MUNAS XIV HIPMI

Indonesia Menjadi Poros Ekonomi Global?

- detikNews
Senin, 17 Okt 2011 14:15 WIB
Jakarta - Mozaik historis Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar tak bisa dilepaskan dari epos catatan panjang sebagai kota niaga. Jauh sebelum Indonesia merdeka, Kota Makassar telah menjadi lalulintas perdagangan internasional yang ramai disinggahi pedagang dari berbagai penjuru benua.

Sebagai kota bahari, Makassar tempoe doeloe yaitu sepanjang abad 16-18 telah menjadi tujuan negara-negara Eropa yang menguasai sarana transportasi laut, jembatan antar benua dan penyulam geografis yang paling maju saat itu.

Di Asia Tenggara, Makassar menjadi sentrum bisnis yang oleh raja-rajanya menganut sistem pasar bebas terkontrol, sehingga tidak memungkinkan terjadinya praktek monopoli. Terjadi persaingan dengan nuansa kompetitif yang sehat.

Maka tidak berlebihan jika spirit itu dikembalikan melalui momentum Musyawarah Nasional (MUNAS) XIV HIPMI. Penggunaan perahu phinisi sebagai logo Munas XIV HIPMI menjadi simbol untuk mengembalikan memori kita akan ketangguhan manusia-manusia nusantara mengarungi samudera yang saat itu menjadi medium transportasi utama dalam menjalankan bisnis lintas benua.

Peluang dan Proyeksi

David McClelland menyatakan bahwa suatu bangsa bisa disebut makmur bila jumlah entreprenuer atau pengusaha paling sedikit 2 persen dari total jumlah penduduknya. Berdasarkan data dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), jumlah pengusaha di Indonesia saat ini hanya 0,24 persen dari total penduduk atau sekitar 568.800 orang.

Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, jumlah ideal pengusaha Indonesia semestinya 4.740.000 dari asumsi total penduduk 237 juta jiwa. Artinya, dari kondisi ideal tersebut maka Indonesia masih kekurangan sekitar 4.171.200 orang wirausahawan. Peluang yang sangat besar.

Sebagai gambaran, kondisi berbeda terjadi di negara-negara maju seperti tetangga kita, Singapura. Persentase jumlah pengusaha di negeri Singa itu mencapai 7,20 persen dari total penduduknya. Sementara India yang merupakan negara yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, memiliki pengusaha sekitar 11 persen dari total penduduknya yang berjumlah 1,2 miliar jiwa.

Dari rasio 568.800 orang pengusaha yang ada di Indonesia, sebagian besar yaitu 75 persen merupakan pengusaha muda atau 0,18 persen dari total jumlah penduduk. Dibandingkan dengan Malaysia yang jumlah pengusaha mudanya mencapai angka 16 persen dari jumlah penduduk, artinya bahwa Indonesia tertinggal sangat jauh.

Salah satu variabel yang menjadi faktor penyebab masih rendahnya minat wirausaha di Indonesia adalah karena sebagian besar pemuda masih terjebak pada orientasi pegawai, baik pegawai negeri maupun pegawai swasta.

Hal ini terlihat dari data Kementerian Pendidikan Nasional yang memperlihatkan bahwa pada umumnya 60,87% lulusan SLTA dan 83,18% perguruan tinggi lebih minat menjadi pekerja atau karyawan (job seeker) dibandingkan dengan yang berupaya menciptakan lapangan kerja melalui entrepreneur.

Oleh karenanya, pertumbuhan dunia usaha juga tidak begitu akseleratif. Hal ini berefek domino, yaitu menyebabkan besarnya angka pengangguran karena keterbatasan lapangan kerja baru yang 70 diserap oleh sektor entrepreneur.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa saat ini angka pengangguran mencapai 6,8% atau 8,1 juta orang. Yang menyedihkan, ternyata pengangguran paling banyak didominasi para lulusan sarjana dan diploma. BPS menguraikan, jumlah lulusan sarjana dan diploma yang menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78% atau sekitar 2 juta jiwa pada kedua tingkat pendidikan tersebut.

Dari sini nampak bahwa lembaga pendidikan terkooptasi pada domain peran sebagai lembaga yang melahirkan sarjana yang job seeker.

Wirausaha tentu menjadi penting, karena sektor ini dapat menciptakan lapangan kerja. Bahkan 70 persen penyerapan tenaga kerja dilakukan oleh sektor entrepreneur baru.

Jika kita melihat negara-negara yang menjadi emerging market saat ini, seperti Cina, India dan Brazil, maka pilar utama yang menopang mereka adalah sektor entrepreneur. Di negara-negara tersebut sektor entrepreneur, khususnya industri manufaktur dan pertanian berkembang pesat.

Tantangan Masa Depan

Dalam perjalanannya di masa depan, dimana globalitas meruntuhkan sekat geografis antar benua sehingga proses niaga semakin mudah, maka HIPMI akan diperhadapkan pada sejumlah tantangan.

