai rajin hadi di layar kaca. Melalui HKTI, Prabowo menyerukan pentingnya membeli produk makanan dalam negeri. Melalui APPSI, Prabowo mengimbau gerakan kembali ke pasar tradisional. Dan ujungnya, Prabowo juga mengkampanyekan Gerindra yang resmi menyatakan akan mencapreskan dirinya dalam pilpres 2009.

Gerak agresif Prabowo itu langsung mendapat sambutan. Dalam beberapa jajak pendapat terakhir, namanya masuk 3 besar sosok capres populer bersama SBY dan Megawati. Meski demikian, Prabowo bukannya tanpa hadangan. Dikaitkannya orang dekatnya dan juga Wakil Ketum Gerindra, Muchdi Pr dalam pembunuhan aktivis HAM Munir, bisa jadi batu kerikil yang mengganggu pencitraan dirinya.

Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

(tbs/tbs)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .
Baca Juga


Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Indeks Berita ยป
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%