detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Minggu, 20/04/2014 11:26 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Rabu, 03/11/2004 16:11 WIB

Duh, Upah Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia Paling Rendah

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Dumai - TKI (tenaga kerja Indonesia) di Malaysia memang benar-benar memprihatinkan. Upah mereka di Malaysia paling rendah dibanding tenaga-tenaga kerja dari negara lain. Pengakuan mengenai upah TKI di Malaysia ini terungkap saat sekitar 300 TKI ilegal yang baru saja dipulangkan dari Malaysia melakukan dialog dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Selasa (3/11/2004). Dialog digelar di halaman kantor Pelabuhan Indonesia, Dumai, Riau. Selain diikuti sekitar 300 TKI ilegal, dialog ini juga diikuti oleh sejumlah warga Dumai. Saat berdialog dengan para TKI ini, presiden didampingi oleh sejumlah pejabat, antara lain Dubes RI untuk Malaysia Rusdihardjo. Dalam dialog yang belangsung pukul 14.00-15.00 WIB, presiden memberikan kesempatan kepada TKI untuk menyampaikan keluhan-keluhan selama bekerja di Malaysia. Presiden memberikan kesempatan kepada empat TKI ilegal dan empat warga Dumai untuk bertanya, yang fokusnya adalah permasalahan TKI di Malaysia atau negara lain. Dari sejumlah pertanyaan dan komentar, kisah dari Aisyah, TKI asal Kerinci, Jambi yang paling mendapat banyak sorotan. Menurut Aisyah, TKI di Malaysia selama ini selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Salah satu contohnya, adalah murahnya upah tenaga kerja asal Indonesia, termasuk buruh bangunan sampai pembantu rumah tangga (PRT). Buruh bangunan dari Indonesia hanya bisa mendapatkan upah paling tinggi RM 50 per hari. Sementara buruh dari Thailand dan Filipina bisa mendapatkan upah RM 100-150 per hari. Upah yang lebih memprihatinkan adalah upah PRT. Bila PRT asal Filipina dan Thailand bisa mencapai RM 1.000 per bulan, PRT asal Indonesia hanya bisa mendapatkan upah RM 400 per bulan. Atas hal ini, Aisyah meminta pemerintah memperhatikan hal ini. Menanggapi masalah ini, Presiden SBY langsung meminta Rusdihardjo untuk berkomentar dan memberikan solusi. Rusdihardjo membenarkan TKI di Malaysia selalu mendapat perlakuan yang tidak adil, terkait upah. Bahkan, PRT asal Indonesia juga sering mengalami pelecehan seksual oleh para majikannya. Menurut Rusdihardjo, perbedan upah yang terlalu mencolok antara tenaga kerja Indonesia dan negara lain itu bisa terjadi, karena TKI kurang profesional. "Misalnya, PRT dari kita banyak yang gagap teknologi. Padahal, barang rumah tangga di Malaysia sudah serba elektronis," kaat dia. Hal lain, kata Rusdihardjo, TKI di Malaysia tidak bisa berbahasa Inggris. "Ini yang membuat tenaga kerja kita di Malaysia paling murah upahnya," jelasnya.

Ikuti berbagai berita menarik yang terjadi hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

(asy/)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%