Penyitaan Obat Kuat
Pembuatnya Tak Beda dengan Teroris
Senin, 17/11/2008 17:21 WIB
Jakarta
Sejak tahun 2000, Atjor berdagang berbagai macam obat yang manambah kepercayaan diri kaum adam dalam berhubungan intim. Diakuinya, sekalipun pelanggannya lumayan banyak, tapi kebanyakan transaksi dilakukan saat tanggal muda atau sehabis gajian.
"Langganan saya kalau beli obat kuat sesuai tanggalan. Biasanya habis gajian. Kalau pertengahan bulan apalagi akhir bulan nyaris tidak ada pembeli," terang Atjor saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Itu sebabnya Atjor tidak bisa mengungkapkan berapa omset yang ia dapat selama sebulan dengan berjualan obat. Yang jelas, pria yang membuka usahanya di Jalan Cassablanca, Tebet, Jakarta Selatan ini mengaku, obat-obat kuat yang paling diminati para pelangganya adalah Viagra, Cialis, Nangen, dan Procmil Spray.
Di toko miliknya, puluhan merek obat kuat dijualnya. Ada yang buatan lokal, ada juga impor dari China maupun Amerika Serikat (AS). Harganya pun bervariasi. Ada yang per tablet dijual Rp 50 ribu, ada juga yang dijual mencapai Rp 200 ribu per tabletnya. Selain obat kuat, Atjor juga menjual alat bantu seks.
Terkait obat-obatan yang dijualnya, Atjor mengaku tidak peduli apakah obat kuat yang dijualnya legal atau ilegal. Menurutnya, asal obat itu laku di pasaran, maka ia akan selalu menambah stok obat itu di tokonya. "Sekarang cari makan susah Mas. Bagi saya yang penting dapur bisa ngebul aja," ujarnya.
Untuk menambah pelanggan, Atjor menggunakan media internet untuk memasarkan dagangannya. Di situsnya itu konsumen juga bisa menawar harga yang dijual. Bila harga sudah cocok, pembeli bisa mentransfer uang ke rekening yang tertera dan obat kuat segera diantar ke pembeli.
Karena menggunakan jasa internet, Atjor mengaku tidak terlalu berpengaruh terhadap razia obat kuat yang saat ini dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebab transaskinya dilakukan melalui kurir. Sedangkan yang ada di tokonya adalah obat-obat tradisional resmi.
Namun Atjor berharap, produsen obat kuat yang selama ini beredar secara ilegal segera mendaftarkan produknya supaya tidak berimbas ke pedagang. "Pelanggan saya banyak yang suka beli obat kuat dari China banyak yang telepon. Mereka khawatir obat kuat yang biasa dibelinya tidak edar lagi," ungkapnya.
Menurutnya, obat kuat kuat itu cocok-cocokan. Maksudnya, ada konsumen yang cocoknya dengan obat merek A. Tapi ada juga konsumen yang cocoknya dengan merek B. Jadi konsumen yang sudah jadi langganan biasanya beli obat kuat yang merek itu saja. Kecuali kalau ada obat baru mereka akan beli untuk coba-coba.
Larisnya obat-obat kuat yang beredar di pasaran karena banyak laki-laki di masyarakat terobsesi mitos seks. Obat kuat dianggap sebagai salah satu solusi untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Parahnya lagi, masyarakat kuran teredukasi sehingga termakan oleh khasiat yang ditawarkan, bukan melihat efek yang ditimbulkan.
Soal mitos kekuatan seks di ranjang, seksolog dari Universitas Udayana Wimpie Pangkahila menjelaskan, hal tersebut sangat manusiawi. Setiap orang, khususnya kaum pria, punya obsesi untuk itu.
Tapi sayangnya sebagian besar masyarakat kita masih bodoh masalah tersebut. Akhirnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka mengeruk keuntungan dari jualan obat kuat yang ternyata oplosan.
"Banyak obat herbal yang dioplos dengan obat kuat asli. Padahal tidak mungkin obat herbal bisa menguatkan seks," jelas Wimpie kepada detikcom.
Dijelaskan Wimpie, obat kuat yang asli memang ada. Hanya saja obat tersebut telah melalui sejumlah uji laboratorium dan terbukti berkhasiat dan aman dikonsumsi. Namun obat kuat yang asli harganya sangat mahal sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.
Nah, peluang tersebut kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang ingin cari untung. Mereka kemudian mengoplos obat yang asli dengan obat herbal atau obat tradisional. Sehingga nilai jual jadi murah dan terjangkau. Padahal obat tersebut bisa membahayakan. Dari sejumlah pemberitaan banyak orang yang mati mendadak karena mengkonsumsi obat kuat oplosan tersebut.
"Pemerintah harus menindak tegas para pembuat dan pedagang obat sampai ke pengadilan. Mereka bisa dibilang teroris karena telah membunuh masyarakat secara perlahan," tegas Wimpie.
