detikcom

Senin, 11/02/2008 08:27 WIB

Tutut Kembali ke Golkar (1)

Pulangnya Si Anak Hilang

Deden Gunawan - detikNews
Jakarta - Partai Golkar jelas berusaha keras membangun citra mantan Presiden Soeharto di akhir hayatnya. Saat Soeharto kesehatannya kritis di RS Pusat Pertamina, para petinggi Golkar terlihat mudik membesuk. Begitupun ketika Soeharto wafat. Di Senayan, Fraksi Partai Golkar tidak kalah getolnya mempelopori pengampunan kasus-kasus Soeharto. Sampai setelah wafatnya, partai orde baru ini juga ngotot melobi sejumlah pihak untuk memberi gelar pahlawan bagi Soeharto.

Upaya ini rupanya membuat keluarga Cendana senang. Putri sulung almarhum mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana yang akrab dipanggil Mbak Tutut kemudian menyampaikan penghargaan sekaligus terima kasih kepada DPP Partai Golkar atas berbagai perhatian selama ayahnya dirawat hingga proses pemakaman.

Kerja keras beberapa petinggi Golkar, membuat Tutut luluh dan menyatakan siap untuk mulai bekerja dan mengabdi sebagai kader Partai Golkar. Ia pun siap terjun lagi ke kancah politik.

Kembalinya Tutut ke "naungan" partai beringin tentu membuat kejutan. Sebab sejak lengsernya Soeharto dari kursi presiden, 21 Mei 1998, keluarga cendana mulai pecah kongsi dengan Golkar. Bagi keluarga Soeharto, mesin politik yang telah dibesarkannya itu, telah mbalelo karena menjadi salah satu pencetus pengunduran diri Soeharto. R Hartono, Jenderal Purn TNI yang setia kepada Soeharto mengatakan, keluarga Cendana murka kepada Golkar. "Karena banyak orang Golkar pada 1998 turut berperan menurunkan Soeharto," ujarnya.

Ketika aksi gedung DPR dikuasai mahasiswa Mei 1998, Harmoko, Ketua Umum Golkar yang juga Ketua DPR/MPR, sempat mengeluarkan statemen bahwa Soeharto harus turun dari jabatannya sebagai presiden. Pernyataan Harmoko inilah yang disebut-sebut sebagai penyebab sehingga Soeharto mengundurkan diri.

Bukan hanya soal Harmoko. Beberapa elit Golkar juga diketahui keluarga Cendana mulai tidak patuh lagi kepada Soeharto sejak tahun 1997. Ekspansi anak-anak Soeharto, seperti Tutut dan Bambang Trihatmojo, yang kemudian mulai ikut campur terlalu banyak di Golkar jadi penyebabnya. Bahkan Tutut yang saat itu menjabat Menteri Sosial, ramai disebut sudah digadang Soeharto untuk menggantikan Harmoko. Angan-angan Soeharto begini, dengan menjadi orang nomer satu di Golkar diharapkan bisa memuluskan langkah Tutut menjadi presiden.

Namun rencana sang jenderal besar itu kandas di tengah jalan. Soalnya beberapa elit di Golkar tidak senang dengan kehadiran "putri mahkota" di Golkar. Pergunjingan pun sempat merebak di intern partai maupun di luar. Salah seorang pengurus yang sempat mengungkapkan kekecewaannya adalah Slamet Effendi Yusuf, salah seorang pengurus di DPP.

Dalam buku 'The Golkar Way' disebutkan, Slamet merasa tidak senang dengan penetapan Bambang Tri sebagai bendahara dan Tutut sebagai salah seorang ketua. "Banyak orang jungkir balik untuk mencapai struktur kepengurusan. Tapi ada yang di pusat kekuasaan tiba-tiba saja menjadi bendahara dan ketua," ujar Slamet seperti yang tertulis dalam buku tersebut.

