Melancong ke Vanimo, Papua Nugini
Kamis, 04/12/2008 05:35 WIB
Jakarta
Butuh waktu 2 Jam berkendara dari Kota Jayapura, Papua menuju Vanimo, Papua Nugini. Wilayah negeri tetangga dikenal dengan pantainya yang indah. Tapi bagi wanita, jangan sekali-kali bepergian sendirian.
Bersama rombongan dari Deprtamen Luar Negeri dan beberapa wartawan, detikcom pada Rabu (3/12/2008) berkesempatan menengok pintu depan negeri tetangga ini.
Melalui jalan yang berkelol-kelok, melewati kawasan bernama Nafri, Abepante, Yaso, Koya, hingga kemudian setelah 1 jam tiba di perbatasan, atau Skouw-Wutung.
Pos jaga TNI dari Kodam Wirabuana, menyambut di perbatasan. "Kami bertugas selama 1 tahun," ujar seorang prajurit TNI bernama Badarudin.
Selama setahun penuh, 1 tim atau berjumlah 24 orang mengawal perbatasan, sebelum kemudian digantikan pasukan lainnya.
Tidak jauh dari pos tentara, berdiri pos imigrasi yang memeriksa kelengkapan dokumen. Hingga kemudian akhirnya memasuki kawasan Vanimo.
"Kalau penduduk setempat hanya membutuhkan kartu pelintas batas," ucap Pejabat Sementara Konsuler Indonesia di Vanimo, Sutarwidagdo.
Kadang menurut seorang petugas jaga, mereka hanya mengisi buku tamu saja, Namun berdasarkan pantauan beberapa warga Papua Nugini tampak melenggang saja tanpa melalui prosedur resmi.
"Itu karena sesuai adat, jadi mereka merasa masih ada di wilayahnya sendiri. Kebun mereka ada di Indonesia, demikian juga sebaliknya," tambah Sutarwidagdo.
Umumnya selain bertani, warga Vanimo banyak membeli kebutuhan sehari-hari di pasar yang berjarak 50 meter di belakang pos TNI. Pasar itu hanya dibuka pada hari tertentu saja seperti Rabu, Sabtu, dan Minggu.
"Mereka membeli untuk dijual lagi di Vanimo," tambah pria yang akrab disapa Sutar ini.
Bagi warga Indonesia yang berkendara, terpaksa meninggalkan kendaraannya di perbatasan. Kita mesti menaiki kendaraan sewaan menuju Vanimo.
"Ini karena belum ditandatanganinya perjanjian penuh soal perbatasan di kedua negara," tutur Sutar.
Seorang diplomat lainnya menyebutkan, penandatangan ini tertunda karena Presiden SBY memiliki jadwal yang padat untuk meneken join agreement dengan PM Papua Nugini Michael Sumarek.
Dahulu pernah diajukan pada 2005, tapi akhirnya tertunda hingga sekarang. Seandainya perjanjian telah ditandatangani, maka untuk masuk ke wilayah negara tetangga itu hanya butuh pengesahan dokumen dan kemudian kendaraan bisa dibawa menuju Vanimo, seperti halnya di perbatasan Meksiko dan Amerika Serikat.
Perjalanan menuju Vanimo dari perbatasan, selain jalan beraspal mulus yang berdasarkan plang merupakan 'Gift From Australian Government', kita akan melalui jalan yang membelah sungai.
"Kalau hujan dan kemudian banjir, ittu tidak akan bisa dilalui," sebut Sutar.
Tiba di Vanimo, kita akan melihat pantai dan langit yang begitu bersih. "Biasanya, turis atau wisatawan suka surfing di pantai," tutur Sutar.
Tapi ingat, angka kejahatan cukup riskan di kawasan ini. "Angka pengangguran cukup tinggi. Mereka hanya bergantung pada perusahaan penebangan kayu," tutur Sutar.
Memang, di sepanjang jalan perusahaan-perusahaan kayu bertebaran. Umumnya milik pengusaha asal Malaysia. "Mereka mengambil gaji setiap 2 minggu sekali, dan biasanya setelah itu minum-minum," lanjut Sutar.
Apabila tiba waktu pengambilan gaji, akan ada antrian panjang di bank yang ada di kota berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa ini.