Selain itu pemerintah perlu mengedukasi masyarakat supaya tidak tertipu dengan iklan-iklan produsen obat kuat. Peran media dianggap Wimpie sangat penting untuk melindungi masyarakat. Setidaknya media massa lebih selektif dalam memuat iklan obat kuat (ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



"Langganan saya kalau beli obat kuat sesuai tanggalan. Biasanya habis gajian. Kalau pertengahan bulan apalagi akhir bulan nyaris tidak ada pembeli," terang Atjor saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Itu sebabnya Atjor tidak bisa mengungkapkan berapa omset yang ia dapat selama sebulan dengan berjualan obat. Yang jelas, pria yang membuka usahanya di Jalan Cassablanca, Tebet, Jakarta Selatan ini mengaku, obat-obat kuat yang paling diminati para pelangganya adalah Viagra, Cialis, Nangen, dan Procmil Spray.
Di toko miliknya, puluhan merek obat kuat dijualnya. Ada yang buatan lokal, ada juga impor dari China maupun Amerika Serikat (AS). Harganya pun bervariasi. Ada yang per tablet dijual Rp 50 ribu, ada juga yang dijual mencapai Rp 200 ribu per tabletnya. Selain obat kuat, Atjor juga menjual alat bantu seks.
Terkait obat-obatan yang dijualnya, Atjor mengaku tidak peduli apakah obat kuat yang dijualnya legal atau ilegal. Menurutnya, asal obat itu laku di pasaran, maka ia akan selalu menambah stok obat itu di tokonya. "Sekarang cari makan susah Mas. Bagi saya yang penting dapur bisa ngebul aja," ujarnya.
Untuk menambah pelanggan, Atjor menggunakan media internet untuk memasarkan dagangannya. Di situsnya itu konsumen juga bisa menawar harga yang dijual. Bila harga sudah cocok, pembeli bisa mentransfer uang ke rekening yang tertera dan obat kuat segera diantar ke pembeli.
Karena menggunakan jasa internet, Atjor mengaku tidak terlalu berpengaruh terhadap razia obat kuat yang saat ini dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebab transaskinya dilakukan melalui kurir. Sedangkan yang ada di tokonya adalah obat-obat tradisional resmi.
Namun Atjor berharap, produsen obat kuat yang selama ini beredar secara ilegal segera mendaftarkan produknya supaya tidak berimbas ke pedagang. "Pelanggan saya banyak yang suka beli obat kuat dari China banyak yang telepon. Mereka khawatir obat kuat yang biasa dibelinya tidak edar lagi," ungkapnya.
Menurutnya, obat kuat kuat itu cocok-cocokan. Maksudnya, ada konsumen yang cocoknya dengan obat merek A. Tapi ada juga konsumen yang cocoknya dengan merek B. Jadi konsumen yang sudah jadi langganan biasanya beli obat kuat yang merek itu saja. Kecuali kalau ada obat baru mereka akan beli untuk coba-coba.
Larisnya obat-obat kuat yang beredar di pasaran karena banyak laki-laki di masyarakat terobsesi mitos seks. Obat kuat dianggap sebagai salah satu solusi untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Parahnya lagi, masyarakat kuran teredukasi sehingga termakan oleh khasiat yang ditawarkan, bukan melihat efek yang ditimbulkan.
Soal mitos kekuatan seks di ranjang, seksolog dari Universitas Udayana Wimpie Pangkahila menjelaskan, hal tersebut sangat manusiawi. Setiap orang, khususnya kaum pria, punya obsesi untuk itu.
Tapi sayangnya sebagian besar masyarakat kita masih bodoh masalah tersebut. Akhirnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka mengeruk keuntungan dari jualan obat kuat yang ternyata oplosan.
"Banyak obat herbal yang dioplos dengan obat kuat asli. Padahal tidak mungkin obat herbal bisa menguatkan seks," jelas Wimpie kepada detikcom.
Dijelaskan Wimpie, obat kuat yang asli memang ada. Hanya saja obat tersebut telah melalui sejumlah uji laboratorium dan terbukti berkhasiat dan aman dikonsumsi. Namun obat kuat yang asli harganya sangat mahal sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.
Nah, peluang tersebut kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang ingin cari untung. Mereka kemudian mengoplos obat yang asli dengan obat herbal atau obat tradisional. Sehingga nilai jual jadi murah dan terjangkau. Padahal obat tersebut bisa membahayakan. Dari sejumlah pemberitaan banyak orang yang mati mendadak karena mengkonsumsi obat kuat oplosan tersebut.
"Pemerintah harus menindak tegas para pembuat dan pedagang obat sampai ke pengadilan. Mereka bisa dibilang teroris karena telah membunuh masyarakat secara perlahan," tegas Wimpie.
Selain itu pemerintah perlu mengedukasi masyarakat supaya tidak tertipu dengan iklan-iklan produsen obat kuat. Peran media dianggap Wimpie sangat penting untuk melindungi masyarakat. Setidaknya media massa lebih selektif dalam memuat iklan obat kuat (ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Minggu, 27/05/2012 00:58 WIB
Gempa 5,0 SR Guncang Bengkulu
-
Sabtu, 26/05/2012 01:27 WIB
Duh! Sepasang Pelajar Kedapatan Mesum di Lantai Parkiran Rumah Sakit
-
Sabtu, 26/05/2012 05:00 WIB
Pelaku Penembak Satpam IPB Sempat Beli Sandal Usai Tinggalkan Motor
-
Sabtu, 26/05/2012 10:59 WIB
Ini Sketsa Wajah Pelaku Penembakan 2 Satpam IPB
-
282 Komentar
-
234 Komentar
-
215 Komentar
-
215 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 6,047.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
