detikcom

Pilpres 2009

Akbar: JK Masih Ragu Maju Sebagai Capres apa Cawapres

Muchus Budi R. - detikNews
Jumat, 12/12/2008 13:58 WIB
dok detikcom
Solo Mekanisme pemilihan capres di Partai Golkar dinilai tidak jelas. Hal tersebut disebabkan keragu-raguan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla dalam menentukan sikap pada pilpres mendatang.

"Semua itu karena ketua umumnya (Jusuf Kalla) masih ragu akan maju mencalonkan diri sebagai capres atau cawapres. Dampaknya mekanisme di dalam partai menjadi buntu," ujar Akbar kepada wartawan seusai tampil sebagai keynote speaker seminar tentang kemandirian bangsa dalam nilai-nilai Islam berkemajuan di Auditorium UMS, Jumat (12/12/2008).

Akbar menyarankan Kalla segera menyingkirkan keraguan tersebut. Dia berharap Partai Golkar tetap menggelar konvensi untuk menentukan kadernya yang akan diajukan sebagai capres. Menurutnya mekanisme konvensi yang dipekenalkan Golkar pada masa kepemimpinan Akbar telah mengangkat citra partai.

"Terlepas calonnya yang terpilih nanti menang apa kalah, model konvensi terbukti telah mengangkat citra bahwa Golkar merupakan partai demokratis. Saya kira alasan-alasan ini dan itu yang selama ini dilontarkan untuk menghilangkan konvensi itu hanya alasan dari ketua umum yang masih ragu-ragu tadi," lanjutnya.

Karena Akbar berharap Golkar segera menggelar konvensi untuk memberi hak semua kader terbaik Golkar, termasuk Kalla, tampil dalam konvensi itu. Akbar juga mendorong Kalla maju sebagai Capres dengan mengabaikan perhitungan-perhitungan, misalnya bukan berasal dari suku Jawa.

Jangan Halangi Kader

Kebuntuan di internal Golkar itu, menurut Akabar, telah menghalangi hak kader untuk tampil. Konsekuensinya, partai tidak menghalang-halangi kadernya maju sebagai capres lewat partai lain. Menurutnya jika partai lain mencapreskan kader Golkar berarti memang kader itu dinilai memiliki kemampuan dan kapasitas.

"Seharusnya tidak akan menjadi masalahjika kader Golkar menjadi capres lewat partai lain sebagai kapasitas pribadi dan tidak perlu keluar dari keanggotaannya dari Golkar. Fatsoennya, dia memang harus memberitahukan hal itu kepada ketua umum. Dulu Pak Kalla juga memberitahu saya ketika akan menjadi cawapres," paparnya.

Dicontohkan oleh Akbar, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X saat ini dicapreskan Partai Republikan. Namun menurutnya, Sultan HB X tidak harus keluar dari Golkar meskipun yang menjadikannya capres adalah partai lain.

"Pencapresan Pak Sultan oleh Partai Republikan itu menunjukkan bahwa Pak Sultan dinilai berkapasitas untuk itu. Sedangkan mekanisme di dalam Partai Golkar sendiri masih menyulitkan kader-kader terbaiknya seperti ini untuk tampil sebagai capres," lanjut akbar. (mbr/djo)

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini