Rabu, 04/10/2006 00:17 WIB

Krisis Air, Hujan Buatan Sulit Dilakukan

Taufik Wijaya - detikNews
Palembang - Kabut asap yang disebabkan kebakaran atau pembakaran hutan dan lahan yang menyelimuti sejumlah kota di Sumatra Selatan (Sumsel) seperti Palembang kemungkinan besar dapat diatasi dengan pembuatan hujan buatan. Tapi, harapan warga Sumsel itu sia-sia. Sebab berdasarkan pertemuan Pemerintah Sumatra Selatan dengan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) semalam (2/10/2006) di Hotel Aston, Jalan POM IX, Palembang, menemui jalan buntu. Pasalnya, secara regional wilayah Indonesia saat ini kekurangan suplai air, malah boleh dikatakan tidak ada. Menurut Direktur BPPT Asep Karsidi, seharusnya pada bulan-bulan ini angin baratan sudah membawa uap air. Ternyata, terlihat ada fenomena temperatur permukaan laut di sekitar laut sebelah barat Sumatera di laut Hindia dan sedikit di bagian barat antara Sumatera dan Jawa masih dingin pada level minus satu. "Seharusnya kondisi ini sudah mulai panas sehingga ada proses penguapan dari air laut. Karena kondisi udara dingin tidak ada penguapan dan tidak ada suplai uap air dari sekitar wilayah tersebut. Sehingga angin barat tidak membawa uap air," tutur Asep. Tidak itu saja, penyebab lainnya lantaran adanya siklon di sekitar Filipina. Di sekitar lokasi ada pusaran angin yang menyebabkan massa mulekul udara terangkat ke atas. Hal ini menyebabkan air terangkat kembali ke atas bukan malah turun ke wilayah Sumsel, Jawa, serta Kalimantan Selatan. Dari hasil foto satelit yang ditampilkan tadi, Asep menjelaskan, bisa dilihat kondisi awan malah naik di atas Kalimantan Timur kearah Serawak dan Filipina. Kondisi adanya siklon ini juga mempersulit keberadaan uap air. Khususnya pada daerah-daerah yang sekarang ditargetkan bisa turun hujan. "Prediksi kondisi siklonnya mudah-mudahan sekitar dua tiga hari ke depan akan berkurang. Untuk membuat hujan buatan kita tunggu dulu kondisi ini. Kalau sudah mulai berkurang dan massa udara dengan uap air cukup datang baru bisa dimulai," jelasnya. Caranya? BPPT akan memanfaatkan pesawat hercules milik TNI AU karena memiliki kapasitas besar. Pesawat ini setidaknya mampu membawa 5 ton bahan untuk membuat hujan. Hanya saja, kondisi curah hujan nantinya akan bergantung dengan kondisi awan yang akan di-siding, tetapi sifatnya relatif. Tidak bisa diprediksi besarnya curah hujan. Hanya saja, sambungnya, dari gambaran dan setelah dilakukan siding biasanya akan ada hujan sekitar 1-2 jam. Curah hujan tidak bisa terukur karena kondisi di bawah masih banyak lokasi yang terbakar. Kondisi di Sumsel berapa kali dibutuhkan hujan buatan? "Kita lihat potensi awannya. Juga lihat frekuensi pertumbuhan awan, bisa jadi 10 kali berturut-turut atau bahkan lebih. Tapi kalau dapat awan yang besar dan bisa dilakukan hujan seharian bisa habis dalam 2-3 hari. Tapi dengan kondisi yang ada saat ini sangat sulit," imbuhnya. Dana yang dibutuhkan untuk melakukan hujan buatan ternyata tidak sedikit. Untuk 20 kali efektif hujan buatan, setidaknya dibutuhkan dana sebesar Rp 2,8 miliar dengan sekitar 80 juta milli meter kubik air yang akan diperoleh. "Kita sudah pernah lakukan di Waduk Singkarak," imbuhnya. Ada rencana datangkan pesawat dari luar? Asep menuturkan bisa saja dilakukan. Mengingat, kondisi cuaca yang saat ini dengan penanggulangan hujan buatan masih sulit dilakukan. Hanya kondisi alam dengan hujan lebat yang bisa memadamkan jumlah titik api yang sangat