DetikNews
Kamis 12 Sep 2013, 10:30 WIB

Mega Belum Legowo Jokowi Capres?

- detikNews
Mega Belum Legowo Jokowi Capres?
Jakarta - Keputusan PDIP untuk menunggu hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) dalam menentukan calon presiden (capres) adalah langkah strategis. Partai moncong putih itu tidak sedang dihadapkan pada posisi \\\'bagai makan buah simalakama\\\'.

PDIP sengaja menyimpan \\\'amunisi\\\' terakhirnya yang maha dahsyat. Kekuatan amunisi mereka bak sebuah nuklir yang daya ledaknya bisa \\\'menggegerkan\\\' konstelasi politik.

Kenapa PDIP menyimpan Capresnya? Tentu saja, mereka tak mau kehabisan amunisi. Andai saja mereka mengikuti mainstream media, wacana publik, atau hasil berbagai survey yang menempatkan \\\'kader mutiaranya\\\' Jokowi sebagai capres terpopuler, bisa jadi energi PDIP terkuras untuk mengcounter \\\'serangan-serangan\\\' kepada Jokowi.

Belum ditetapkan saja, isu-isu miring untuk memreteli elektabilitas Jokowi yang terus melesat semakin massif. Apalagi kalau sudah diketuk palu Jokowi Capres PDIP.

Dalam pidato politiknya di Rapat Kerja Nasional III, Jumat (6\/9), Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri telah begitu \\\'terang benderang\\\' memberikan sinyal pencapresan Jokowi.

Empat kali putri Proklamator itu menyebut nama Jokowi. Penunjukan Jokowi oleh Mega untuk membacakan \\\'dedication of life\\\' Bung Karno semakin menguatkan bahwa mantan Walikota Solo itu adalah satrio piningitnya PDIP.

Namun Mega belum sepenuhnya merasa lega dan legowo untuk Jokowi ditetapkan sebagai capres PDIP sekarang. Bisa jadi tafsiran banyak pihak atas sinyal-sinyal politik Mega dalam pidatonya itu salah.

Karena jangan lupa juga di internal PDIP masih cukup kuat \\\'syahwat\\\' untuk kembali mencapreskan Megawati. Sebagai anak biologis dan ideologis Bung Karno, keterpilihan Mega masih di papan atas. Terbukti dalam setiap survey, Mega tak pernah jauh dari lima besar bursa Capres.

Dus, selain menghadapi hadangan dari eksternal, PDIP juga harus menuntaskan \\\'riak-riak\\\' kecil perbedaan pandangan pilihan Capres antara Jokowi atau Mega. Khusus serangan eksternal seperti Gerindra yang paling merasa terganggu dengan popularitas Jokowi yang telah menyalib capres mereka, Prabowo Subianto.

Beberapa pernyataan Gerindra di media, mereka akan menggugat Jokowi karena telah melanggar kontrak politik saat Pilgub DKI Jakarta. Dimana kontrak antara Jokowi dan Ahok sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu berlangsung satu periode (5 tahun).

Jokowi juga akan dinilai sebagai pemimpin yang tak pernah tuntas dalam memimpin. Ketika di Solo, di tengah jalan dalam periode kedua menjadi Walikota Solo, Ia memilih nyalon gubernur (Nyagub) di DKI.

Saat ini, baru sebentar jadi Gubernur, Jokowi malah nyalon presiden (nyapres). Begitulah kurang lebih gambaran \\\'black campaign\\\' kepadanya jika memang Ia ditetapkan sebagai Capres PDIP.

Jokowi juga akan dicap rakus kekuasaan. Selain itu, kondisi DKI Jakarta yang masih \\\'amburadul\\\': macet, proyek MRT masih mangkrak, banjir, sampah, dan sebagainya akan menjadi bahan-bahan serangan lawan politik PDIP.

Penulis sepakat jika Jokowi adalah icon pendongkrak popularitas PDIP. Tapi ternyata hal itu tidak berlaku nasional. Terbukti \\\'Jokowi effect\\\' di Pilgub Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, pemilihan Walikota Tangerang, dan beberapa Pilkada lainnya tidak mujarab.

Di beberapa daerah dalam Pilkada ada gejala partai no, figur yes. Apakah hal itu berlaku juga di pemilihan presiden (pilpres) 2014 nanti?

Singkat kata, menarik kita nantikan arah mata angin PDIP. Saat ini bisa dikatakan partai berideologi Marhaen itu sedang membawa \\\'kompas\\\' atau penunjuk arah Pilpres 2014.

Jika PDIP tak piawai memanfaatkan kompas tersebut, bukan tidak mungkin partai lain juga mempunyai alat penunjuk \\\'arah mata angin politik\\\' yang lebih \\\'canggih\\\'.

*Penulis adalah peneliti Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC)<\/em>


Nurfahmi<\/strong>
Jl Bima Raya, Depok 2 Tengah<\/strong>
nurfahmib@gmail.com<\/strong>
08979340122<\/strong>


(wwn/wwn)
Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV
Komentar ...
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed