FPKS: Jangan Mengedepankan Pornografi Atas Nama Seni
Rabu, 17/09/2008 12:43 WIB
Jakarta
Sejumlah artis dan seniman memprotes RUU pornografi. Namun FPKS yakin UU pornografi ini tidak akan menghambat kreativitas seniman karena seni dan pornografi adalah dua hal yang berbeda.
"Seni dan pornografi bukanlah sesuatu yang sama, jangan mengedepankan pornografi atas nama seni,” ujar anggota Panitia Khusus (Pansus) RUU Pornografi dari FPKS Hilman Rosyad Syihab dalam keterangan pers yang dikirim ke redaksi detikcom, Rabu (17/9/2008).
Hilman yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI menilai, pornografi tidak terkait agama maupun budaya tertentu. Pornografi sangat bertentangan dengan moral dan berbahaya dan akan menyebabkan sakit mental.
"Kita tahu banyak perkosaan terhadap anak di bawah umur, banyak remaja yang sudah kecanduan nonton film porno serta banyak wanita yang menjadi subjek pornografi akibat jeratan ekonomi. Semua terjadi karena materi pornografi banyak beredar tanpa kendali hukum yang memadai," paparnya.
Hilman juga yakin tidak akan ada disintegrasi bangsa karena RUU pornografi ini. "Tidak ada suku dan agama mana pun di negeri ini yang mendukung pornografi, jadi di mana letak disintegrasi-nya?" ungkap Hilman.
Hilman mengimbau kepada semua pihak untuk secara obyektif menerima RUU Pornografi demi kepentingan dan martabat bangsa. Bila RUU dipahami dengan baik, maka tidak ada substansi yang perlu dikhawatirkan.
"Tidak ada yang perlu ditakuti dari RUU ini," pungkasnya.
(rdf/iy)
"Seni dan pornografi bukanlah sesuatu yang sama, jangan mengedepankan pornografi atas nama seni,” ujar anggota Panitia Khusus (Pansus) RUU Pornografi dari FPKS Hilman Rosyad Syihab dalam keterangan pers yang dikirim ke redaksi detikcom, Rabu (17/9/2008).
Hilman yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI menilai, pornografi tidak terkait agama maupun budaya tertentu. Pornografi sangat bertentangan dengan moral dan berbahaya dan akan menyebabkan sakit mental.
"Kita tahu banyak perkosaan terhadap anak di bawah umur, banyak remaja yang sudah kecanduan nonton film porno serta banyak wanita yang menjadi subjek pornografi akibat jeratan ekonomi. Semua terjadi karena materi pornografi banyak beredar tanpa kendali hukum yang memadai," paparnya.
Hilman juga yakin tidak akan ada disintegrasi bangsa karena RUU pornografi ini. "Tidak ada suku dan agama mana pun di negeri ini yang mendukung pornografi, jadi di mana letak disintegrasi-nya?" ungkap Hilman.
Hilman mengimbau kepada semua pihak untuk secara obyektif menerima RUU Pornografi demi kepentingan dan martabat bangsa. Bila RUU dipahami dengan baik, maka tidak ada substansi yang perlu dikhawatirkan.
"Tidak ada yang perlu ditakuti dari RUU ini," pungkasnya.
(rdf/iy)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 16:57 WIB
Waspada! Perampasan Motor Berkedok Razia Melibatkan Oknum Polisi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:42 WIB
Bandar Sabu Diciduk di Area Gedung Lembaga Sensor Film
-
Sabtu, 26/05/2012 16:22 WIB
Pencapresan Ical Tergantung Hasil Pemilu 2014
-
Sabtu, 26/05/2012 16:21 WIB
Keluarga Korban Sukhoi Belum Dikontak Soal Asuransi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:19 WIB
Panic Button Bagi Minimarket di Jakarta Masih Dalam Tahap Uji Coba
-
Sabtu, 26/05/2012 16:07 WIB
Ini Dia Hasil UN SMA di DKI Jakarta
-
Sabtu, 26/05/2012 15:22 WIB
Lengkapi Izin, Promotor Lady Gaga Diberi Waktu Hingga Senin
-
Sabtu, 26/05/2012 16:22 WIB
Pencapresan Ical Tergantung Hasil Pemilu 2014
-
Sabtu, 26/05/2012 16:00 WIB
Avanza Terguling di Tol Jagorawi, Sopir Luka Ringan
-
279 Komentar
-
246 Komentar
-
237 Komentar
-
216 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 6,047.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message
.gif)

_2.gif)
_3.gif)
