Detik.com News
Detik.com
Rabu, 03/11/2004 16:11 WIB

Duh, Upah Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia Paling Rendah

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Dumai - TKI (tenaga kerja Indonesia) di Malaysia memang benar-benar memprihatinkan. Upah mereka di Malaysia paling rendah dibanding tenaga-tenaga kerja dari negara lain. Pengakuan mengenai upah TKI di Malaysia ini terungkap saat sekitar 300 TKI ilegal yang baru saja dipulangkan dari Malaysia melakukan dialog dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Selasa (3/11/2004). Dialog digelar di halaman kantor Pelabuhan Indonesia, Dumai, Riau. Selain diikuti sekitar 300 TKI ilegal, dialog ini juga diikuti oleh sejumlah warga Dumai. Saat berdialog dengan para TKI ini, presiden didampingi oleh sejumlah pejabat, antara lain Dubes RI untuk Malaysia Rusdihardjo. Dalam dialog yang belangsung pukul 14.00-15.00 WIB, presiden memberikan kesempatan kepada TKI untuk menyampaikan keluhan-keluhan selama bekerja di Malaysia. Presiden memberikan kesempatan kepada empat TKI ilegal dan empat warga Dumai untuk bertanya, yang fokusnya adalah permasalahan TKI di Malaysia atau negara lain. Dari sejumlah pertanyaan dan komentar, kisah dari Aisyah, TKI asal Kerinci, Jambi yang paling mendapat banyak sorotan. Menurut Aisyah, TKI di Malaysia selama ini selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Salah satu contohnya, adalah murahnya upah tenaga kerja asal Indonesia, termasuk buruh bangunan sampai pembantu rumah tangga (PRT). Buruh bangunan dari Indonesia hanya bisa mendapatkan upah paling tinggi RM 50 per hari. Sementara buruh dari Thailand dan Filipina bisa mendapatkan upah RM 100-150 per hari. Upah yang lebih memprihatinkan adalah upah PRT. Bila PRT asal Filipina dan Thailand bisa mencapai RM 1.000 per bulan, PRT asal Indonesia hanya bisa mendapatkan upah RM 400 per bulan. Atas hal ini, Aisyah meminta pemerintah memperhatikan hal ini. Menanggapi masalah ini, Presiden SBY langsung meminta Rusdihardjo untuk berkomentar dan memberikan solusi. Rusdihardjo membenarkan TKI di Malaysia selalu mendapat perlakuan yang tidak adil, terkait upah. Bahkan, PRT asal Indonesia juga sering mengalami pelecehan seksual oleh para majikannya. Menurut Rusdihardjo, perbedan upah yang terlalu mencolok antara tenaga kerja Indonesia dan negara lain itu bisa terjadi, karena TKI kurang profesional. "Misalnya, PRT dari kita banyak yang gagap teknologi. Padahal, barang rumah tangga di Malaysia sudah serba elektronis," kaat dia. Hal lain, kata Rusdihardjo, TKI di Malaysia tidak bisa berbahasa Inggris. "Ini yang membuat tenaga kerja kita di Malaysia paling murah upahnya," jelasnya.

Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(asy/)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Tolak APBD DKI 2015, Parpol Lembek dan Mengecewakan

DPRD DKI menolak penggunaan APBD DKI 2015 setelah tak mau membahasnya lewat rapat Badan Anggaran. Tokoh antikorupsi Buya Syafii Maarif mengatakan sikap partai lembek dan mengecewakan. "Mereka menolak isu anggaran siluman tetapi mendukung atau tidak menarik diri dari Hak Angket. Padahal, Ahok diangket karena jelas menolak anggaran siluman itu," kata Buya Syafii. Bila Anda setuju pendapat Buya Syafii, pilih Pro!
Pro
100%
Kontra
0%