detikcom
Senin, 15/05/2006 11:08 WIB

Kisruh Mahesa Kurung (4)

Sosok Kharismatik Sang Habib

Jakarta - Sosoknya tidak berbeda dengan rata-rata pimpinan suatu kelompok organisasi massa lainnya, tenang dan berwibawa. Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai latar belakang si Abah. Pria ini memang terkesan enggan menyebutkan latar belakangnya secara gamblang. Saat berbincang-bincang dengan detikcom di kediamannya, di Perumahan Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat, Abah hanya mengaku dirinya dilahirkan di Jakarta pada 4 Januari 1960. Sebagian besar pendidikannya, baik SMP maupun SMA, juga ditempuh di Ibukota. Abah MK juga mengaku sempat mengenyam pendidikan perguruan tinggi namun putus di tengah jalan. Di mana dia kuliah dan mengapa putus di tengah jalan, Abah MK enggan bercerita. "Nggak usahlah, nanti nggak enak," kata pria berkacamata ini. Yang jelas, sejak duduk di bangku SMP dirinya sudah sangat tertarik dengan dunia supranatural. Karena itu pula sejak SMP dia bercita-cinta ingin membangun sebuah organisasi berbasis supranatural yang sangat kuat. Keinginannya itu tercapai, kini dia memimpin organisasi bernama Mahesa Kurung. Selain pengobatan, Mahesa Kurung juga dikenal sebagai perguruan beladiri yang disegani. Anggota Mahesa Kurung jumlahnya mencapai ribuan orang, bahkan konon jutaan. Tidak hanya di Indonesia, anggota Mahesa Kurung juga tersebar hingga ke manca negara, seperti Australia, AS, Eropa dan Timur Tengah. "MK punya 960 cabang dan 1763 ranting. Ini belum termasuk keanggotaan yang ada di manca negara," kata Abah MK. Di Perumahan Taman Yasmin, rumah yang ditempati Abah MK bisa dikatakan cukup besar dan mewah. Menurut pengamatan detikcom luas rumah yang terletak di Jl. Wijaya Kusumah No.84 itu paling tidak mencapai 500 meter persegi. Bangunannya terdiri dari dua lantai dan didominasi cat berwarna coklat. Setiap dindingnya dihiasi berbagai macam ukiran. Di halaman rumah berpagar besi itu, terdapat taman yang sangat terawat. Berbagai macam tumbuhan indah terawat dan ditata dengan sangat apik. Sebuah kolam ikan dan sebuah saung menambah keasrian taman tersebut. Sementara pada bagian atap rumah yang berbentuk kubah berwarna biru, tergantung sebuah lonceng. Semua itu membuat kediaman Abah MK mudah dibedakan dengan rumah-rumah yang lainnya. Saat detikcom memasuki bagian dalam, semakin terasa kemewahan rumah tersebut. Berada di dalam rumah Abah MK serasa berada di dalam kuil yang megah penuh dengan hiasan-hiasan gerabah seperti guci dan sebagainya. Di beberapa sudut ruangan, tampak aquarium besar berisi beraneka ragam ikan hias. Di rumah itu, Abah MK tinggal bersama seorang istri dan tiga orang anaknya. Mereka masing-masing Randika Attros (22), Kevin Alvendo Attros (14) dan Terenova Rolando Attros (11). Menyinggung soal embel-embel gelar Habib di depan nama lengkapnya Abah MK tidak banyak berkomentar. Tapi yang pasti, Abah MK pernah dipermasalahkan oleh persatuan Habib se-Bogor karena mencantumkan gelar tersebut di depan namanya. Menurut Sekretaris Rabithah Alawiyah Husein Shahab, marga Al Khindy, tidak ada dalam silsilah keturunan habib dan tidak tercatat dalam Rabithah Alawiyah yang merupakan perkumpulan para habib seluruh dunia. Abah MK pun diminta menanggalkan gelar Habib tersebut. Jika tetap ngotot, Abah MK diminta menunjukkan garis silsilahnya. Karena Rabithah Alawiyah itu setiap tahun melakukan sensus. Saat ini jumlah anggotanya mencapai 100 ribu orang untuk wilayah Bogor. Lebih jelasnya lagi, nama Abah MK tidak tercantum sebagai habib dalam daftar atau urutan habib di Bogor. Selain menempati posisi puncak di Mahesa Kurung, Abah MK mengatakan dirinya juga seorang pengusaha. Usaha yang ditekuninya antara lain bergerak di bidang kontraktor, cargo, agrobisnis, dan berbagai komoditas lainnya. Bagi warga sekitar perumahan Taman Yasmin, nama Abah MK sudah tidak asing lagi. Mereka mengenal dengan baik nama tersebut sebagai seorang tokoh masyarakat. Namun anehnya, banyak warga sekitar yang mengaku belum pernah bertemu dengan si Abah. "Yah kalau namanya Abah MK mah kita semua orang di sini tahu. Tapi kalau ketemu apa lagi ngobrol sama Abah banyak yang belum pernah," tutur Parman. Parman juga mengatakan, kelompok Mahesa Kurung memiliki hubungan yang sangat dekat dengan aparat kepolisian dan TNI. Hal itu terlihat dari banyaknya kendaraan berplat militer setiap Mahesa Kurung menggelar suatu acara. "Kalau ada acara yang ngawal banyak dari polisi dan orang-orang dari Pagar Bangsa," ungkap Parman.
(/)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan Khusus Terbaru Indeks Laporan Khusus ยป
  • Senin, 21/07/2014 12:41 WIB
    Wamenhub: Jembatan Comal Bikin Jalur Darat Lebih Kompleks, Ada 3 Alternatif
    Gb Jembatan Comal, Pemalang, Jateng, yang ambles pada Jumat (18/7) malam lalu membuat mudik via jalur darat lebih kompleks. Memang Kementerian PU mengebut pengerjaan jembatan itu. Namun di satu sisi harus menunggu kelayakannya. Ada 3 alternatif jalur mudik menghindari Jembatan Comal.
ProKontra Index »

Polisi akan Razia dan Bubarkan Sahur on The Road

Dari hari ke hari, Sahur on The Road (SOTR) alias sahur keliling yang awalnya niatnya baik, membagi-bagikan sahur ke warga tidak mampu, kini melenceng semakin meresahkan, melakukan vandalisme hingga pembacokan. Terakhir Senin (21/7) dini hari, beberapa korban pembacokan kelompok SOTR berjatuhan. Polda Metro Jaya akan merazia, membubarkan hingga menindak kelompok SOTR yang melakukan tindak pidana. Bila Anda setuju dengan tindakan Polda Metro Jaya, pilih Pro!
Pro
72%
Kontra
28%