Ray Rangkuti: Emoh Umumkan Tukang Bolos, PDIP Korbankan Partai
Senin, 22/12/2008 18:07 WIB
Foto: Ray Rangkuti (Laurensius/detikcom)
Jakarta
Beberapa fraksi, dimulai dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB), mengusulkan pimpinan DPR untuk membeberkan nama per nama anggota dewan yang kerap bolos dalam sidang. Namun demikian, Direktur Lingkar Madani Untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menilai lebih baik pengumuman dilakukan masing-masing fraksi, bukan DPR secara institusional.
"Itu (dilakukan oleh DPR) agak sulit mencari dasar hukumnya. Ketika ada fraksi yang tidak mengumumkannya, biar masyarakat yang menilai dan memberikan sanksi sosial kepada fraksi tersebut," ujar Ray usai acara peluncuran buku di Galeri Kafe, Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (22/12/2008).
Berikut wawancara lengkap oleh pria kelahiran Mandailing Natal 20 Agustus 1969 ini:
Bagaimana tanggapan Abang (panggilan akrab Ray) dengan usulan beberapa fraksi untuk membeberkan anggota tukang bolos di akhir tahun?
Menurut saya itu langkah bagus meski dari aspek waktu agak terlambat. Terlambat karena seharusnya itu dulu dilakukan sebelum pencalegan. Sekarang kan anggota DPR kita ini 90 persen mereka-mereka juga (anggota 1999-2004).
Saya pernah mengusulkan dulu, mana saja calon anggota DPR 2004-2009 ini yang memiliki kuantitas kehadiran yang sangat rendah.
Kalau begitu kan ada 2 posisi, yaitu tidak dicalonkan. Dan kalau pun dicalonkan ditempatkan pada nomor urut yang kira-kira kesempatannya kecil untuk terpilih. Tapi kalau muncul lagi sekarang, ya harus cepat direalisasikan.
Bagaimana efeknya kalau itu direalisasikan?
Efeknyanya kan pada penghakiman, itu pun kan kalo efektif. Kalau tidak efektif bagaimana.. Atau ini hanya sebagai wacana, yang sampai sekarang tidak ada partai yang merealisasikannya.
Maksud saya, FKB sebagai fraksi yang pertama kali mengusulkan, sudah lakukan saja. Yang mana anggota FKB yang menurut mereka tidak memenuhi standar kehadiran, umumkan saja, ini caleg kami dan tingkat kehadirannya sekian. Tinggal mereka merumuskan yang dinamakan pembolos itu. Apakah kehadirannya cuma 20 persen, 40 persen.
Kalau diumumkan oleh DPR secara institusional, bagaimana?
Kalau DPR secara institusional itu nggak mungkin. Pertama yang melakukannya siapa....
Kalau Pimpinan?
Harus fraksi yang pertama melakukannya.
Tapi kan DPR punya Badan Kehormatan yang bertugas sebagai penegak citra?
Nggak mungkin, karena aspek legal. Itu agak sulit mencari dasar hukumnya. Ketika ada fraksi yang tidak mengumumkannya, biar masyarakat yang menilai dan memberikan sanksi sosial kepada fraksi tersebut.
Bagaimana dengan FDIP yang menolak atas usulan pengumunan itu?
Jujur harus diakui kuantitas ketidakhadiran banyak dari mereka. Itu yang membuat PDIP menolak suatu kegiatan yang sangat positif. Jadi dalam konteks itu PDIP agak mundur.
Kalau alasan FPDIP karena banyak mengunjungi konstituen di daerah sehingga waktu untuk rapat agak terganggu?
Masak konstituen melulu. Mereka lupa, kunjungan konstituen itu harus ada waktunya, laporannya. Ini waktunya nggak jelas, laporannya nggak masuk.
Itu apologi, sebenarnya nggak ada lagi alasan mereka membela orang yang selama ini bolos. Salah sekali, itu mengada-ada. Apalagi mengatasnamakan konstituen, apalagi kita cek reportnya benar nggak itu kunjungan ke konstituen.
Artinya PDIP itu mencoba memperpanjang persoalan, di mana persoalan itu membuat mereka semakin ketahuan bohongnya. Lebih baik mereka diam, dan mengatakan di sini kami lemah. Kami nggak bisa memecat. Ini kan nggak memecat cuma mengkomunikasikan saja. Kalau ide saya dahulu dipecat.
Bagaimana dengan petinggi-petinggi PDIP yang sering disebut-sebut sebagai tukang bolos. Apakah karena itu PDIP tidak setuju?
Kalau gejala sosial politiknya kita maklumi, tapi tentu saja sikap ini tidak dapat kita toleransi. Kita maklumi kenapa, karena ini menyangkut orang-orang besar di PDIP.
Tradisi politik kita mengorbankan partai demi orang-orang. Ini yang terjadi di PDIP. Mereka mengorbankan partai hanya demi melindungi satu dua orang di dalam.
Jadi?
Saya kira FKB sebagai pengusul pertama harus memulainya. Kalau nggak ini hanya cerita kosong. Saya dengar kalau PPP oke, umumkan saja juga. PAN sebagai partai reformis mau melakukannya bagus juga. Tapi tentu kriteria yang bolos itu berbeda-beda. (lrn/iy)
"Itu (dilakukan oleh DPR) agak sulit mencari dasar hukumnya. Ketika ada fraksi yang tidak mengumumkannya, biar masyarakat yang menilai dan memberikan sanksi sosial kepada fraksi tersebut," ujar Ray usai acara peluncuran buku di Galeri Kafe, Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (22/12/2008).
