Selasa, 08/08/2006 04:35 WIB

Korban Penembakan di Tol Pluit Minta Perlindungan Dari Teror

M. Rizal Maslan - detikNews
Jakarta - Ancaman dan teror dikhawatirkan menghantui korban dan saksi korban penembakan di Tol Pluit Jakarta Utara oleh anggota Kesatuan Yonif 507 Kodam V Brawijaya Kapten Batara Alex Bulo. "Kita berharap kasus ini bisa cepat dituntaskan, dan kita minta perlindungan," cetus Dede Priyadi, salah seorang saksi korban. Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers di kantor Kontras, Jl Borobudur, Menteng, Jakarta, Senin (7/8/2006). Dede didampingi saksi korban lainnya Eko Kurniawan, keluarga Dadang Suherman yang menjadi korban tembak, Gatot dari LBH Jakarta, dan Koordinator Kontras Usman Hamid. Eko menceritakan kromologis penembakan yang terjadi pada Jumat 21 Juli lalu, tepatnya di Tol Cengkareng, Kapuk, Jakarta. Saat itu Eko, Dadang, dan Dede, melintasi jalan tol menuju kantornya, FIN Logistic, yang terletak di daerah Tanjung Priok. Mereka menggunakan mobil Daihatsu Esspas bernomor polisi B 9209 ZR. Eko duduk di belakang kursi kemudi. Saat memasuki pintu tol, mobil yang mereka tumoangi memperlambat jalan. Di belakangnya, terlihat mobil sedan Mercy warna merah bernomor polisi B 1501 RI yang berusaha menyalip. Setelah membayar tol, Eko mengambil jalan sebelah kiri, namun tiba-tiba dipepet oleh Mercy merah itu. Penumpang Mercy itu mengumpat dan memaki Eko. Eko pun membalas makian itu. Tak lama 2 mobil tersebut saling berkejaran. Mercy merah tiba-tiba mundur, lalu "dor" peluru ditembakkan ke bagian tengah Daihatsu Esspas. Peluru menembus dinding mobil dan melukai Dadang. Dadang terkena tembak di perut sebelah kanan dan tembus di perut kirinya. Ke dua mobil pun berhenti. Batara, si penembak, turun dari mobil dan menghampiri Eko sambil menodongkan pistol ke kepala pemuda itu. Eko pun berteriak minta ampun. "Saya bilang sama dia minta ampun, karena saya cuma sopir. Begitu dia lihat ada yang tertembak, dia langsung kabur sama sopirnya," ujar Eko. Dikatakan Gatot yang juga kuasa hukum ketiga orang itu, Dadang yang dirawat di RS MMC Jakarta harus kehilangan 17 cm usus besarnya. Belum diketahui apakah yang bersangkutan akan mengalami cacat atau tidak akibat operasi tersebut. "Hingga kini untuk perawatan sudah menghabiskan setidaknya Rp 60 juta. Keluarga penembak sempat datang ke RS dan menawarkan bantuan pembiayaan, termasuk rawat jalan," ujar Gatot. Ditegaskan dia, meski ada rencana pemberian bantuan perawatan, namun proses hukum akan terus berjalan. Sementara itu, salah seorang keluarga Dadang, Opang, hingga kini belum menerima santunana apapun, padahal biaya perawatan sangat mahal. Uang muka RS sebesar Rp 32 juta ditanggung FIN Logistic. "Sisanya masih belum dibayar, kami kesulitan mencari biaya pengobatan," kata Opang sendu.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(nvt/)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Motor akan Dilarang Melintas di Jalan Protokol Jakarta

Pada Desember 2014 mendatang motor tidak diperbolehkan untuk melintas di Bundaran HI hingga Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Rencananya motor akan dilarang di semua jalan protokol yang ada di Jakarta. Bila Anda setuju dengan kebijakan Pemprov DKI ini, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%