detikcom
Kamis, 12/10/2006 13:34 WIB

Flap, Slat, dan Check List Sebabkan Mandala Jatuh di Medan

Chazizah Gusnita - detikNews
Jakarta - Setelah lebih dari setahun berlalu, misteri penyebab jatuhnya pesawat Mandala Airlines seri Boeing 737-200 di Medan 5 September 2005 lalu mulai terkuak. Ada 3 hal yang menjadi pemicunya. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan, pesawat tersebut jatuh akibat kondisi flap dan slat (alat menambah daya angkat pesawat saat take off) yang tidak turun, kemudian prosedur check list peralatan yang tidak sesuai persyaratan. "Untuk lepas landas harus menggunakan flap dan slat. Kalau tidak digunakan dengan semestinya, ada potensi pesawat akan celaka," kata anggota tim investigasi kasus pesawat Mandala Airlines, Prita Widjaya, dalam jumpa pers di Dephub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (12/10/2006). Dituturkan dia, prosedur check list yang tidak sesuai persyaratan dapat menyebabkan tidak teridentifikasinya keadaan flap yang belum turun yang seharusnya mengaktifkan suara take off warning horn (alat bantu peringatan). Namun dari hasil rekaman cockpit voice recorder (CVR) tidak terdengar suara take off warning horn. "Kita tidak mendengar penerbang melakukan check list. Padahal menurut aturan, check list itu harusnya ada," kata pilot senior Garuda, Soerjanto. Standard operating procedure (SOP) harus sesuai dengan operasi manual yang menyatakan penerbang harus bertindak jika take off warning horn aktif dengan membatalkan tinggal landas. Namun faktanya dalam kejadian ini, pesawat tetap melanjutkan tinggal landas dikarenakan take off warning horn tidak terdengar walaupun sudah dilakukan beberapa kali filterisasi. Human Error? Ditanya mengenai kesimpulan penyebab jatuhnya pesawat Mandala di Medan karena technical error atau human error, Prita Widjaya menegaskan, KNKT tidak berwenang menyimpulkan. "Investigasi kita bukan mencari siapa yang salah. Itu proses legal (hukum). KNKT tidak diberikan kewenangan legal, tapi mengenai kemungkinan apa yang terjadi dalam kecelakaan itu," ujarnya. Meski demikian KNKT merekomendasikan agar pelaksanaan check list dilakukan dengan benar dengan melakukan konfirmasi dan verifikasi oleh para penerbang sesuai dengan operasi manual yang berlaku. Operator juga harus mengkaji ulang dan harus meng-update SOP sesuai dengan operasi manual. Pengecekan take off warning horn setiap hari pada saat penerbangan pertama. Kemudian memastikan pemasangan dan perawatan black box, dan operator bandar udara melaksanakan latihan tanggap darurat dengan keadaan sesungguhnya sesuai dengan airport emergency plan minimal satu kali dalam setahun.

Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(san/sss)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
63%
Kontra
37%