Detik.com News
Detik.com

Jumat, 30/05/2008 16:43 WIB

Berburu Dana Miliaran Rupiah

Harta Karun Soekarno, Samurai, Hingga Harta Ahmad Zaini

Bagus Kurniawan - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Kasus penipuan harta karun peninggalan Presiden Soekarno, baik dalam bentuk emas lantakan, surat-surat berharga di Bank Swiss, di Batu Tulis Bogor hingga harta Rp 18.000 triliun milik Ahmad Zaini sampai sekarang masih ramai dibicarakan. Orang yang menjadi korban pun tidak hanya masyarakat tingkat bawah yang mengalami kesulitan ekonomi, tapi orang-orang kaya dan pengusaha.

Mereka percaya harta karun peninggalan Soekarno yang berupa emas lantakan, perhiasan emas permata dan platina peninggalan zaman-zaman kerajaan di Nusantara tersimpan di Bank of Switzerland atau di Union Bank of Switzerland. Sedang surat-surat deposito, surat kolateral dikabarkan tersimpan di sana dan hanya orang-orang tertentu yang masuk jaringan kelompok/mafia itu yang bisa mencairkannya.

Embel-embel yang selalu didengungkan kepada calon sasaran, bila dana itu cair bisa untuk bayar utang Indonesia dan menyantuni rayat miskin seluruh Indonesia. Untuk mendapatkannya, bumbu-bumbu klenik dan mistik pun muncul.
Selain itu orang yang ingin mendapat hibah itu juga harus mengeluarkan uang tidak sedikit jumlahnya.

Berdasar penulusuran detikcom, kasus-kasus seperti itu sudah mulai muncul sejak tahun 1998 hingga sekarang. Selain hibah harta karun Soekarno, yang masih ramai dicari adalah samurai-samurai peninggalan tentara Jepang di Indonesia yang bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Konon samurai-samurai itu masih banyak disimpan oleh orang-orang tertentu baik di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Cara memperolehnya juga secara gaib lewat puasa, sesajen, dan lain-lain. Bahkan di kawasan Pantai Jalasutra Kabupaten Blitar Jawa Timur dipercaya sebagai tempat pahlawan tentara PETA Supriadi menyimpan samurai sebelum dibunuh tentara Jepang.

Untuk bisa bertransaksi dan mengetahui mana yang asli atau palsu, kelompok ini juga sudah menyebarkan berbagai brosur fotokopian. Lagi-lagi tebusan uang atau mahar disertai bumbu aroma klenik dan magis juga tersebar.

Cara-cara menggaet masyarakat untuk ikut pun bermacam-macam. Ada yang berkedok menggunakan nama sebuah yayasan. Adapula pula dengan cara perseorangan yang mendapat wasiat atau amanah dapat mencairkan dana. Aroma magis dan bumbu klenik seperti laku tapa dan prihatin juga selalu menyertai.Next

Halaman 1 2

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(bgs/asy)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Tolak APBD DKI 2015, Parpol Lembek dan Mengecewakan

DPRD DKI menolak penggunaan APBD DKI 2015 setelah tak mau membahasnya lewat rapat Badan Anggaran. Tokoh antikorupsi Buya Syafii Maarif mengatakan sikap partai lembek dan mengecewakan. "Mereka menolak isu anggaran siluman tetapi mendukung atau tidak menarik diri dari Hak Angket. Padahal, Ahok diangket karena jelas menolak anggaran siluman itu," kata Buya Syafii. Bila Anda setuju pendapat Buya Syafii, pilih Pro!
Pro
100%
Kontra
0%