Makelar Gentayangan Dekati Caleg Jelang Pemilu 2009
Senin, 15/12/2008 09:32 WIB
Jakarta
Makin mendekati pergantian tahun baru, makin sibuk caleg mendirikan posko & memajang baliho. Tak kalah sibuknya pula para makelar jual beli suara untuk persiapan hari-H pencoblosan pemilihan legislatif.
Layaknya marketer tangguh, para makelar suara agresif menggarap calon 'pembeli' dan 'penjual' potensial. Bagi mereka seorang calon legislatif (caleg) adalah pembeli potensial suara di kecamatan coba dijajakannya.
"Di lapangan praktek itu benar terjadi. Ada kecamatan yang Rp 5.000 per suara, ada Rp 10.000 per suara," ungkap salah satu caleg Partai Demokrat (PD).
Caleg DPR-RI dari Jawa Timur ini sempat kaget dapat tawaran membeli suara dukungan. Kejadiannya ketika tim pemenangannya sibuk menggelar kampanye dialogis di berbagai media massa elektronik lokal.
Modus operandi Si Makelar mula-mula mengkritik metode kampanye dialogis secara on-air yang menurutnya tidak efektif meraih dukungan suara rakyat. Selanjutnya ia menawarkan metode lebih efektif, yaitu membeli suara di sejumlah kecamatan dari kabupaten di daerah pemilihan bersangkutan.
"Tawaran itu saya tolak karena jelas mencederai demokrasi. Lagi pula tidak ada jaminan kita yang menang kan?" imbuh Pak Caleg yang kebetulan tidak punya latar belakang politik ini.
Praktek tercela berupa jual-beli suara nampaknya tidak terelakkan dalam sistem pemilihan langsung. Meski tak selalu terbukti, banyaknya tudingan suap, mark-up suara hingga 'operasi fajar' dalam pilkada patut jadi bahan pembelajaran.
Kandidat pasangan kepala daerah harus berjuang merayu warga agar memilihnya dan mempertahankannya tiap suara yang diperolehnya. Sebab kemenangannya memang ditentukan dari selisih jumlah perolehan suara dibanding caleg lainnya dan bukan nomor urut.
Demikian pula ajang Pemilu 2009. Tak sedikit partai politik telah menghapus sistem nomor urut guna menentukan siapa caleg yang duduk di parlemen. Penetapan siapa caleg yang berhak jadi anggota legislatif ditentukan oleh jumlah perolehan suara.
Tentu saja mulai maraknya jual beli suara ini harus mendapat perhatian super spesial jajaran Bawaslu dan semua komponen masyarakat yang peduli. Adalah salah kita juga bila ternyata (lagi-lagi) ada segerombolan politisi busuk berkantor di Gedung DPR/MPR-RI periode 2009-2014. (lh/nwk)
Layaknya marketer tangguh, para makelar suara agresif menggarap calon 'pembeli' dan 'penjual' potensial. Bagi mereka seorang calon legislatif (caleg) adalah pembeli potensial suara di kecamatan coba dijajakannya.
"Di lapangan praktek itu benar terjadi. Ada kecamatan yang Rp 5.000 per suara, ada Rp 10.000 per suara," ungkap salah satu caleg Partai Demokrat (PD).
Caleg DPR-RI dari Jawa Timur ini sempat kaget dapat tawaran membeli suara dukungan. Kejadiannya ketika tim pemenangannya sibuk menggelar kampanye dialogis di berbagai media massa elektronik lokal.
Modus operandi Si Makelar mula-mula mengkritik metode kampanye dialogis secara on-air yang menurutnya tidak efektif meraih dukungan suara rakyat. Selanjutnya ia menawarkan metode lebih efektif, yaitu membeli suara di sejumlah kecamatan dari kabupaten di daerah pemilihan bersangkutan.
"Tawaran itu saya tolak karena jelas mencederai demokrasi. Lagi pula tidak ada jaminan kita yang menang kan?" imbuh Pak Caleg yang kebetulan tidak punya latar belakang politik ini.
Praktek tercela berupa jual-beli suara nampaknya tidak terelakkan dalam sistem pemilihan langsung. Meski tak selalu terbukti, banyaknya tudingan suap, mark-up suara hingga 'operasi fajar' dalam pilkada patut jadi bahan pembelajaran.
Kandidat pasangan kepala daerah harus berjuang merayu warga agar memilihnya dan mempertahankannya tiap suara yang diperolehnya. Sebab kemenangannya memang ditentukan dari selisih jumlah perolehan suara dibanding caleg lainnya dan bukan nomor urut.
Demikian pula ajang Pemilu 2009. Tak sedikit partai politik telah menghapus sistem nomor urut guna menentukan siapa caleg yang duduk di parlemen. Penetapan siapa caleg yang berhak jadi anggota legislatif ditentukan oleh jumlah perolehan suara.
Tentu saja mulai maraknya jual beli suara ini harus mendapat perhatian super spesial jajaran Bawaslu dan semua komponen masyarakat yang peduli. Adalah salah kita juga bila ternyata (lagi-lagi) ada segerombolan politisi busuk berkantor di Gedung DPR/MPR-RI periode 2009-2014. (lh/nwk)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Rabu, 23/05/2012 02:25 WIB
Apartemen Milik Dhana Belum Juga Disita Kejagung
-
Rabu, 23/05/2012 01:26 WIB
Ungkap Kasus Korupsi Indosat, Kejagung Periksa Pejabat Kemenkominfo
-
Rabu, 23/05/2012 01:16 WIB
Jakarta Harus Bisa Jadi Kota Jasa Bertaraf Internasional
-
Rabu, 23/05/2012 01:10 WIB
Istana Bantah Ibu Ani akan Kunjungi Situs Gunung Padang
-
Rabu, 23/05/2012 00:14 WIB
Perusahaan Bakrie di Jambi Minta Perusakan Kamp Karyawan Diusut
-
Selasa, 22/05/2012 16:09 WIB
Gara-gara Lady Gaga, Ruhut & 2 Aktivis Muslim Adu Mulut Sengit
-
Rabu, 23/05/2012 00:48 WIB
Ada Penumpang Mencurigakan, Pesawat Tujuan Charlotte Dialihkan
-
Selasa, 22/05/2012 12:32 WIB
Ayahanda Korban Sukhoi: Susana Tetap Manis & Cantik
-
Rabu, 23/05/2012 01:10 WIB
Istana Bantah Ibu Ani akan Kunjungi Situs Gunung Padang
-
678 Komentar
-
451 Komentar
-
228 Komentar
-
225 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 471.000
- Rp 6,087.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message



_(baru).gif)

_2.gif)
_3.gif)