Setelah pisah dengan Golkar, Tutut kemudian mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) bersama mantan Sekjen Golkar Ary Marjono dan mantan Mendagri R Hartono. Partai ini kemudian mencalonkan Tutut sebagi presiden dalam Pemilu 2004. Tapi upaya itu pun kandas. Sebab partai itu tidak memperoleh suara yang signifikan. Dari hasil pemilu legislatif PKPB hanya menghasilkan dua perwakilannya di DPR.

Kata Ary Marjono, bekas Sekretaris Jenderal PKPB, Tutut sudah tidak aktif sejak 2004. Alasannya, Tutut agak lelah jika harus berjuang membesarkan partai yang resmi berdiri sejak 9 September 2002, itu. Praktis sejak saat itu Tutut pelan-pelan menghilang dari kancah politik. Ia lebih sering menemani dan mengurus bapaknya, Soeharto yang sering sakit-sakitan.

Belakangan, setelah Soeharto mangkat, ia menyatakan diri akan berjuang di Golkar. Bagi Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla, pernyataan Tutut itu bukan hal baru. Sebab dari dulu hingga sekarang, lanjut Kalla, Tutut tetap kuning. "Dari dulu Mbak Tutut memang fungsionaris Golkar, jadi bukan merapat kembali," kata Wapres Kalla.

Tapi ungkapan Kalla dianggap mengada-ada oleh kubu Cendana. Sebab sejak kelengseran Soeharto, keluarga Cendana sudah tidak aktif lagi di Golkar. Buktinya, saat Tutut, menyatakan kesiapannya menjadi calon presiden, 2004 lalu, ia menyatakan kalau dirinya telah keluar dari Golkar. Pernyataan ini disampaikan dalam jumpa pers di Hotel Le Meridien, 9 Pebruari 2004. "Waktu itu Mbak Tutut didampingi Probosutedjo dan pengurus PKPB," ujar orang dekat Cendana kepada detikcom.

Hal ini kemudian dipertegas Hartono, Ketua Umum PKPB. Jenderal asal Madura ini mengaku tidak yakin jika keluarga Cendana balik ke Golkar. "Tidak mungkin Tutut dan adik-adiknya mau berkumpul dengan para pengkhianat yang tak bermoral sama sekali," katanya.

Pernyataan Hartono tersebut terkait dengan manuver elit Golkar yang turut serta dalam proses pengunduran diri Soeharto, 21 Mei 1998. Beberapa elit Golkar yang duduk di Kabinet Pembangunan VII, saat itu tidak mau membantu Kabinet Reformasi yang dicetus Soeharto. Hal inilah yang membuat Soeharto terpaksa mundur.

Namun bagi Akbar Tandjung, mantan Mensesneg yang mundur ikut mundur pada akhir masa jabatan Soeharto, ungkapan 'brutus' itu berlebihan. Sebab ia bersama Ginandjar Kartasasmita--saat itu Menko Ekuin/ Ketua Bappenas--dan beberapa menteri lain sempat mengajukan solusi mengakhiri krisis moneter. Meskipun para menteri itu kemudian menolak diikutsertakan dalam kabinet baru, Akbar mengatakan, "Saya tidak pernah mengkhianati Pak Harto," kilah Akbar kepada detikcom.

Bekas Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar ini juga mengaku hubungannya masih terjalin baik dengan Soeharto beserta keluarganya pascalengsernya Soeharto. Ia pun mengaku sempat meminta restu Soeharto saat hendak mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

Pastinya, kembali aktifnya Tutut di Golkar menambah darah segar Partai Golkar.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(ddg/iy)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Biarkan Ahok Pilih Pendampingnya Pimpin DKI

Siapa bakal pendamping Plt Gubernur DKI Ahok? Masih menjadi pro kontra antara parpol di DPRD DKI dan Kemendagri. Kemendagri memastikan Plt Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo. Setelah diberhentikan sebagai Wagub dan Plt Gubernur dan diangkat menjadi Gubernur, Ahok bisa memilih dua orang untuk menjadi wakilnya. Bila Anda setuju dengan Kemendagri, pilih Pro!
Pro
76%
Kontra
24%