Pertama, pasar bebas yang ditandai dengan penandantangan sejumlah free trade agreement (perjanjian perdagangan bebas) seperti China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) yang dampaknya sudah mulai terasa saat ini. Membanjirnya produk impor dengan daya tawar yang lebih tinggi menyebabkan produk lokal terseok karena ketidaksiapan untuk bersaing.

Sikap abai pemerintah dan bahkan meliberalisasi pasar, seperti pada produk sektor pertanian yang merupakan komoditas utama yang sebenarnya bisa diproduksi oleh masyarakat lokal.

Lemahnya pendampingan kepada pengusaha lokal yang tidak mampu mendorong sektor hulu untuk memproduksi komoditas unggulan, menyebabkan produk impor laris mulus dipasaran. Oleh karena itu, menjadi tugas dan tantangan HIPMI masa depan untuk mendampingi dan mewadahi pengusaha-pengusaha lokal, dimulai dari hulu hingga hilir agar mereka bisa bersaing.

Kedua, bangsa Indonesia saat ini menjadi negara dengan berpenduduk terbesar ke empat di dunia, dalam kacamata pasar, Indonesia menjadi sangat seksi untuk dieksplorasi lebih jauh. Apa lagi dengan budaya konsumtif masyarakat yang sudah menjadi gaya hidup. Berarti bahwa Indonesia juga merupakan pasar potensial setelah China, India dan Amerika karena besaran jumlah penduduknya yang mencapai 237 juta jiwa per 2011.

Ketiga, proyeksi pergeseran kekuatan ekonomi global ke Asia berdasarkan analisis sejumlah lembaga internasional seperti Standard Chartered Bank, menjadi peluang emas oleh pelaku bisnis di Indonesia untuk memanfaatkan momentum membangun jejaring bisnis regional atau per kawasan. Oleh karenanya, HIPMI perlu mendorong lahirnya awarness (kesadaran) masyarakat akan potensi tersebut yang diikuti oleh pembinaan bagi mereka yang telah sadar untuk terjun ke dunia bisnis.

Keempat, di tengah bayang-bayang krisis global yang diakibatkan oleh terjadinya ketimpangan ekonomi akibat praktek kapitalisme yang menihilkan peran pertumbuhan ekonomi sektor ril yang berbasis usaha mikro kecil dan menengah, maka HIPMI harus mampu menjadi sabuk pengaman bagi usaha-usaha lokal dan ekonomi secara nasional agar tidak terpengaruh oleh dampak krisis.

Jaringan HIPMI di 33 provinsi, harus dimanfaatkan untuk menjaga ketahanan ekonomi dan dunia usaha yang berbasis ekonomi lokal (per daerah). Sinergi antara komoditas daerah dan potensi pasar Indonesia perlu dioptimalisasi.

Kelima, potensi terbesar untuk menyemai pengusaha-pengusaha baru adalah dari lembaga pendidikan, baik kampus maupun sekolah, dengan pertimbangan bahwa lembaga pendidikan menyiapkan referensi bisnis lebih sistematis sehingga mengurangi potensi try and error yang sering kali banyak menyebabkan pengusaha pemula berguguran di jalan bisnis.

Olehnya itu, eksistensi HIPMI Perguruan Tinggi (HIPMI PT) yang telah di deklarasikan pada 15 Juni 2011 yang lalu, perlu didorong dengan sinergi lintas komponen. Baik dengan pelaku bisnis maupun dengan pemerintah yaitu Kementrian Pendidikan Nasional serta Kementrian yang membidangi dan Usaha Mikro Kecil Menengah dan lembaga lainnnya.

Perlu penyusunan kurikulum bisnis yang tidak sekedar teoritis, tetapi juga aplikatif. Dalam hal ini, peran HIPMI sebagai organisasi para pelaku bisnis dibutuhkan kontribusinya bukan hanya pada penyusunan konsep, tetapi lebih penting pada tahap pendampingan (mentoring) pengusaha pemula yang tergabung dalam HIPMI PT.

Akhirnya, kita berharap bahwa Munas ke XIV HIPMI yang berlangsung 17-20 Oktober 2011 ini, berkontribusi besar bagi kemandirian dan kedaulatan perekonomian Indonesia.

Ketika penguasa mengabaikan rakyat dan sibuk dengan persoalan kekuasaan, biarlah HIPMI yang mengawal keseimbangan ekonomi bangsa ini. Selamat melaksanakan Munas. Majulah Pengusaha

*Penulis adalah Ka. Kompartemen Media & Komunikasi Bakorda HIPMI PT Sulsel dan Business Owner DKI Sotre


Jusman Dalle
Jl. Urip Sumoharjo Km. 05 Makassar
jusmandalle@rocketmail.com
085299430323

(wwn/wwn)