detikcom

Pembunuhan Mutilasi

Saat Sangat Cinta Berubah Sangat Benci

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 27/10/2008 17:40 WIB
Jakarta Tas kresek yang dibuang di lahan kosong dekat SD Negeri Ragunan XIV Pagi, mengejutkan warga Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan, 12 Juli 2008 lalu. Isi tas kresek itu ternyata potongan kepala manusia berjenis kelamin laki-laki. Tak jauh dari lokasi penemuan kepala juga ditemukan dua koper berisi potongan tubuh manusia.

Polisi yang mendapat laporan bergegas ke lokasi penemuan mayat mutilasi tersebut. Awalnya polisi kesulitan mengidentifikasi mayat, lantaran tidak ada tanda identitas apa pun di sekitar mayat. Tapi keesokan harinya, mayat pria berkulit putih, rambut pendek, hidung mancung, mata coklat dan memiliki tinggi sekitar 170 centimeter tersebut dapat teridentifikasi.

Korban mutilasi itu diketahui bernama Heri Santoso yang berprofesi sebagai salesman, tinggal di Bekasi. Pria berusia 40 tahun tersebut punya seorang istri dan satu orang anak. Begitu indentitas korban menemui titik terang, polisi kemudian mengembangkan penyelidikan. Pencarian terhadap para pelaku segera dilakukan.

Usut punya usut, pelaku mutilasi itu diketahui bernama Very Idam Henyansah alias Ryan, pasangan homoseksual Novel Andrias. Heri Santoso dibunuh gara-gara 'menganggu' Novel. Ryan cemburu. Dari penyidikan, polisi juga terungkap kalau Ryan membunuh dan memotong-motong tubuh Heri di kontrakan Ryan di apartemen Margonda Depok.

Kisah sadis Ryan ternyata tidak sampai di situ. Belakangan diketahui Ryan sebelumnya telah membunuh sebanyak 10 orang yang dikubur di pekarangan rumahnya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Korban-korban kebiadaban Ryan adalah; Guruh Setyo Pramono (25) warga jalan Wilis Desa Kedondong, Kecamatan Bagor Nganjuk, Grandy (25), Vincentius Yudhy Priyono (30) asal Solo, Ariel Somba Sitanggang (34) warga Cimanggis, Depok, Nani Hidayati (31) dan Silvia Ramadhani (3), warga Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Jombang, Zainul Abidin (21), warga Dapurkejambon, Kecamatan Jombang, M. Aksoni (29), warga Desa Slawe Kecamatan Tarik, Sidoarjo, Agustinus Setyawan (28), warga Jl Dr Soetomo, Jombang, serta Asrori alias Aldo (21), warga Jombang.

Rangkaian pembunuhan yang dilakukan Ryan tentu sangat menggegerkan masyarakat. Sebab cara pembunuhan itu terbilang sadis dan menakutkan.

Belum juga reda kengerian kasus Ryan, masyarakat kembali dikejutkan dengan penemuan mayat terpotong 13. Korban mutilasi tersebut ditemukan dalam bus Mayasari Bakti P64 jurusan Kalideres-Pulogadung, dua hari sebelum lebaran, 29 September 2008. Potongan mayat itu ditaruh pelaku di jok bagian belakang bus tersebut.

Sebulan kemudian kasus mutilasi itu akhirnya terungkap polisi. Setelah sempat menjadi misteri, Korban akhirnya diketahui bernama Hendra, warga asal Riau, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk. Sedangkan pelaku mutilasi tak lain adalah istri ke-empat Hendra yang berinisial ATK.

ATK yang tinggal di Kota Bumi, Tangerang, Banten kemudian berhasil dicokok petugas saat sedang bertamu ke rumah kerabatnya di Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (25/10/2008) lalu.

Sementara dari Cibinong, Bogor, jasad seorang perempuan muda ditemukan di kebun bambu yang terletak di Kampung Rajek, Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (20/10/2008). Saat Atika, nama korban tersebut, ditemukan, dua telapak tangannya hilang alias dimutilasi.

Belakangan diketahui kalau pembunuh Atika adalah Entong, suaminya sendiri. Pria berusia 60 tahun tersebut mengaku membunuh Atika karena cemburu. Selain itu istri keduanya ini ditengarai sering minta-minta uang ke sejumlah orang.

Beberapa kasus mutilasi merupakan catatan seram tindak kriminalitas yang terjadi di tahun 2008. Namun bagi Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala, gejala peningkatan tersebut hanya bersifat kontraksi. Bukan menjadi tren.

"Kalau disebut tren tentu harus ada pembandingnya. Misalnya catatan mutilasi tahun 2006, 2007, dan 2009. Sehingga bisa dibandingkan," jelas Adrianus Meliala saat dihubungi detikcom, Senin (27/10/2008).

Adrianus juga melihat, dari kasus-kasus mutilasi yang terjadi pada tahun 2008 ini, hal ini merupakan kasus domestik, yakni perselisihan antara orang dekat dan yang tidak punya catatan kriminal sebelumnya. "Pelakunya bukan dari sekelompok orang atau kelompok kriminal. Tapi dilakukan oleh orang dekat yang justru tidak punya catatan kriminal," imbuhnya.

Dari analisa yang dilakukan pengajar pada Program Pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian UI, alasan mutilasi yang dilakukan karena adanya perubahan radikal dari perasaan pelakunya. Perasaan cinta dan sayang dari seorang, ujar Adrianus, bisa berubah menjadi benci yang teramat sangat bila pasangannya itu kemudian mengecewakan.

"Perubahan perasaan yang sangat radikal. Dari teramat cinta kemudian sangat benci, membuat seseorang jadi gelap mata dan melakukan pembunuhan sadis. Misalnya memutilasi," ujar dia.
(ddg/asy)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel