detikcom
Kamis, 18/05/2006 12:06 WIB

Bagaimana Menghitung Pajak Kendaraan Bermotor?

Arifin Asydhad - detikNews
Jakarta - Sebagian pemilik kendaraan bermotor mungkin terkejut saat mengetahui besaran pajak kendaraan bermotor (PKB) yang dibayarkan naik cukup tajam. Kenaikan pajak ada yang mencapai 40%. Bagaimana sih ketentuan penghitungan PKB yang baru? Penghitungan PKB di wilayah Jakarta diatur dalam Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta nomor 30 tahun 2006 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) tahun 2006. Peraturan ini diteken Gubernur DKI Sutiyoso di Jakarta tanggal 29 Maret 2006 dan diberlakukan mulai 1 April 2006. Peraturan baru ini menganulir peraturan tentang hal yang sama sebelumnya yang ditetapkan dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 150/2002. Dasar pengenaan PKB diatur dalam pasal 2 Bab II. Pasal 2 ayat 1 bertuliskan, "Dasar pengenaan PKB dihitung sebagai perkalian dari dua unsur pokok, yaitu nilai jual kendaraan bermotor dan bobot yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor." Pasal 2 ayat 3 dijelaskan, "Nilai jual kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor." Keterangan tentang hal ini diperjelas di pasal 3 yang berbunyi, "Nilai jual kendaraan bermotor sebagai dasar penghitungan PKB dan BBN-KB sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3) ditetapkan sesuai yang tercantum pada kolom 5 Lampiran 1 Peraturan Gubernur ini." Tentang bobot yang dicantumkan dalam ayat 1 pasal 2 diperjelas di pasal 4. Pasal 4 yat 1 dijelaskan sebagai berikut "Bobot untuk menghitung dasar pengenaan PKB, sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dihitung berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut: a. Tekanan gandar b. Jenis bahan bakar kendaraan bermotor c. Jenis, penggunaan, tahun pembuatan dan ciri-ciri mesin dari kendaraan bermotor". Pasal 4 ayat 2 disebutkan, "Bobot untuk menghitung sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk kendaraan bermotor: a. jenis sedan, sedan station, jeep, station wagon, minibus, microbus, bus, sepeda motor , dan sejenisnya ditetapkan sebesar 1,00 b. jenis mobil barang/beban ditetapkan sebesar 1,30 c. alat-alat berat atau alat-alat besar ditetapkan sebesar 1,00" Lantas bagaimana menghitung nilai jual mobil? Pasal 9 ayat 1b tertulis sebagai berikut," Jenis, merek, dan tipe kendaraan bermotor yang telah tercantum pada lampiran Peraturan Gubernur ini, dengan ketentuan: 1. untuk tahun pembuatan terbaru, nilai jualnya ditetapkan dengan penambahan 5% dari nilai jual tahun sebelumnya 2. untuk tahun pembuatan lebih tua, nilai jualnya ditetapkan berdasarkan nilai jual tahun pembuatan terakhir sebagaimana ditetapkan dalam lampiran Peraturan Gubernur ini, dengan penurunan 5% setiap tahun dengan maksimal penurunan 5 tingkat atau disesuaikan dengan harga pasaran umum (HPU) yang berlaku." Sayang, hingga berita ini diturunkan, detikcom belum mendapatkan lampiran lengkap Peraturan Gubernur tentang nilai jual kendaraan bermotor ini. Namun, Kepala Seksi (Kasi) Kendaraan Baru Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) DKI Jakarta, Muhammad Natsir Tanjung, saat dihubungi detikcom, Kamis (17/5/2006) menjelaskan, tarif pajak yang dipatok tetap 1,5% dari nilai jual kendaraan. Namun, dia mengakui besaran pembayaran pajak naik. "Hal ini karena ada ketentuan baru nilai jual kendaraan bermotor. Besarannya bisa naik, bisa turun," ujar dia.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(asy/)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
46%
Kontra
54%