Vonis Mati Sesuai Ajaran Islam
Sabtu, 19/07/2008 17:25 WIB
Jakarta
Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) Umar Shihab membenarkan vonis mati yang dikenakan Sumiarsih dan Sugeng sesuai hukum Islam. Dalam Islam disebutkan seseorang yang sengaja menghilangkan nyawa orang lain akan mendapat hukuman mati.
"Kalau memang mereka membunuh dengan sengaja, saya anggap hukuman itu boleh-boleh saja," ujar Umar pada detikcom, Sabtu (19/7/2008).
"Apa yang berlaku di Indonesia ini sudah benar. Kan untuk membuat jera untuk orang lain," lanjut Umar.
Kendati demikian, hukuman itu bisa menjadi pengecualian jika keluarga korban yang dibunuh memaafkan tindakan pelaku.
"Kecuali keluarga yang dibunuh memberi maaf," imbuh Umar.
Vonis mati juga bisa diberlakukan bagi mereka yang terlibat kasus narkoba. Sebab menurut Umar, peredaran barang haram itu berdampak buruk bagi tubuh manusia. Bahkan tak jarang mereka meninggal karena mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu.
"Kalau narkoba bisa dianggap juga membunuh," katanya.
Berbeda dengan mereka yang terlilit kasus korupsi, menurut Umar, hukuman mati bagi koruptor dinilai terlalu kejam. Sebagai gantinya, Umar mengatakan pelaku diberi hukuman penjara lebih lama.
"Koruptor memang membuat orang jatuh miskin dan tidak bisa makan. Tapi koruptor tidak bisa dianalogikan dengan pembunuh," katanya.
Namun Umar tidak menampik, efek jera untuk koruptor juga diajarkan dalam Islam. "Kalau di Islam potong tangan. Itu juga berlaku untuk pencuri. Tapi kan dimaksudkan memberikan jera agar tidak melakukan korupsi kedua," pungkas Umar. (ptr/ana)
"Kalau memang mereka membunuh dengan sengaja, saya anggap hukuman itu boleh-boleh saja," ujar Umar pada detikcom, Sabtu (19/7/2008).
"Apa yang berlaku di Indonesia ini sudah benar. Kan untuk membuat jera untuk orang lain," lanjut Umar.
Kendati demikian, hukuman itu bisa menjadi pengecualian jika keluarga korban yang dibunuh memaafkan tindakan pelaku.
"Kecuali keluarga yang dibunuh memberi maaf," imbuh Umar.
Vonis mati juga bisa diberlakukan bagi mereka yang terlibat kasus narkoba. Sebab menurut Umar, peredaran barang haram itu berdampak buruk bagi tubuh manusia. Bahkan tak jarang mereka meninggal karena mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu.
"Kalau narkoba bisa dianggap juga membunuh," katanya.
Berbeda dengan mereka yang terlilit kasus korupsi, menurut Umar, hukuman mati bagi koruptor dinilai terlalu kejam. Sebagai gantinya, Umar mengatakan pelaku diberi hukuman penjara lebih lama.
"Koruptor memang membuat orang jatuh miskin dan tidak bisa makan. Tapi koruptor tidak bisa dianalogikan dengan pembunuh," katanya.
Namun Umar tidak menampik, efek jera untuk koruptor juga diajarkan dalam Islam. "Kalau di Islam potong tangan. Itu juga berlaku untuk pencuri. Tapi kan dimaksudkan memberikan jera agar tidak melakukan korupsi kedua," pungkas Umar. (ptr/ana)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 03:49 WIB
Pilkada DKI, Survei dengan Minim Responden Tidak Akurat
-
Sabtu, 26/05/2012 02:54 WIB
Pasca Bentrok Warga dengan PTPN 2 di Deli Serdang, 1 Rumah Dibakar
-
Sabtu, 26/05/2012 02:02 WIB
Usut Hambalang, KPK Gunakan Pendekatan Maksimalis
-
Sabtu, 26/05/2012 01:27 WIB
Duh! Sepasang Pelajar Kedapatan Mesum di Lantai Parkiran Rumah Sakit
-
Sabtu, 26/05/2012 00:48 WIB
Jenazah Praja IPDN Yudhi Dimakamkan Tengah Malam di Medan
-
Sabtu, 26/05/2012 01:27 WIB
Duh! Sepasang Pelajar Kedapatan Mesum di Lantai Parkiran Rumah Sakit
-
Sabtu, 26/05/2012 02:02 WIB
Usut Hambalang, KPK Gunakan Pendekatan Maksimalis
-
Sabtu, 26/05/2012 00:48 WIB
Jenazah Praja IPDN Yudhi Dimakamkan Tengah Malam di Medan
-
Jumat, 25/05/2012 12:58 WIB
Ruhut: Selamat dari Insiden Ternate, Anas Harus Berterimakasih kepada Ibas
-
275 Komentar
-
243 Komentar
-
234 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,847.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message
.gif)

_2.gif)
_3.gif)
