detikcom
Kamis, 16/03/2006 16:43 WIB

Yusril: Pemberian Amnesti Perlu Pertimbangan DPR

Jakarta - Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra membantah adanya informasi yang menyatakan pertemuan KPU dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membahas soal amnesti. "Pertemuan dengan Presiden tidak disinggung sama sekali," kata Yusril kepada wartawan sebelum mengikuti sidang kabinet di Kantor Presiden Jalan Medan Merdeka Utara, Kamis (16/3/2006). Berikut petikan wawancaranya: Bagaimana dengan amnesti yang diminta KPU ke Presiden? Memang waktu pertemuan dengan Presiden tidak disinggung sama sekali. Waktu konferensi pers juga tidak disinggung kan? Tapi di rilis yang disebarkan ada? Saya tidak tahu. Seandainya mereka meminta amnesti bagaimana? Minta grasi atau permohonan amnesti bisa saja, tapi semua tentu juga memerlukan pertimbangan dari DPR. Presiden juga tegas mengatakan meskipun beliau merasa sedih dengan semua itu, tapi tidak dapat mencampuri proses hukum yang sedang berjalan. Beliau hanya mengatakan memang ada kewenangan pada saya untuk memberikan grasi, amensti, hanya itu saja, tapi tidak secara spesifik ditujukan bahwa Presiden akan memberikan amnesti. Tidak sama sekali. Dalam pembicaraan itu tidak disampaikan secara spesifik? Dalam pertemuan kemarin masalah itu tidak disinggung, bahwa ada selebaran yang disampaikan, saya tidak tahu itu berasal dari siapa. Mungkin perlu dikonfirmasi pada KPU sendiri. Pak Ramlan karena di dalam pembicaraan dengan Presiden tidak singgung masalah itu dan tidak disampaikan surat permohonan atau apapun dari KPU. Seperti kita ketahui semua itu masih dalam proses di keputusan pengadilan tingkat pertama. Tapi kan belum sampai ke tingkat banding, apalagi tingkat kasasi. Jadi kalau Presiden akan memberikan grasi apabila dimohon oleh yang bersangkutan tentunya oleh pengacaranya atau oleh keluarganya setelah keputusan itu mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Kalau mengajukan permohonan amnesti, Presiden mempertimbangkan amnesti setelah ada pertimbangan dari DPR. Jadi amnesti tertutup karena ada penegasan Presiden tidak akan mencampuri proses hukum? Wah nggak, jangan dilihat bahwa amnesti, abolisi dan rehabilitasi itu bukan mencampuri masalah hukum. Itu kan suatu kewenangan yang dimiliki oleh Presiden dalam kedudukannya sebagai Kepala Negara. Tetapi kalau proses hukum sedang berjalan di pengadilan, apa dakwaannya, hakim akan memutus apa putusannya, itu Presiden tidak mencampuri hal itu. KPU mengatakan proses hukum akibat keterlambatan UU yang dikeluarkan DPR dan Pemerintah, apa itu bisa dijadikan bahan pertimbangan pemberian amnesti? Saya belum bisa mengandaikan oleh karena permohonan belum ada. Memang mereka menyinggung bahwa semua itu berasal dari Keppres 80/2003, dan sekarang sedang dalam perbaikan. Tapi setahu saya Keppres itu hukum administrasi, mengatur soal prosedur dan didalamnya tidak mengatur mengenai ketentuan-ketentuan pidana. Tapi yang didakwa ke pengadilan kan tentu bukan pasal-pasal Keppres nomor 80/2003 tapi pasal lain yang termasuk dalam ketentuan hukum pidana.

Ikuti sejumlah peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 12.45 WIB

(Luhur Hertanto/)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 21/07/2014 12:41 WIB
    Wamenhub: Jembatan Comal Bikin Jalur Darat Lebih Kompleks, Ada 3 Alternatif
    Gb Jembatan Comal, Pemalang, Jateng, yang ambles pada Jumat (18/7) malam lalu membuat mudik via jalur darat lebih kompleks. Memang Kementerian PU mengebut pengerjaan jembatan itu. Namun di satu sisi harus menunggu kelayakannya. Ada 3 alternatif jalur mudik menghindari Jembatan Comal.
ProKontra Index »

Polisi akan Razia dan Bubarkan Sahur on The Road

Dari hari ke hari, Sahur on The Road (SOTR) alias sahur keliling yang awalnya niatnya baik, membagi-bagikan sahur ke warga tidak mampu, kini melenceng semakin meresahkan, melakukan vandalisme hingga pembacokan. Terakhir Senin (21/7) dini hari, beberapa korban pembacokan kelompok SOTR berjatuhan. Polda Metro Jaya akan merazia, membubarkan hingga menindak kelompok SOTR yang melakukan tindak pidana. Bila Anda setuju dengan tindakan Polda Metro Jaya, pilih Pro!
Pro
68%
Kontra
32%