"Tapi bank di sini, tidak mau menerima transfer uang dalam jumlah besar. Di sini rawan perampokan," tambah Sutar.
Mata uang Papua Nugini yakni Kina dan 1 Kina sama dengan Rp 4 ribu rupiah. Pasar dan sejumlah warung tradisional bertebaran di sekitar kota ini. Pada umumnya penduduk menjual produk asli berupa buah pinang yang kerap dijual ke warga di Jayapura. Sedang bahan lainnya yang dijual, umumnya berasal dari Indonesia.
Penduduk dalam berbicara menggunakan bahasa setempat yang disebut pidgin. Walau sebenarnya bahasa utama di negeri Papua Nugini yakni bahasa Inggris. Di kota ini, juga terdapat warga Papua, umumnya mereka mantan simpatisan organisasi Papua Merdeka. Pemerintah setempat merelokasi mereka ke beberapa antara lain kawasan yang disebut Black Warra.
Berdasarkan informasi pihak konsuler, sekitar 708 warga akan kembali ke Indonesia pada pertengahan 2009.
Mengunjungi Vanimo, wilayah Peovinsi Sandaun seluas 36 ribu Km2 ini tak lengkap bila tak melihat pantai. Ombak dan pemandangan di sini lumayan indah, Anda pun bisa bersurfing.
Untuk tanda mata atau oleh-oleh dari kota ini sepertinya masih minim, karena selain menebang hutan penduduk hanya bertani dan beternak. Dan pariwisata belum jadi komoditi utama.
Tapi ingat, bila bepergian menuju kota ini melalui perbatasan yang masih dipenuhi hutan jangan dilakukan sore hari. Seorang sopir mengingatkan, perampokan di tengah jalan masih rawan terjadi.
(ndr/irw)
Bersama rombongan dari Deprtamen Luar Negeri dan beberapa wartawan, detikcom pada Rabu (3/12/2008) berkesempatan menengok pintu depan negeri tetangga ini.
Melalui jalan yang berkelol-kelok, melewati kawasan bernama Nafri, Abepante, Yaso, Koya, hingga kemudian setelah 1 jam tiba di perbatasan, atau Skouw-Wutung.
Pos jaga TNI dari Kodam Wirabuana, menyambut di perbatasan. "Kami bertugas selama 1 tahun," ujar seorang prajurit TNI bernama Badarudin.
Selama setahun penuh, 1 tim atau berjumlah 24 orang mengawal perbatasan, sebelum kemudian digantikan pasukan lainnya.
Tidak jauh dari pos tentara, berdiri pos imigrasi yang memeriksa kelengkapan dokumen. Hingga kemudian akhirnya memasuki kawasan Vanimo.
"Kalau penduduk setempat hanya membutuhkan kartu pelintas batas," ucap Pejabat Sementara Konsuler Indonesia di Vanimo, Sutarwidagdo.
Kadang menurut seorang petugas jaga, mereka hanya mengisi buku tamu saja, Namun berdasarkan pantauan beberapa warga Papua Nugini tampak melenggang saja tanpa melalui prosedur resmi.
"Itu karena sesuai adat, jadi mereka merasa masih ada di wilayahnya sendiri. Kebun mereka ada di Indonesia, demikian juga sebaliknya," tambah Sutarwidagdo.
Umumnya selain bertani, warga Vanimo banyak membeli kebutuhan sehari-hari di pasar yang berjarak 50 meter di belakang pos TNI. Pasar itu hanya dibuka pada hari tertentu saja seperti Rabu, Sabtu, dan Minggu.
"Mereka membeli untuk dijual lagi di Vanimo," tambah pria yang akrab disapa Sutar ini.
Bagi warga Indonesia yang berkendara, terpaksa meninggalkan kendaraannya di perbatasan. Kita mesti menaiki kendaraan sewaan menuju Vanimo.
"Ini karena belum ditandatanganinya perjanjian penuh soal perbatasan di kedua negara," tutur Sutar.
Seorang diplomat lainnya menyebutkan, penandatangan ini tertunda karena Presiden SBY memiliki jadwal yang padat untuk meneken join agreement dengan PM Papua Nugini Michael Sumarek.
