DetikNews
Senin 03 Dec 2012, 15:31 WIB

Penetapan UMR DKI Jakarta, Sudah Sesuaikah?

- detikNews
Penetapan UMR DKI Jakarta, Sudah Sesuaikah?
Tangerang - Saya sangat terkejut ketika Gubernur baru DKI Jakarta Jokowi pada akhirnya menetapkan UMR Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp 2,2 juta.

Sebagai seorang pekekerja sekaligus ibu rumah tangga, yang ada di benak saya adalah \\\"Wah, harus cepat-cepat membeli sembako, bulan depan pasti harga-harga sudah naik!\\\". Padahal, saat ini saya berdomisili di Tangerang.

Berhari-hari saya terus berpikir mengenai kebijakan Gubernur DKI yang selama ini terkenal cukup bijaksana dalam menetapkan segala sesuatu. \\\"Tapi mohon maaf ya Pak, kali ini saya tidak setuju dengan Anda.\\\"

Dibalik ketidaksetujuan saya terhadap Jokowi, saya paham bahwa Beliau telah berusaha keras mencari jalan keluar yang terbaik. Mungkin opini saya ini bisa dilirik oleh Jokowi tanpa saya digugat para buruh.

Kenaikan UMR DKI telah memicu buruh di berbagai daerah lain untuk melakukan gerakan yang sama. Demo menuntut kenaikan UMR! Semua ingin gaji besar menurut ukurannya masing-masing.

Belum lagi nanti kalau semua buruh sudah naik gaji, yang lulusan sarjana bagaimana Pak? Besar kemungkinan mereka akan ikut menuntut kenaikan pendapatan. Apakah upah sarjana harus disamakan dengan lulusan SMU?

Bukan rahasia umum jika lulusan sarjana banyak yang sudah bekerja keras membanting tulang tapi mendapat upah di bawah Rp 2 juta. Bahkan PNS yang lulusan S2 \\\'fresh graduate\\\', mendapat gaji tidak sampai Rp 2,2 juta.

Belum juga pendapatan dinaikkan, harga barang-barang kebutuhan pokok sudah merambat naik. Sepertinya kenaikan pandapatan yang ada nantinya tidak akan imbang dengan tingkat inflasi yang terjadi.

Selain itu, pengusaha juga sudah banyak yang mengeluhkan kenaikan UMR yan lebih dari 40%. Para pengusaha bahkan sudah siap mengurangi karyawan, memindahkan usaha, atau bahkan gulung tikar.

Hal ini bisa berakibat angka kemiskinan dan kejahatan di DKI meningkat tajam. Bukan tidak mungkin hasil akhirnya akan memicu terjadinya krisis moneter yang akan merugikan banyak pihak termasuk merugikan buruh sendiri.

Sebenarnya yang penting bukan kenaikan gajinya? Tetapi diharapkan peningkatan nilai uang. Sehingga dengan uang Rp 1 juta sudah cukup untuk makan sebulan, mencicil rumah, menyekolahkan anak, membayar dokter, membeli kendaraan, jalan-jalan, dan sebagainya. Mungkinkah?

Untuk apa gaji naik kalau hanya bisa bertahan setengah bulan. Selebihnya \\\'gali lubang lalu tutup lubang\\\' alias hutang dimana-mana.

Ini mungkin pendapat orang awam seperti saya. Lebih baik buruh menuntut perusahaan menjamin kesehatan dan sekolah bagi anak-anak para buruh termasuk kesehatan keluarganya.

Artinya, biaya sekolah dan ke dokter gratis karena telah ditanggung oleh perusahaan, termasuk imunisasi, buku, tas, sepatu, baju sekolah, dll.

Hal ini berbeda dengan kartu sehat atau kartu pintar. Karena yang saya harapkan adalah yang seperti pengalaman seorang rekan saya yang telah disekolahkan gratis sampai SMU dengan fasilitas yang sangat baik.

Bisa periksa langsung ke dokter spesialis tanpa rujukan, dan sekolahnya memiliki standar kurikulum dan pengajar yang sangat baik. Bagi erusahaan, hal ini mungkin dapat dilakukan bekerjasama dengan perusahaan lainnya, atau bekerja sama dengan asuransi tertentu.

Sekali lagi saya sarankan, dibuat gratis untuk semuanya, bukan ditanggung 80% seperti asuransi yang saya miliki dari perusahaan suami saat ini.

Selain itu, alangkah baiknya jika perusahaan menyediakan penitipan anak terutama balita ditempat yang cukup dekat dengan lokasi kerja. Sehingga para buruh atau pegawai tidak kebingungan mencari asisten rumah tangga yang konon saat ini ikut meminta gaji Rp 2,2 juta kalau bekerja di Jakarta.

Sepertinya pemikiran ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu meringankan beban pemerintah.

Saya merasa sangat prihatin. Tempat tinggal saya cukup dekat dengan lingkungan pabrik. Fenomena yang ada menunjukkan bahwa buruh pria gemar merokok, sementara buruh wanita gemar belanja, meski sebagian ada yang tidak.

Keduanya bahkan gemar sekali gonta-ganti handphone dan kredit sepeda motor baru sekalipun yang lama masih sangat layak digunakan. Kaum buruh boleh saja punya pendidikan yang minimal, tapi diharapkan punya pemikiran yang maksimal.

Kapan negara kita maju jika setiap ada masalah hanya diselesaikan dengan demo, apalagi demo anarkis. Bukankah tujuan meminta kenaikan UMR adalah untuk mensejahterakan kehidupan dan keluarga?

Jadi bagi buruh sangat diharapkan dapat mengubah pola hidup yang cenderung konsumtif menjadi lebih efektif. Sementara bagi pemerintah, mungkin opini saya bisa menjadi salah satu masukan atau mungkin ada solusi lain yang lebih baik.


Purnama Martha<\/strong>
TGS Catalina, Tangerang<\/strong>
viatia@yahoo.com<\/strong>
081573643999<\/strong>


(wwn/wwn)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam", Senin sampai Jumat pukul 00.30 - 01.00 WIB, hanya di Trans TV
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed