detikcom
Jumat, 30/06/2006 18:08 WIB

Anulir Kelulusan Siswa, Kepsek SMA 3 Pekanbaru Khilaf

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Pekanbaru - "Kami khilaf dalam mengumumkan kelulusan ujian nasional". Kalimat sederhana tanpa beban ini terucap dari mulut Kepala Sekolah (Kepsek) SMA 3 Pekanbaru yang menganulir hasil kelulusan seorang muridnya. "Cuma malaikat yang tidak pernah salah. Kita selaku manusia penuh dengan kekhilafan. Kami mengakui telah terjadi kesalahan. Seorang siswa kami nyatakan lulus, ternyata setelah diteliti ulang nilainya di bawah standar nasional," kata Kepsek SMA 3 Pekanbaru, Gusrijal saat ditemui detikcom, Jumat (30/6/2006) di ruang kerjanya Jl Yos Sudarso, Rumbai, Pekanbaru. Gusrijal mengakui pihaknya telah menyatakan lulus terhadap M Aderman, murid kelas III IPS dalam UN pada 19 Juni 2006 lalu. Malah tiga hari setelah pengumuman itu, pihak sekolah juga telah memberikan surat keterangan berkelakuan baik dan kelulusan atas nama Aderman, untuk kepentingan memasuki perguruan tinggi negeri di Pekanbaru. "Tapi surat keterangan kelulusan itu sudah kita cabut. Ini karena hasil penelitian terakhir soal angka ujian Aderman, bidang studi Ekonomi di bawah standar nasional. Nilanya 4,21, sedangkan standar nasional 4,25," terang Gusrijal. Lantas bagaimana cerita kelulusan Aderman bisa dianulir? Gusrijal memaparkan, pada 16 Juni 2006, pihak sekolah menerima daftar nilai perserta UN. Dari hasil penilian itu, 98,22 persen murid IPS dinyatakan lulus. Pada 19 Juni 2009, setelah melalui rapat bersama tim panitia pengoreksi nilai, sepakat untuk mengumukan hasil UN melalui media masa lokal. Di sana nama Aderman dinyatakan lulus. Selanjutnya, pihak sekolah masih menunggu blanko STTB dan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN). Blanko ini baru diterima pihak sekolah pada Minggu 25 Juni 2006. Jumlah blanko itu sendiri sebanyak jumlah siswa yang mengikuti UN. Sehari setelah menerima blanko, selanjutnya pihak sekolah akan mengisi daftar nilai siswa di STTB dan SKHUN. "Saat akan mengisi nilai inilah, kami baru menyadari, ternyata nilai Aderman bidang ekonomi di bawah standar. Keesokan harinya, kami langsung memanggil murid serta orangtuanya untuk menjelaskan semua ini. Kami menjelaskan, bahwa Aderman tidak lulus sesuai dengan nilai UN yang kami terima dari Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Riau," kata Gusrijal sembari menunjukan nilai Aderman yang memang di bawah standar nasional. Gusrijal sendiri menganggap masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan. Dia malah menganggap, ini sebuah keuntungan buat Aderman. Keuntungan yang dimaksud, rekan-sekan sekolah menganggap Aderman lulus, walau sebenarnya tidak lulus. "Kan untung buat dia. Soalnya setahu teman-temannya dia lulus, padahal tidak. Lagi pula yang menyatakan dia tidak lulus itu, bukan kami. Tapi memang nilainya di bawah standar. Kami juga sudah meminta maaf pada Aderman dan orangtuanya atas kesalahan ini," terang Gusrijal. Lantas begitu gampangkah meminta maaf atas kesalahan ini? Menurut Anggota DPR RI asal Riau, Azlaini Agus, terlepas soal lulus atau tidaknya anak tersebut, pihak sekolah sudah melakukan kesalahan besar dalam mengumumkan kelulusan UN tersebut. Ini bukan persoalan sepele, melainkan persoalan besar. "Hal ini bisa dibawa ke persoalan hukum. Perbuatan kesalahan yang dilakukan pihak sekolah telah merugian anak muridnya secara permanen," ujar Azlaini Agus, yang juga Dosen Fakultas Hukum, Universitas Islam Riau. Berita Terkait: Siswa SMA3 Pekanbaru Lulus, Eh..Dianulir

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(asy/)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
45%
Kontra
55%