detikcom

Tragedi Gendong Mayat (1)

Akhir Duka Panjang Khaerunisa

Senin, 13/06/2005 08:34 WIB
Jakarta Cerita tragis kembali berulang di kota Metropolitan Jakarta. Tak ada uang untuk menyewa ambulans, seorang bapak terpaksa menggendong jenazah anaknya berjalan kaki. Peristiwa tragis itu kali ini dialami oleh seorang pemulung bernama Supriono. Kemiskinan yang melilit nyaris membuatnya tidak bisa mengurus kematian putrinya, Khaerunisa, secara layak. Kalau saja tidak ada pertolongan dari warga Manggarai, Jakarta Selatan, bukan tidak mungkin jenazah sang anak membusuk di pelukannya. Khaerunisa (3) adalah anak kedua buah perkawinan Supriono dengan Turiyem. Sejak dilahirkan ke dunia, bisa dibilang Khaerunisa tidak pernah mengecap nikmatnya kebahagiaan seperti anak-anak lainnya. Tak ada kasur empuk, selimut hangat, atau taburan bedak wangi di tubuh mungilnya. Dari hari ke hari Nisa, begitu si kecil ini dipanggil, teronggok di gerobak reot orang tuanya yang bekerja sebagai pemulung sampah. Sejak Nisa lahir, Supriono memang tak lagi mampu menyewa rumah, meski gubuk kumuh sekalipun. Nisa ikut kemanapun gerobak pemulung itu ditarik orang tuanya. Tidur berpindah-pindah, di stasiun kereta, terminal bus, di bawah fly over hingga emperan toko. Penderitaan Nisa semakin lengkap ketika ibunya tidak kuat menahan keangkuhan Jakarta. Turiyem memilih pulang kampung meninggalkan Nisa, Murizki Saleh (kakak Nisa) dan Supriono. Profesi Supriono sebagai pemulung memaksa Nisa selalu bergelut dengan kotoran. Sebab itulah tak jarang gadis kecil ini diserang berbagai penyakit. Puncaknya terjadi pada akhir pekan lalu, Nisa terserang Muntaber. Tubuhnya lemas karena kekurangan banyak cairan tubuh. Makanan yang coba disuapi sang ayah selalu kembali dimuntahkannya. Dengan penghasilan Rp 10 ribu per hari, Supriono hanya bisa membawa Nisa ke Puskesmas. Namun usaha itu sia-sia belaka. Buruknya kondisi Nisa tak cukup diatasi dengan pengobatan murah. Lewat 4 hari setelah itu, Nisa berpulang untuk selama-lamanya. Sang kakak, Murizki, tetap menyangka adiknya sedang tertidur pulas di gerobak butut yang selama ini membawa mereka mengarungi Jakarta. Tragisnya, meski telah meninggal 'penderitaan' masih belum mau pergi. Supriono bingung dimana harus memakamkan jasad si kecil. Dia sangat paham, mustahil memakamkan Nisa di Jakarta. Dari mana dia punya uang untuk menutup segala macam biayanya. Supriono akhirnya berniat memakamkan Nisa di pemukiman pemulung, di Kampung Kramat, Bogor dengan naik KRL. Ditutupi kaos dan selimut, jenazah Nisa kemudian digendongnya. Namun ketika di stasiun Tebet, aksinya dipergoki petugas. Tidak ada simpati, Supriono malah dicurigai macam-macam. Dia pun digelandang ke Mapolsek Tebet. Polisi tidak percaya begitu saja bahwa Nisa meninggal karena sakit. Penjelasan Supriono percuma, mereka tetap meminta agar jenazah Nisa divisum di RSCM. Supriono terus ngotot agar anaknya tidak diotopsi. Beruntung setelah mendapat surat izin kepulangan, akhirnya Supriono bisa membawa pulang kembali jenazah Nisa. Saat itu hari sudah menjelang sore. Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono terpaksa kembali membawa jenazah Nisa dengan berjalan kaki. Saat terengah-engah menyusuri jalan, dia teringat kenalannya di Jl. Manggarai Utara VI RT 08 RW 01. Di daerah itu, Supriono pernah mengontrak sebuah rumah. Keputusannya kali ini berbuah hasil yang baik. Ny Sri, orang yang dituju masih ingat kepada dirinya. Sri lalu meminta warga setempat membantu mengurusi jenazah Nisa. Karena hari sudah sore, jenazah Nisa baru bisa dimakamkan keesokan harinya di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Penderitaan panjang yang dialami Khaerunisa usai sudah. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, begitu kata orang bijak. Nasib tragis yang dialaminya membuat banyak orang menaruh iba. Buntutnya. dia mendapat banyak simpati dan bantuan dari masyarakat. Tidak sedikit juga yang berniat menampung Murizki Soleh. Sosok Supriono juga menjadi incaran sejumlah media massa, cetak maupun elektronik. Konon, setidaknya ada 6 buah stasiun TV meminta Supriono melakukan rekonstruksi peristiwa yang dialaminya. Supriono diminta berulang-ulang kembali mengingat kepiluannya. Situasi seperti ini pada akhirnya membuat Supriono merasa tak nyaman lagi. Bisa jadi dijuga merasa lelah terus mendapat berbagai pertanyaan dari wartawan. Dia pun sempat menghilang. "Dia sudah tidak ada di sini. Dia ngga bilang mau kemana," kata Purwanti, warga Jl. Manggarai Utara kepada detikcom, Sabtu (11/6/2005). Namun pada Minggu (12/6/2005) sekitar pukul 13.00 WIB, Supriono muncul kembali. Supriono datang dengan menggunakan kemeja berwarna merah hati dipadu celana jeans. Kedatangan Supriono ini untuk pamitan kepada para warga yang telah membantu dirinya. "Saya mau pergi sementara waktu ke suatu tempat," ujarnya sambil melenggang pergi. (Nala Edwin/)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
Lapsus Index »
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel