Selasa, 18/05/2004 18:59 WIB

Basmi Tikus, 100 Ular Sawah Dilepas di Sleman

Bagus Kurniawan - detikNews
Yogyakarta - Prihatin karena terus-menerus gagal panen akibat diserang hama tikus, sekitar 100 ular sawah jenis phyton dilepaskan di areal persawahan Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan Sleman. Acara pelepasan ular sawah sebagai predator alami untuk mengendalikan hama tikus itu hari ini Selasa (18/5/2004) dilakukan oleh Bupati Sleman, Ibnu Subiyanto bersama-sama dengan petani di wilayah Cangkringan. Turut hadir pula Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman Achmad Yulianto. Serangan hama tikus itu tidak hanya menyerang tanaman padi yang telah berbuah saja tetapi batang tanaman padi umur satu bulan pun habis dimakan tikus. Saat melepas ular di lahan persawahan, Ibnu Subiyanto berharap para petani tidak lagi menangkap atau membunuh ular sawah yang terbukti efektif sebagai predator alami untuk mengendalikan hama tikus. "Kami mohon bapak-bapak tani bisa memperlakukan ular-ular yang dilepas itu sebagai sahabat. Ular-ular ini adalah pengawal tanaman bapak-bapak. Jadi, jangan sampai pengawal tanaman ini malah dibunuh. Kalau ada pencari ular tolong diusir jangan sampai mereka membunuh ular-ular ini," kata Ibnu. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman Achmad Yulianto menambahkan, dilepaskannya kembali ular sebagai predator alami tikus setelah terbukti di areal persawahan di Kecamatan Godean, Minggir dan Moyudan yang tahun 2002 - 2003 lalu selalu gagal, pada musim panen sekarang ini para petani bisa panen. Lebih dari 600 hektar areal sawah milik petani di ketiga kecamatan tersebut yang menjadi sentra padi di Sleman bagian barat saat ini bisa bernapas lega karena berhasil panen. "Kita berharap wilayah Cangkringan yang menjadi sentra padi di Sleman timur setelah dilepas ular-ular itu juga bisa panen dengan baik," katanya. Menurut Yulianto, pelepasan ular ini karena upaya lain tidak bisa dilakukan mengingat kondisi alam persawahan di daerah Argomulyo dan sekitarnya dengan pematang sawah yang terdiri atas susunan batu-batu gunung sehingga banyak rongga yang menjadi tempat ideal bagi persembunyian tikus. "Pematang sawah seperti itu, gropyokan tikus dengan membongkar liang tidak bisa dilakukan. Sehingga cara paling efektif adalah melepas predator alami tikus, yakni ular sawah," katanya. Seorang petani bernama Suwijo Hartono menceritakan, selama satu tahun hanya bisa panen satu kali panen dalam tiga kali masa tanam. Itu pun hanya 30 - 50 persen yang bisa dipanen, sisanya habis dimakan tikus. Hanya saja yang dikhawatirkan petani seperti Suwijo setelah dilepaskannya ular-ular itu di wilayah Cangkringan, akan banyak pencari katak dan pencari ular di malam hari. "Saya khawatir ular-ular yang dilepas ini akan habis ditangkapi para pencari katak itu," katanya. Mereka sempat usul kepada bupti agar ada Perda berisi larangan membunuh ular dan sanksi denda sebesar Rp 750.000 untuk setiap ekor ular yang dibunuh. Namun Ibnu menyatakan tidak bisa mengeluarkan Perda semacam itu dan hanya bisa menerbitkan Instruksi Bupati yang melarang penduduk membunuh predator alami, termasuk ular sawah. "Silakan warga berembuk sendiri bagaimana mengatasinya. Misalnya dengan melakukan ronda di malam hari untuk mengingatkan agar pencari katak dan ular tidak berburu di Cangkringan," katanya.

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(nrl/)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
84%
Kontra
16%