detikcom
Kamis, 14/07/2005 14:14 WIB

Berebut dengan Ternak

NTT Krisis Air Bersih

Emmy F - detikNews
Kupang - Krisis air bersih mulai melanda sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Lebih dari separuh desa di Timor Barat, Alor dan utara Flores mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk konsumsi rumah tangga. Warga terpaksa berebut air dengan ternak piaraan yang diambil dari embung (penampung air). Sebagian warga lainnya harus berjalan kaki lebih dari tiga kilometer untuk mendapatkan air. Sementara harga air per tangki mulai mencekik. Untuk ukuran tangki 5.000 liter mencapai Rp 65.000 di dalam kota, sedangkan di luar kota, harganya mencapai Rp 100.000 lebih. Di Desa, Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang misalnya, masyarakat berebut air dengan ternak piaraan seperti kambing, sapi, babi atau kerbau. Beberapa sumur air bawah tanah yang ada di desa tersebut mulai kering. Salah satu sumur umum yang terletak di kompleks gereja Pitay, tak mampu melayani kebutuhan warga. "Hanya sekali timba, airnya langsung kering. Sehingga masyarakat harus membeli air seharga Rp 5.000 dengan menggunakan gerobak dorong," kata Lelin Itha Ndun, pendeta pada gereja tersebut, Kamis (14/7/2005). Hal yang sama disampaikan Das Pian (32), tokoh masyarakat setempat. Menurut dia, pemerintah Kabupaten Kupang pernah memberikan bantuan tangki untuk membantu kebutuhan air bersih warga. Namun akhir 2004 lalu, tangki itu berhenti beroperasi dan ditarik kembali oleh pemerintah Kabupaten Kupang. Krisis air juga melanda Kota Kupang. Hampir sebagian besar warga yang selama ini mengkonsumsi air bersih dari pelayanan PDAM mulai mengeluh. Manajemen PDAM Kupang terpaksa membagi jadwal pelayanan bagi warga karena debit air di semua sumber air yang dikelola PDAM berkurang drastis. Di Kelurahan Fatubesi, Nunleu, Naikoten II, Naikoten I dan Oebobo, misalnya, pelayanan PDAM hanya berlangsung dua kali dalam seminggu. Itu pun dibatasi hanya dua-tiga jam pada malam hari. Sedangkan di Kecamatan Alak, Kota Kupang, warga harus membeli air dari tangki dengan harga mencapai Rp 65.000-75.000. Kesulitan air bersih juga mulai terasa di bagian Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu. Sementara di Kecamatan Amarasi Timur, Amarasi barat, Amarasi Selatan dan Amarasi, Kabupaten Kupang, sebagian tanaman pertanian dan perkebunan warga mulai terlihat layu. Pimpinan Bagian Kegiatan Pemboran Jaringan Air Bawah Tanah Wilayah Timor, Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah NTT, Djibrael Klaping, yang dihubungi di Kupang, Kamis (14/7/2005) mengatakan, dalam tahun anggaran 2005, pemerintah hanya menyediakan tujuh sumur bor bagi masyarakat Timor Barat. Sumur bor yang sementara dalam penyelesaian itu, enam di antaranya untuk melayani kebutuhan air bersih di Kecamatan Amanuban Selatan dan Amanuban Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, sementara satu unit lainnya untuk kebutuhan masyarakat Desa Tesabela, Kecamatan Kupang barat, Kabupaten Kupang. "Pemerintah sudah melakukan survei di daerah-daerah rawan kekeringan, tetapi tidak ada kandungan air bawah tanah. Daerah-daerah itu akan disiasati dengan cara membangun embung-embung," kata Klaping.

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(asy/)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
44%
Kontra
56%