banyak. Tetapi, dengan kondisi saat ini untuk terjadi hujan akan sangat sulit. Oleh karena itu, upaya penanggulangan kebakaran dilakukan dengan penyiraman air secara langsung dengan water bomb. Yang menjadi persoalan, belum dimilikinya water bomb yang besar. "Paling yang kita miliki 1.000 liter, dan yang sering digunakan 350 liter dari helikopter. Pada kondisi kobaran api yang besar, jelas tidak akan efektif menggunakan yang 350 liter. Malah bisa jadi membahayakan heli yang hendak memadamkan titik api," bebernya. "Kita pernah ditawarkan Rusia Beriev Be-200 dengan kapasitas 40 ribu liter. Tapi harga yang ditawarkan sangat mahal sekitar Rp 400 miliar. Tapi, dalam kondisi setiap tahun seperti ini kita harus punya," jelas Asep. Dengan pesawat ini, upaya pemadaman bisa dilakukan kapan saja. Malah kurang dari 12 detik pesawat sudah bisa mengangkut 40 ribu liter air yang diambil dari laut atau danau tidak perlu landing. "Kita akan kaji apa nanti beli atau rental, kalau kondisi tidak mendukung kita harus punya water bombing. Arahnya kita akan cari yang 10 ribu minimum tiga buah. Saat ini masih akan dikaji dengan pemerintah pusat, apakah nanti belinya patungan dengan daerah," pungkasnya. Sekda Sumsel Drs H Sofyan Rebuin MM menuturkan, memang kondisi saat ini tidak memungkinkan dilakukan hujan. Kalaupun dipaksakan hasilnya tidak akan memuaskan. Apalagi dana yang dibutuhkan juga cukup besar untuk melakukan hujan buatan. "Makanya akan ditunggu dua tiga hari ini. Walau kondisinya sudah mendesak tetap tidak bisa dipaksakan buat hujan buatan. Dana sekitar Rp 2,8 miliar akan kita sharing dengan perusahaan-perusahaan. Kalau kondisinya sudah emergency, kita akan minta persetujuan DPRD untuk mengadakan alokasi dana tambahan," tuturnya. Sembari menunggu kondisi cuaca mendukung, Sekda menegaskan upaya pemadaman terus lakukan oleh Manggala Agni. "Besok (hari ini red) sudah dimulai pemadaman dengan helikopter dari Jakarta. Ini bantuan dari pusat, punya Departemen Kehutanan. Targetnya di OKI yang paling banyak titik api," tegasnya. Malah, hari ini rencananya Menteri Kehutanan MS Ka'ban akan meninjau langsung kondisi hot spot di Sumsel. Dengan menggunakan helikopter dari Bandara SMB II, Menteri akan langsung terbang ke sejumlah lokasi titik api, khususnya di OKI dan meninjau Manggala Agni. "Kunjungan menteri ini bukan berarti kita dinilai tidak kerja. Tapi karena memang sulit melakukan upaya pemadamannya," tegas Sekda. Kepala Dinas Kehutanan Sumsel, Dodi Supriadi menuturkan, saat ini sedang diperhitungkan kondisi untuk membuat hujan buatan. "BPPT sepakat akan monitor terus kondisi ini. Masih diperhitungkan, kapan awan ini bisa disemprot jadi hujan," katanya. Mengatasi pemadaman sementara, Dinas Kehutanan Sumsel hari ini (3/10/2006) mendatangkan tiga heli untuk memadamkan titik api. Sebab, jika sampai terulang titik api mencapai 1.600, kondisi ini jelas sangat kritis. "Dari Kalimantan besok helikopter diarahkan ke Sumsel. Ada tiga unit, masing-masing kapasitas 1 ton. Target kita di OKI karena 80 persen hot spot ada di sana. Kalau OKI sudah dipadamkan, sudah tidak ada masalah lagi," sergah Dodi. Terkait kunjungan menteri, kondisi Sumsel bahaya? "Bukan, menteri hanya meninjau ke tempat-tempat yang paling banyak hot spot-nya. Ini terkait dengan pemberitaan di Sumsel terkait kabut asap," pungkasnya.

Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(tw/ary)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
43%
Kontra
57%