Senin, 03/11/2008 09:30 WIB

Sketsa Pemilu 2009

Melihat Pemilu dari Berbagai Sisi

Didik Supriyanto - detikNews
Jakarta - Pemilu Legislatif 2009 jatuh pada 9 April 2009, 154 hari lagi. Jadwal itu tak bisa digeser. Dimajukan tak mungkin, karena persiapan logisitik butuh waktu cukup; dimolorkan apalagi, karena bisa mengundur pelaksanaan Pemilu Presiden 2009. Jika pilpres mundur, presiden dan wakil presiden terpilih tak bisa dilantik pada 20 Oktober 2009. Padahal pada hari itu masa jabatan SBY-Kalla sudah habis.

Apa jadinya bila presiden dan wakil presiden lama sudah habis masa jabatan, sementra pejabat baru belum terpilih? Konstitusi tidak mengatur secara jelas mengenai hal ini, sehingga wajar saja banyak pihak khawatir, jika melihat KPU mengundurkan jadwal kegiatan pemilu yang direncanakan sendiri. Penetapan daftar pemilih tetap (DPT) diundur, demikian juga penetapan Daftar Calon Tetap (DCT). Sebelumnya KPU yang memundurkan jadwal pengumuman partai politik peserta pemilu.


Memang bukan hal yang gampang merencanakan, menyiapkan dan melaksanakan pemilu di Indonesia. Di negeri ini pemilu melibatkan lebih dari 150 juta pemilih, yang pada satu hari H pemilihan harus memilih empat pejabat publik: anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Inilah pemilu terbesar di jagad.

Oleh karena itu mengikuti proses pemilu dan mengkritisinya setiap saat adalah penting. Tak apa para penyelenggara, peserta pemilu dan para calon anggota legislatif (caleg), merah kuping. Tapi itu semua kita lakukan agar perhelatan politik ini sukses: prosesnya sesuai aturan main, hasilnya (para calon terpilih) bisa bekerja maksimal nantinya. Intinya, kita semua punya kewajiban untuk menjaga integritas pemilu.

Pemilu sendiri bisa dilihat dari banyak sisi: sistem, aktor, tahapan, manajemen, pembiayaan, etika, penegakan hukum dll. Semua menunjukkan, bahwa pemilu adalah masalah teknis, bagaimana mengkonversi suara rakyat menjadi kursi.

Namun dalam melihat persoalan pemilu, kita tak boleh terjebak pada masalah teknis semata. Bagaimanapun pemilu sesungguhnya adalah instrumen demokrasi. Sebagai alat demokrasi, pemilu berusaha mendekati obsesi demokrasi: pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat.

Kolom Sketsa Pemilu 2009 ini akan muncul setiap hari untuk melihat dan mengikuti proses pemilu dari berbagai sisi. Sekadar berpartisipasi untuk mensukseskan pemilu, sekaligus meneguhkan jalan demokrasi yang telah kita pilih. Kritik saran sangat diharapkan.



* Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.



Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(diks/iy)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
68%
Kontra
32%