DetikNews
Jumat 22 Feb 2013, 14:02 WIB

Mengapa Pertamax Disamakan Dengan Premium

- detikNews
Mengapa Pertamax Disamakan Dengan Premium
Jakarta - Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang masih mensubsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk masyarakatnya. Mensubsidi BBM memiliki dampak positif dan negatif tentunya.

Masyarakat kurang mampu sangat terbantu dengan adanya subsidi ini. Sektor industri rumah tangga dan informal juga bisa menekan biaya.

Namun demikian subsidi ini terus dipandang sebagai solusi keliru karena praktiknya yang tidak tepat sasaran sehingga ratusan trilyun rupiah sebagian besar dibakar untuk mensubsidi kendaraan pribadi yang justru mampu atau seharusnya mampu membeli BBM non subsidi.

Isu BBM bersubsidi ini selalu menjadi isu hangat. Namun entah mengapa pembahasan penyelesaian masalahnya terlalu sering berkutat di apakah perlu menaikan harga dengan menurunkan subsidi atau tidak, jika perlu berapa harganya, dll.

Pemikiran alternatif yang muncul pun relatif membutuhkan biaya yang tidak sedikit (konversi ke gas, membuat mobil elektrik) atau diragukan untuk efektivitasnya (pembatasan berdasarkan CC, anjuran pemerintah, dan terakhir usul penempelan stiker besar, dll).

Seharusnya Pertamina bisa lebih kreatif dalam memunculkan solusi-solusi yang berbiaya rendah untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi dan meningkatkan konsumsi Pertamax (non subsidi).

Yang bisa dilakukan adalah dengan melihat baik-baik sebenarnya apa yang membuat (insentif) masyarakat mampu mengkonsumsi BBM bersubsidi (Selain Harga). Menurut saya saat ini tidak ada perbedaan manfaat lebih (selain kualitas bbm) bagi konsumen Pertamax.

Tidak ada fasilitas transaksi lebih baik, waktu pengisian yang lebih cepat, atau sekedar servis pegawai yang lebih baik bagi konsumen non subsidi. Hal ini sedikit banyak mengurangi insentif masyarakat mampu pengguna Premium untuk beralih ke Pertamax.

Pertamina sebagai BUMN harus memiliki praktik pemasaran produk yang sesuai dengan tujuan strategis pemerintah. Oleh karena itu praktik pemasaran dan penjualan pertamina harus didesain agar mampu memberikan insentif bagi pengguna Pertamax dan disinsentif bagi pengguna Premium.

Menurut saya, setidaknya ada 2 langkah strategis untuk yang bisa dilakukan pertamina untuk meningkatkan konsumsi Pertamax; Perubahan Branding Strategy dari Premium dan Penambahan Kenyamanan fasilitas transaksi konsumen Pertamax.

Branding strategy yang saya maksud adalah sejalan dengan usulan mantan menteri ESDM Darwin Zahedy yang mengusulkan untuk mengganti nama Premium.

Pada saat Darwin Zahedy mengusulkan untuk mengganti nama \\\'Premium\\\' dengan \\\'Bensin Miskin\\\', banyak yang menentang karena alasan yang berbeda-beda. Menurut saya perubahan nama memang tidak harus menjadi \\\'Bensin Miskin\\\'.

Nama Premium bisa saja diganti dengan \\\'Bensin Subsidi\\\', \\\'Bensin Timbal\\\' atau lainnya, tapi jelas bukan\\\'Premium\\\'. Kata \\\'Premium\\\' memiliki banyak versi definisi, namun kesamaan dari definisi tersebut adalah nilai tambah.

Jelas hal ini merupakan strategi Branding yang salah dan tidak sejalan dengan tujuan pemerintah yang menyediakan Premium justru untuk kalangan masyarakat yang tidak mampu. Belum lagi kualitas bahan bakar tersebut yang memang tidak premium dibandingkan alternatif lainnya.

Perubahan nama ini pent ing bukan hanya untuk mengalihkan konsumen Premium ke Pertamax, tapi lebih penting untuk menyelaraskan segmentasi penjualan produk dengan strategi Branding perusahaan, dalam hal ini pemerintah melalui Pertamina.

Hal ini adalah hal yang lumrah dilakukan oleh perusahaan lain yang menjual dua produk sejenis namun berbeda merek.

Yang kedua yaitu penambahan fasilitas. Saat ini Pertamax dan Premium bersaing di playing field yang tidak rata. Harga diantara keduanya sangat berbeda jauh.

Namun demikian, tidak ada insentif tambahan dari Pertamina agar pemilik kendaraan yang mampu akhirnya membeli Pertamax. Contoh sederhana adalah pelayanan konsumen di sebuah SPBU. Jumlah pompa yang menyediakan Pertamax seharusnya lebih banyak dari Premium.

Hal ini mungkin akan membuat antrian Premium lebih panjang, namun itulah risiko dari membeli bensin bersubsidi. Jika ingin cepat, gunakan Pertamax.

Ada banyak hal lain yang bisa diberikan kepada pengguna Pertamax seperti fasilitas dan metode pembayaran yang lebih beragam, fasilitas pembersihan kendaraan selama pengisian, dan lain-lain.

Belum lagi pembatasan jumlah SPBU yang menjual Premium. Yang pasti proses penjualan kepada konsumen harus didesain agar nilai tambah harus diberikan kepada pembeli pertamax.

Analogikan seperti industry penerbangan. Pernahkah kita bertanya mengapa pesawat kelas ekonomi dibuat sangat rapat, meluruskan kaki pun sulit, jarak antar kursi yang sempit dan sangat tidak nyaman?

Sedangkan mengapa kelas bisnis sangat nyaman, pelayanan ramah, check in tanpa antrian panjang, prioritas naik turun dll? Karena kelas bisnis bayar lebih mahal? Ya tentunya.

Tapi sesungguhnya ada alasan lainnya. Kelas ekonomi dibuat relatif tidak nyaman agar orang-orang yang sebenarnya mampu membayar lebih akan beralih ke kelas bisnis.

Ini adalah penerapan sederhana dari teori insentif. Konsumen akan menimbang cost and benefit dari 2 alternatif barang atau jasa yang ada sehingga membuat alokasi konsumen beralih dari satu produk ke produk laiinnya.

Saat ini pemerintah, politisi, dan stakeholder lainnya terlalu fokus kepada satu faktor pembeda yaitu harga BBM bersubsidi. Memang harga itu faktor yang sangat krusial, namun jangan lupa itu juga faktor yang sangat sensitif.

Seharusnya pemerintah melalui pertamina bisa memperbaiki pelayanan konsumen Pertamax lebih baik lagi. Karena bisa saja konsumen yang mampu membeli Pertamax tetap mengkonsumsi Premium karena tidak ada insentif yang didapatkan dengan membeli Pertamax.

Kalau konsumen Pertamax membayar lebih mahal mengapa mereka disamakan?


Arie Prasetyo<\/strong>
arieprasetyo@live.com<\/strong>
+61450769091<\/strong>


(wwn/wwn)
Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB
Komentar ...
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed