detikcom
Rabu, 03/08/2005 09:06 WIB

Menelisik Serbuan PSK Impor

Maryadi - detikNews
Jakarta - Tidak sulit mencari kesenangan seksual di Jakarta. Di kota metropolitan ini terlalu banyak yang bisa disediakan, termasuk mendapatkan pramunikmat impor. Terlalu banyak juga tempat yang menyediakan gadis impor yang berasal dari Thailand, Cina, Vietnam ataupun Uzbekhistan. Keberadaan perempuan impor ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Ditjen Imigrasi pun sudah sejak beberapa tahun lalu pernah melakukan penangkapan, namun kemudian mereka dilepaskan lagi karena hanya melanggar ketentuan visa atau visanya yang sudah expired. Mereka dikembalikan kepada sang agen yang membawa mereka ke Indonesia dan setelah itu dideportasi ke negara asalnya. Pekerja seks komersil (PSK) impor ini bisa didapatkan di sejumlah hotel, tempat hiburan ataupun eksekutif klub di Jakarta. Tapi untuk mendapatkan akses kepada gadis asing ini tidak lah mudah. Anda terlebih dulu harus mempunyai koneksi dengan sang mucikari atau germo. Tempat hiburan yang menyediakan perempuan impor ini salah satunya yang berada di Jalan Hayam Wuruk Jakarta. Tempat hiburan yang berlogo angka ini menyediakan PSK yang berasal dari Cina, Thailand dan Uzbhekistan. Tarifnya pun terbilang cukup mahal antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Di tempat ini mereka pun bersaing dengan PSK lokal. Namun bagi PSK lokal, keberadaan pelayan seksual impor ini tidak terlalu mengkhawatirkan mereka. Soalnya, para gadis impor ini memang punya segmen pasar tersendiri, yaitu lelaki hidung belang yang berkantong cukup tebal. "Ya, kita kan punya pelanggan sendiri. Lagi pula, banyak juga orang kita yang gak suka cewek asing itu," tutur Irma (22), penari telanjang di tempat hiburan itu yang juga berprofesi sebagai PSK kepada detikcom dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu. Keberadaan para cungkok (sebutan PSK asal Cina) dan uzbek (sebutan PSK asal Uzbhekistan) tidak terlepas dari para agen yang mempunyai jaringan di sejumlah negara lainnya yang menyediakan fasilitas yang sama, seperti Singapura. Mereka biasanya datang ke Jakarta dengan visa wisata, pertukaran budaya ataupun sebagai pekerja hiburan, menjadi penyanyi misalnya. Walaupun pada kenyataannya mereka datang ke Jakarta sebagai pekerja seks. Banyak dari pramunikmat asing ini yang sengaja datang ke Indonesia justru bukan semata karena uang guna menutupi kebutuhan hidupnya. Ternyata, ada dari mereka yang masih berstatus mahasiswa di negaranya. Mereka sengaja datang ke Jakarta mencari uang untuk menutupi biaya kuliahnya. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Tempat lain lagi yang menawarkan jajanan seks mahal ini juga terdapat di kawasan Pecenongan. Sebuah klub eksekutif berinisial "Empr" juga menyediakannya. Tapi selain menyediakan para Cungkok dan Uzbek ini, mereka juga menyediakan cewek lokal yang hampir semuanya cantik-cantik dan berusia muda bahkan belasan. Bahkan, yang disediakan oleh klub ini tidak hanya sekedar sekedar kenikmatan syahwat semata tetapi juga pijat untuk kesehatan. Tapi yang namanya juga klub esek-esek, tetap saja ujung-ujungnya mengeluarkan hasrat seksual. Harganya pun cukup mahal, dimana untuk sekali layanan lelaki hidung belang harus rela mengeluarkan uang Rp 800 ribu. Tapi tarif itu hanya untuk perempuan lokal, dan harganya akan lebih mahal jika harus meniduri cewek asing. "Harga segitu sudah full service sih," kata seorang manajer klub tersebut, saat berbincang-bincang dengan detikcom. Tempat lainnya yang menyediakan "ayam impor" ini adalah sebuah hotel berinisial "Klk" yang letaknya juga tak jauh dari kawasan Pecenongan. Hampir sama, dengan tempat lain yang menyediakan cewek panggilan dari luar negeri ini. Di tempat ini, para pelanggan PSK impor harus terlebih dulu mempunyai koneksi dengan sang mucikari. Tapi di tempat ini, proses tawar menawar dilakukan langsung oleh penjaja seksnya. Sang mucikari, hanya mempertemukan keduanya saja. Pola seperti ini pun dinilai cukup fair oleh keduanya. Tapi tentunya, sang mucikari pun akan tetap mendapatkan bagian atas "kerja keras" anak buahnya itu. Dan sebenarnya masih banyak tempat lagi di Jakarta yang menjadi tempat prostitusi perempuan asing ini. Sebut saja, sebuah klub di samping Hotel Jayakarta. Di klub ini, perempuan asal Vietnam dan Thailand akan didapat dengan mudah. Mereka memang berprofesi sebagai penari, tapi mereka juga menjadi pekerja seks untuk mendapatkan uang yang lebih dari sekedar menjadi penyanyi. Tarif mereka pun tidak lebih mahal dari para cungkok atau uzbek, bahkan di bawahnya. Cewek asal Thailand atau Vietnam ini tarifnya hanya antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Bahkan, jika pandai tawar menawar harganya pun bisa di bawah Rp 1 juta. Ini sebenarnya menjadi tantangan bagi Kapolri Sutanto untuk memberangus praktek prostitusi terselubung. Kapolri ditantang tidak hanya memberantas judi dan narkoba, tetapi juga praktek prostitusi yang disinyalir kuat dibekingi oleh aparat penegak hukum dan pemerintah.
(mar/)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Biarkan Ahok Pilih Pendampingnya Pimpin DKI

Siapa bakal pendamping Plt Gubernur DKI Ahok? Masih menjadi pro kontra antara parpol di DPRD DKI dan Kemendagri. Kemendagri memastikan Plt Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo. Setelah diberhentikan sebagai Wagub dan Plt Gubernur dan diangkat menjadi Gubernur, Ahok bisa memilih dua orang untuk menjadi wakilnya. Bila Anda setuju dengan Kemendagri, pilih Pro!
Pro
76%
Kontra
24%