Dahulu pernah diajukan pada 2005, tapi akhirnya tertunda hingga sekarang. Seandainya perjanjian telah ditandatangani, maka untuk masuk ke wilayah negara tetangga itu hanya butuh pengesahan dokumen dan kemudian kendaraan bisa dibawa menuju Vanimo, seperti halnya di perbatasan Meksiko dan Amerika Serikat.
Perjalanan menuju Vanimo dari perbatasan, selain jalan beraspal mulus yang berdasarkan plang merupakan 'Gift From Australian Government', kita akan melalui jalan yang membelah sungai.
"Kalau hujan dan kemudian banjir, ittu tidak akan bisa dilalui," sebut Sutar.
Tiba di Vanimo, kita akan melihat pantai dan langit yang begitu bersih. "Biasanya, turis atau wisatawan suka surfing di pantai," tutur Sutar.
Tapi ingat, angka kejahatan cukup riskan di kawasan ini. "Angka pengangguran cukup tinggi. Mereka hanya bergantung pada perusahaan penebangan kayu," tutur Sutar.
Memang, di sepanjang jalan perusahaan-perusahaan kayu bertebaran. Umumnya milik pengusaha asal Malaysia. "Mereka mengambil gaji setiap 2 minggu sekali, dan biasanya setelah itu minum-minum," lanjut Sutar.
Apabila tiba waktu pengambilan gaji, akan ada antrian panjang di bank yang ada di kota berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa ini.
"Tapi bank di sini, tidak mau menerima transfer uang dalam jumlah besar. Di sini rawan perampokan," tambah Sutar.
Mata uang Papua Nugini yakni Kina dan 1 Kina sama dengan Rp 4 ribu rupiah. Pasar dan sejumlah warung tradisional bertebaran di sekitar kota ini. Pada umumnya penduduk menjual produk asli berupa buah pinang yang kerap dijual ke warga di Jayapura. Sedang bahan lainnya yang dijual, umumnya berasal dari Indonesia.
Penduduk dalam berbicara menggunakan bahasa setempat yang disebut pidgin. Walau sebenarnya bahasa utama di negeri Papua Nugini yakni bahasa Inggris. Di kota ini, juga terdapat warga Papua, umumnya mereka mantan simpatisan organisasi Papua Merdeka. Pemerintah setempat merelokasi mereka ke beberapa antara lain kawasan yang disebut Black Warra.
Berdasarkan informasi pihak konsuler, sekitar 708 warga akan kembali ke Indonesia pada pertengahan 2009.
Mengunjungi Vanimo, wilayah Peovinsi Sandaun seluas 36 ribu Km2 ini tak lengkap bila tak melihat pantai. Ombak dan pemandangan di sini lumayan indah, Anda pun bisa bersurfing.
Untuk tanda mata atau oleh-oleh dari kota ini sepertinya masih minim, karena selain menebang hutan penduduk hanya bertani dan beternak. Dan pariwisata belum jadi komoditi utama.
Tapi ingat, bila bepergian menuju kota ini melalui perbatasan yang masih dipenuhi hutan jangan dilakukan sore hari. Seorang sopir mengingatkan, perampokan di tengah jalan masih rawan terjadi.
(ndr/irw)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 17:14 WIB
Lulus UN, Siswa SMK I Pekanbaru Sujud Syukur
-
Sabtu, 26/05/2012 17:01 WIB
Pembunuh Ayah dan Anak dengan Linggis di Depok Ditangkap Polisi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:57 WIB
Waspada! Perampasan Motor Berkedok Razia Melibatkan Oknum Polisi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:42 WIB
Bandar Sabu Diciduk di Area Gedung Lembaga Sensor Film
-
Sabtu, 26/05/2012 16:22 WIB
Pencapresan Ical Tergantung Hasil Pemilu 2014
-
Sabtu, 26/05/2012 17:01 WIB
Pembunuh Ayah dan Anak dengan Linggis di Depok Ditangkap Polisi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:57 WIB
Waspada! Perampasan Motor Berkedok Razia Melibatkan Oknum Polisi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:07 WIB
Ini Dia Hasil UN SMA di DKI Jakarta
-
Sabtu, 26/05/2012 15:22 WIB
Lengkapi Izin, Promotor Lady Gaga Diberi Waktu Hingga Senin
-
280 Komentar
-
246 Komentar
-
237 Komentar
-
219 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
