'Amplop Coklat' Bagi Wakil Rakyat di Senayan
Sabtu, 12/04/2008 06:59 WIB
Jakarta
Cerita amplop coklat atau yang disebut gratifikasi dari mitra kerja bagi wakil rakyat bukan hanya isapan jempol. Secuil pengalaman politisi di Senayan membuktikannya.
Jalaludin As-Satibi kaget bukan main. Amplop coklat yang diberikan orang tidak dikenal itu berisi uang Rp 30 juta. Uang itu diterimanya saat melakukan kunjungan lapangan ke Kepulauan Riau, medio Desember 2007 lalu.
"Itu uang tidak jelas, saya tidak tahu siapa yang memberikan," kata Jalaludin yang juga anggota Komisi IV DPR saat berbincang dengan detikcom, Jumat (11/4/2008).
Uang itu pun diterimanya sesaat mendarat di Hang Nadim Batam. "Itu diberikan di ruang VIP. Saya juga tidak tahu untuk apa," tambahnya.
Tidak hanya sampai di situ, sekitar 15 menit kemudian pesawat merpati yang membawa rombongan sekitar 15 anggota DPR Komisi IV, serta 5 lainnya dari Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian pun segera berangkat. Dari Batam, rombongan melanjutkan perjalanan menuju suatu wilayah di Riau.
"Di sana di hotel tempat beristirahat, saya lupa di mana, mungkin di Bintan, ada orang yang tidak dikenal kembali memberikan amplop," tutur politisi PKS ini.
Ada 3 amplop yang diberikan, 1 berisi Rp 5 juta, dan 2 lainnya masing-masing berisi Rp 10 juta. "Total sudah Rp 55 juta yang diberikan pada saya," imbuh Jalaludin.
Jalaludin pun tidak mau mengambil resiko. Dia lantas mengontak kawannya di KPK mengenai pemberian uang ini. "Kebetulan saya memang sering main ke sana, sering khutbah," tutur pria berusia 57 tahun yang juga pengasuh pesantren di Cianjur ini.
Pada 7 Januari 2008, uang itu pun dia berikan ke KPK, setelah dirinya berkonsultasi ke DPP PKS. "Saya punya kwitansi pengembaliannya," lanjutnya.
Apakah rombongan lain juga menerima amplop coklat berisi uang gratifikasi yang kemungkinan dari Pemprov dan Pemda setempat ? "Saya tidak melihat, saya tidak mau berburuk sangka. Kita rombongan tidak ada yang saling membicarakan," jelasnya.
Sebagai wakil rakyat, bukan pertama kali Jalaludin menerima amplop saat melakukan kunjungan kerja atau kunjungan lapangan. Antara lain, kala di Komisi VIII, dia pun pernah menemui hal serupa.
Saat melakukan kunjungan ke NTB dia mendapat amplop Rp 1,5 juta, demikian pula saat ke Sulawesi Barat, pihak Pemda memberikan uang Rp 2 juta.
"Saya tidak tahu apa motif mereka memberikan amplop, saya pikir ini seperti suap, mungkin saja untuk memperlancar keinginan mereka dalam mengajukan program," tandasnya mengakhiri perbincangan. (ndr/)
Jalaludin As-Satibi kaget bukan main. Amplop coklat yang diberikan orang tidak dikenal itu berisi uang Rp 30 juta. Uang itu diterimanya saat melakukan kunjungan lapangan ke Kepulauan Riau, medio Desember 2007 lalu.
"Itu uang tidak jelas, saya tidak tahu siapa yang memberikan," kata Jalaludin yang juga anggota Komisi IV DPR saat berbincang dengan detikcom, Jumat (11/4/2008).
Uang itu pun diterimanya sesaat mendarat di Hang Nadim Batam. "Itu diberikan di ruang VIP. Saya juga tidak tahu untuk apa," tambahnya.
Tidak hanya sampai di situ, sekitar 15 menit kemudian pesawat merpati yang membawa rombongan sekitar 15 anggota DPR Komisi IV, serta 5 lainnya dari Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian pun segera berangkat. Dari Batam, rombongan melanjutkan perjalanan menuju suatu wilayah di Riau.
"Di sana di hotel tempat beristirahat, saya lupa di mana, mungkin di Bintan, ada orang yang tidak dikenal kembali memberikan amplop," tutur politisi PKS ini.
Ada 3 amplop yang diberikan, 1 berisi Rp 5 juta, dan 2 lainnya masing-masing berisi Rp 10 juta. "Total sudah Rp 55 juta yang diberikan pada saya," imbuh Jalaludin.
Jalaludin pun tidak mau mengambil resiko. Dia lantas mengontak kawannya di KPK mengenai pemberian uang ini. "Kebetulan saya memang sering main ke sana, sering khutbah," tutur pria berusia 57 tahun yang juga pengasuh pesantren di Cianjur ini.
Pada 7 Januari 2008, uang itu pun dia berikan ke KPK, setelah dirinya berkonsultasi ke DPP PKS. "Saya punya kwitansi pengembaliannya," lanjutnya.
Apakah rombongan lain juga menerima amplop coklat berisi uang gratifikasi yang kemungkinan dari Pemprov dan Pemda setempat ? "Saya tidak melihat, saya tidak mau berburuk sangka. Kita rombongan tidak ada yang saling membicarakan," jelasnya.
Sebagai wakil rakyat, bukan pertama kali Jalaludin menerima amplop saat melakukan kunjungan kerja atau kunjungan lapangan. Antara lain, kala di Komisi VIII, dia pun pernah menemui hal serupa.
Saat melakukan kunjungan ke NTB dia mendapat amplop Rp 1,5 juta, demikian pula saat ke Sulawesi Barat, pihak Pemda memberikan uang Rp 2 juta.
"Saya tidak tahu apa motif mereka memberikan amplop, saya pikir ini seperti suap, mungkin saja untuk memperlancar keinginan mereka dalam mengajukan program," tandasnya mengakhiri perbincangan. (ndr/)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Senin, 21/05/2012 17:42 WIB
Peneliti Jerman Hingga Singapura Tertarik 'Nimbrung' di Gunung Padang
-
Senin, 21/05/2012 17:30 WIB
45 Ambulans Disiapkan untuk Bawa Jenazah Korban Sukhoi dari RS Polri
-
Senin, 21/05/2012 17:23 WIB
Kini Ada Kampung Sukhoi di Cijeruk
-
Senin, 21/05/2012 17:17 WIB
Ini Batu Beraksara di Situs Gunung Padang
-
Senin, 21/05/2012 17:15 WIB
Soal Polemik Lady Gaga, Istana: Polri Tak Memihak Golongan Tertentu
-
Senin, 21/05/2012 15:27 WIB
Ini Syarat Polri untuk Konser Lady Gaga
-
Senin, 21/05/2012 16:58 WIB
Kasasi Ditolak, 2 Eks Pemain Liga Indonesia Dihukum 18 Tahun Bui
-
Senin, 21/05/2012 17:17 WIB
Ini Batu Beraksara di Situs Gunung Padang
-
Senin, 21/05/2012 14:45 WIB
FPI Pegang 150 Tiket Lady Gaga, Polisi: Pengamanan Disiagakan!
-
661 Komentar
-
443 Komentar
-
357 Komentar
-
347 Komentar
Lapsus
Index »
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 5,978.000
- Rp 2,776.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message




_(baru).gif)

_2.gif)
(2).gif)
