detikcom
Selasa, 19/07/2005 00:18 WIB

Angka Kematian Ibu dan Bayi Indonesia Tertinggi di ASEAN

Ardian Wibisono - detikNews
Jakarta - Angka kematian ibu melahirkan, bayi dan balita di Indonesia tertinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Namun angka kematian Ibu dan bayi dapat ditekan. Angka kematian Ibu dari 334 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menurun menjadi 307 per 100.000 di tahun 2003. Angka kematian bayi dari 46 per 1000 kelahiran hidup di tahun 1997 menjadi 35 per 1000 di tahun 2003. Sementara angka kematian balita dari 58 per 1000 kelahiran hidup menjadi 46 per 1000 di tahun 2003. "Walaupun presentase angka kematian ibu melahirkan, bayi dan balita di sudah berhasil diturunkan namun kita masih tertinggi di ASEAN," ujar Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam jumpa pers tentang Hari Anak Nasional di Depkes, Jl Rasuna Said, Jakarta, Senin (18/7/2005). Tingginya angka kematian ibu melahirkan, bayi, dan balita merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi menjelang hari anak nasional tahun 2005, 23 Juli mendatang. "Masih banyak anak-anak yang haknya untuk hidup dan tumbuh berkembang menjadi anak yang sehat, cerdas, ceria, berbudi luhur, belum terpenuhi," ujar Menkes. Permasalahan lainnya antara lain kasus polio yang menyebar di lima provinsi (sembilan kabupaten), busung lapar dan penularan HIV AIDS. "Data terakhir memang belum lengkap, belum semuanya dilaporkan. Di NTB dan NTT ada 300-an anak yang menderita busung lapar. Untuk anak pengidap HIV, yang tertinggi ada di Papua, Riau, Kalimantan Barat dan Jakarta," kata Menkes. Dalam Hari Anak Nasional tahun ini akan dimulai usaha-usaha mengatasi permasalahan tersebut melaui pencanangan Gerakan Nasional Pemantauan Tumbuh Kembang Anak. Gerakan ini diharapkan menumbuhkan kepedulian dan peran serta masyakarat terhadap anak. Rangkaian acara Hari Anak Nasional akan dimulai Selasa (19/7) hingga Jumat (22/7) dengan agenda penyelenggaraan Kongres Anak Indonesia ke V di Hotel Wisata Ancol, pemeriksaan mata dan pembagian acara gratis bagi 500 anak SD di wilayah DKI tanggal 20 Juli 2005, serta seminar-seminar tentang anak tanggal 27, 28 Juli dan 6 Agustus. Acara Puncaknya akan digelar tanggal 24 Juli di TMII yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(ddn/)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
75%
Kontra
25%