Detik.com News
Detik.com
Jumat, 19/10/2007 09:09 WIB

Ludes Terbakar

Kantor Bupati Inhu Digaris Polisi

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Riau - Kantor Bupati Indragiri Hulu (Inhu) di Kota Rengat, Riau, yang terbakar, Jumat (19/10/2007) pukul 00.45 WIB, kini di-police line. Sekitar 20 aparat kepolisian dari jajaran Polres Inhu berjaga-jaga di sekitar kantor yang kini tinggal rangka itu. Tampak juga puluhan Satpol PP. Suasana di kantor itu masih sepi, sebab belum ada PNS yang masuk. Mereka dijadwalkan masuk pada 22 Oktober 2007. Lantai 2 kantor itu saat ini masih berasap meski api sudah padam. Informasi yang dihimpun detikcom, kantor bupati itu terbakar diduga akibat korsleting listrik. Api mulai memercik dari ruangan wakil bupati pada pukul 00.45 WIB dan api bisa dikuasai pukul 03.30 WIB. Selain ruang kerja bupati, lantai 2 yang terbakar juga merupakan ruangan wakil bupati, asisten, serta staf bagian humas.

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(nik/nrl)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 23/02/2015 10:27 WIB
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti diusulkan Presiden Jokowi menjadi calon Kapolri. Komjen Badrodin mengakui masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan di jajaran Polri. Dia juga dengan besar hati mengakui masih banyak penyimpangan yang perlu ditertibkan. Apa saja?
ProKontra Index »

MA Harus Turun Tangan Setop 'Sarpin Effect'!

Putusan hakim PN Jaksel Sarpin Rizaldi yang memperbolehkan status tersangka jadi materi gugatan praperadilan berpotensi menimbulkan kekacauan hukum di Indonesia. "MA harus menyetop. Segera batalkan putusan Sarpin. Kalau tidak, semua tersangka akan melakukan hal yang sama," jelas FH Unsoed Purwokerto, Prof Dr Hibnu Nugroho. Bila Anda setuju dengan Prof Hibnu, pilih Pro!
Pro
95%
Kontra
5%