Berikut wawancara lengkap oleh pria kelahiran Mandailing Natal 20 Agustus 1969 ini:
Bagaimana tanggapan Abang (panggilan akrab Ray) dengan usulan beberapa fraksi untuk membeberkan anggota tukang bolos di akhir tahun?
Menurut saya itu langkah bagus meski dari aspek waktu agak terlambat. Terlambat karena seharusnya itu dulu dilakukan sebelum pencalegan. Sekarang kan anggota DPR kita ini 90 persen mereka-mereka juga (anggota 1999-2004).
Saya pernah mengusulkan dulu, mana saja calon anggota DPR 2004-2009 ini yang memiliki kuantitas kehadiran yang sangat rendah.
Kalau begitu kan ada 2 posisi, yaitu tidak dicalonkan. Dan kalau pun dicalonkan ditempatkan pada nomor urut yang kira-kira kesempatannya kecil untuk terpilih. Tapi kalau muncul lagi sekarang, ya harus cepat direalisasikan.
Bagaimana efeknya kalau itu direalisasikan?
Efeknyanya kan pada penghakiman, itu pun kan kalo efektif. Kalau tidak efektif bagaimana.. Atau ini hanya sebagai wacana, yang sampai sekarang tidak ada partai yang merealisasikannya.
Maksud saya, FKB sebagai fraksi yang pertama kali mengusulkan, sudah lakukan saja. Yang mana anggota FKB yang menurut mereka tidak memenuhi standar kehadiran, umumkan saja, ini caleg kami dan tingkat kehadirannya sekian. Tinggal mereka merumuskan yang dinamakan pembolos itu. Apakah kehadirannya cuma 20 persen, 40 persen.
Kalau diumumkan oleh DPR secara institusional, bagaimana?
Kalau DPR secara institusional itu nggak mungkin. Pertama yang melakukannya siapa....
Kalau Pimpinan?
Harus fraksi yang pertama melakukannya.
Tapi kan DPR punya Badan Kehormatan yang bertugas sebagai penegak citra?
Nggak mungkin, karena aspek legal. Itu agak sulit mencari dasar hukumnya. Ketika ada fraksi yang tidak mengumumkannya, biar masyarakat yang menilai dan memberikan sanksi sosial kepada fraksi tersebut.
Bagaimana dengan FDIP yang menolak atas usulan pengumunan itu?
Jujur harus diakui kuantitas ketidakhadiran banyak dari mereka. Itu yang membuat PDIP menolak suatu kegiatan yang sangat positif. Jadi dalam konteks itu PDIP agak mundur.
Kalau alasan FPDIP karena banyak mengunjungi konstituen di daerah sehingga waktu untuk rapat agak terganggu?
Masak konstituen melulu. Mereka lupa, kunjungan konstituen itu harus ada waktunya, laporannya. Ini waktunya nggak jelas, laporannya nggak masuk.
Itu apologi, sebenarnya nggak ada lagi alasan mereka membela orang yang selama ini bolos. Salah sekali, itu mengada-ada. Apalagi mengatasnamakan konstituen, apalagi kita cek reportnya benar nggak itu kunjungan ke konstituen.
Artinya PDIP itu mencoba memperpanjang persoalan, di mana persoalan itu membuat mereka semakin ketahuan bohongnya. Lebih baik mereka diam, dan mengatakan di sini kami lemah. Kami nggak bisa memecat. Ini kan nggak memecat cuma mengkomunikasikan saja. Kalau ide saya dahulu dipecat.
Bagaimana dengan petinggi-petinggi PDIP yang sering disebut-sebut sebagai tukang bolos. Apakah karena itu PDIP tidak setuju?
Kalau gejala sosial politiknya kita maklumi, tapi tentu saja sikap ini tidak dapat kita toleransi. Kita maklumi kenapa, karena ini menyangkut orang-orang besar di PDIP.
Tradisi politik kita mengorbankan partai demi orang-orang. Ini yang terjadi di PDIP. Mereka mengorbankan partai hanya demi melindungi satu dua orang di dalam.
Jadi?
Saya kira FKB sebagai pengusul pertama harus memulainya. Kalau nggak ini hanya cerita kosong. Saya dengar kalau PPP oke, umumkan saja juga. PAN sebagai partai reformis mau melakukannya bagus juga. Tapi tentu kriteria yang bolos itu berbeda-beda. (lrn/iy)
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
WawancaraTerbaru
Indeks Wawancara »
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
-
Senin, 14/05/2012 20:25 WIB
Pilot Jeffrey Adrian: Radio, HP, Pegunungan Ganggu Komunikasi dengan ATC
-
Kamis, 10/05/2012 19:12 WIB
Menkeu: Saya Memilih Tidak Menjadi Saksi untuk Wa Ode
-
Senin, 07/05/2012 18:52 WIB
Direktur Pembinaan SD: Sekali Lagi, Jangan Terpengaruh SMS Gadungan Soal UN
-
Senin, 30/04/2012 20:20 WIB
Dr Mudzakkir: Jangan Sampai Anak Jadi Tameng Penangguhan Penahanan
-
Sabtu, 26/05/2012 17:01 WIB
Pembunuh Ayah dan Anak dengan Linggis di Depok Ditangkap Polisi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:57 WIB
Waspada! Perampasan Motor Berkedok Razia Melibatkan Oknum Polisi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:07 WIB
Ini Dia Hasil UN SMA di DKI Jakarta
-
Sabtu, 26/05/2012 15:22 WIB
Lengkapi Izin, Promotor Lady Gaga Diberi Waktu Hingga Senin
-
280 Komentar
-
246 Komentar
-
237 Komentar
-
221 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
