detikcom
g"> 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
    Senin, 05/03/2007 10:33 WIB

    Tambang Emas Liar di Sukabumi (3)

    Tak Jelas Kapan Jadi Area Resmi

    Jakarta - Potensi emas di kawasan Gunung Cihanjuang memang menjanjikan. Menurut keterangan para panambang di lokasi kadar emas di kawasan itu mencapai 87 karat. Mutu yang bagus membuat harganya relatif tinggi. Satu gram emas dihargai bandar Rp 120 ribu. Malahan, bila sudah dimurnikan harganya bisa mencapai Rp 140 ribu. Berdasarkan data KPH Sukabumi, potensi lahan Perhutani yang mengandung emas seluas 1.000 hektar. Survei lokasi dilakukan tahun 1994. Hasil survei tersebut menerangkan kawasan Gunung Cihanjuang, mengandung mineral logam, terutama emas, galena, dan timah hitam. Selama ini memang banyak yang berminat terhadap potensi sumber daya alam, terutama potensi tambang di Kabupaten Sukabumi. Kabupaten dengan luas 412.799,54 hektar ini memiliki potensi pertambangan dan energi yang cukup besar. Berdasarkan catatan dari Dinas Pertambangan setempat sedikitnya ada 31 jenis potensi bahan galian, termasuk di dalamnya emas, galena, dan pasir besi. Saat ini potensi tambang tersebut sudah dipercayakan kepada para pengusaha dari Cina. PT Galena Asia kemudian ditunjuk sebagai penggarapnya. Kesepakatan ini tercapai ketika Presiden SBY bertemu dengan para pengusaha Cina di Beijing tahun 2006. Khusus untuk potensi mineral logam emas, tersebar di beberapa kecamatan, seperti Ciemas, Palabuhanratu, Jampang Kulon, Ciracap, dan Cikidang. Namun, potensi terbesar berada di Desa Mekarjaya dan Desa Ciemas, Kecamatan Ciemas. Sejauh ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah deposit emas yang ada di tanah Kabupaten Sukabumi. Untuk tambang emas dan timah hitam dikonsentrasikan di kawasan Kecamatan Ciemas, sementara pasir besi di Ciracap, Surade, dan Tegalbuleud. Kawasan eksplorasi emas dan timah hitam berada di tiga desa di Kecamatan Ciemas, seluas 1.350 hektar. Selain penambangan emas, PT Galena juga sempat diberi kewenangan untuk mengeksploitasi pasir besi di Kecamatan Ciracap, Surade, dan Tegalbuleud. Luas areal yang akan dijadikan kawasan penambangan pasir besi itu 15.000 hektar. Termasuk di dalamnya pembangunan dermaga dan pabrik. Tetapi belakangan beredar kabar bahwa PT Galena Asia sejak dua bulan menghentikan kegiatan. Sumber detikcom di Pemkab Sukabumi mengatakan, faktor yang jadi kendala adalah soal izin eksploitasi yang tidak kunjung turun dari Departemen Kehutanan. Masalah lainnya soal pembebasan lahan milik warga. Alhasil, kini masyarakat yang sebelumnya berharap bisa dilibatkan merasa cemas. Tak heran bila kini ratusan warga mulai tidak sabar dan mengeksloitasi sendiri tanah mengandung emas tersebut. Bila keadaan ini berlarut-larut bisa dipastikan perambahan oleh penambang liar semakin luas. Bisa dibayangkan kerugian negara yang akan ditimbulkan. Baik karena kehilangan aset mineral maupun kerusakan lingkungan. Apalagi pemilik modal perorangan sudah banyak yang melirik kawasan itu. Munculnya para pemilik modal akan memperbanyak penambang liar. Apalagi emas begitu menggiurkan banyak orang. Saat ini saja para penambang dari beberapa wilayah sekitar Sukabumi mulai berancang-ancang terjun ke Gunung Cihanjuang. "Saya lagi ngumpulin uang untuk sewa lubang. Kalau sudah terkumpul saya dan teman-teman akan menggali di sana," jelas Sukari. Pria asal Jampang Surade, Banten, ini memang sering melakukan penambangan emas di beberapa lokasi di Jawa Barat dan Banten sehingga ia cukup berpengalaman dan tahu persis cara mencari emas. Terakhir kali ia menambang di penambangan emas Gunung Pongkor, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Dari hasil penambangan di Pongkor dia berhasil membeli beberapa petak sawah dan dua unit mobil kijang. Tapi karena tidak punya penghasilan tetap kedua mobil yang dibeli tahun 1999 itu telah terjual. Kini Sukari ingin mencoba peruntungan di Gunung Cihanjuang. Soal risiko yang mungkin menghadang ia siap hadapi. Sejak tahun 1987 ia sudah menambang di berbagai lokasi. Pertambangan Cikotok (Banten), Cibanteng (Banten), Gunung Pongkor (Bogor), dan Gunung Rusa (Cianjur), sudah digalinya. Menurut pengamatan dan informasi teman-temannya di lokasi posisi urat emas sangat banyak di kawasan itu. Ia memperkirakan, bila melakukan penambangan di Desa Ciemas, hanya dengan kedalaman lima meter sudah bisa menghasilkan. Setelah diproses dengan penggilingan tradisional, satu pikul batu bisa menghasilkan 5 gram sampai 7 gram emas. Hasilnya akan lebih besar bila batu itu terdapat induk urat emas, atau lazim disebut urat kawin. Satu pikul batu yang mengandung urat kawin bisa menghasilkan 1 kilo gram emas. Harga 1 kilo gram emas biasanya Rp 70 juta. Itu kalau emasnya berkadar 60 karat. Tapi bila kadarnya 87 karat, seperti di Gunung Cihanjuang, harganya bisa mencapai Rp 100 juta. Tetapi untuk mendapatkan urat kawin bukan perkara gampang. Biasanya, tempat penyatuan urat emas itu berada di kedalaman lebih dari 500 meter. Jadi diperlukan waktu sekitar satu tahun penggalian. Itu pun bila lubang yang dibuka lokasinya tepat di pecahan urat emas. (dik)

    Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

    (Deden Gunawan dan Moehammad Samoedera Harapan/)


    Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

    Sponsored Link

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan Khusus Terbaru Indeks Laporan Khusus ยป
    ProKontra Index »

    Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

    Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
    Pro
    80%
    Kontra
    20%
    MustRead close