DetikNews
Kamis 08 Sep 2011, 14:35 WIB

Membongkar Mafia Pengemis

Anak Disuruh Ngemis, Ortu Bergaya Necis

- detikNews
Anak Disuruh Ngemis, Ortu Bergaya Necis
Jakarta - Empat anak kecil terlihat asyik bermain di sebuah taman di Jalan Raya Kramat Jati. Sesekali mereka menghampiri kendaraan yang sedang mengantre di lampu merah di jalan itu. Tidak jauh dari lokasi anak-anak itu bermain, seorang perempuan bertubuh gemuk dan berkulit hitam duduk memangku seorang bayi laki-laki.

Perempuan itu bernama Ani. Ia merupakan warga Banten yang merantau ke Jakarta sejak 2007. Untuk bertahan hidup di perantauan bersama suami dan 8 anaknya, ia pun mengemis bersama anak-anaknya. Lokasi yang dipilih antara Jalan Pasar Kramat Jati sampai Kampung Melayu.

\\\"Saya cuma ngawasi anak saya saja yang lagi minta-minta,\\\" kata perempuan berusia 35 tahun tersebut saat berbincang-bincang dengan detik+.

Ani tidak sendiri saat itu. Sang suami, Dino, juga berada di sekitar perempatan. Ia tidak duduk di dekat lampu merah tapi memilih berkumpul bersama pedagang kaki lima yang ada di perempatan. Earphone terpasang di kedua telinga Dino. Berkaos kotak putih \\\'bermerek\\\' Playboy, gaya Dino tampak necis. Dino dan Ani bertugas mengawasi anak-anaknya yang sedang mengemis.

Ani awalnya bekerja mengumpulkan plastik bekas. Tapi hasil kerja kerasnya itu tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Dengan alasan klasik, yakni faktor ekonomi, maka ia pun kemudian menyeberang menjadi pengemis.

Meski demikian, Ani mengaku tidak semua anaknya disuruh ikut menjadi pengemis. Dari delapan anak, hanya satu anak yang turun untuk meminta sedekah di perempatan jalan. Ia adalah Fi, nama samaran, yang usianya masih 5 tahun. Sementara enam anak lainnya dititipkan di rumah famili untuk mengurangi biaya hidup sehari-hari. Sedangkan si bungsu yang berusia 1 tahun sengaja dibawa Ani dalam gendongan. “Tidak ada yang mengasuh kalau ditinggal di rumah kontrakan,” kata Ani yang tinggal di wilayah Condet, Jakarta Timur.

Meski hanya seorang diri, Fi setiap hari dapat mengumpulkan uang Rp 250 ribu. Ia mengemis dari pukul 17.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. \\\"Tapi kalau sepi paling dapetnya hanya Rp 80 ribu sehari,\\\" ujar Ani.

Uang yang dihasilkan anaknya itu, sebagian ditabung Ani. Sisanya dipakai untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Sekalipun anaknya mengemis, Ani bersikukuh kegiatan itu murni keinginan anaknya. Kata Ani, anaknya jadi pengemis karena ikut-ikutan teman sebayanya yang meminta-minta.

Ani juga membantah ada yang memanfaatkan anak bukan sedarah atau anak sewaan untuk meraup rezeki di jalanan. \\\"Enggak ada itu sewa-sewa anak. Yang ada, anak siapa diminta tolong jaga terus yang jaga kasih makan sama susu anak itu,\\\" kilahnya.

Cerita yang sama dikatakan Mirna. Perempuan yang mengaku asli Betawi ini mengaku sebenarnya tidak pernah berniat menyuruh anaknya mengemis. Perempuan yang tampil dengan rentetan anting emas dan gelang emas itu mengaku justru sang anak yang mau mengemis.

Meski sang anak mengemis, Mirna tampil rapi. Balutan baju yang dikenakannya pun tampak bersih. Wajahnya warna-warni penuh sapuan make up. Jarak 2 meter, minyak wangi yang disemprotkan ke tubuhnya sudah tercium. \\\"Parfum Arab, beli dekat-dekat sini,\\\" canda Mirna.

Mirna memiliki enam orang anak. Namun hanya dua anak yang menjadi pengemis di perempatan lampu merah di wilayah Jakarta Timur. Mereka, YS (12) dan MO (11), yang merupakan anak berkebutuhan khusus karena tuna rungu. Dari dua anaknya yang mengemis hanya YS yang bersekolah dan sudah menempuh kelas enam sekolah dasar. \\\"MO kalau mau sekolah mahal biayanya,\\\" kata Mirna.

Sementara Santi (35) tahun, pengemis yang biasa mangkal di perempatan Slipi, Jakarta Barat, mengaku mengemis hanya untuk mencari tambahan uang saja. Sekalipun anak-anaknya diajak mengemis namun mereka tetap melanjutkan sekolahnya.

\\\"Saya sama anak-anak mengemis untuk nyari tambahan saja. Sebab penghasilan suami saya sebagai tukang ojek tidak mencukupi,\\\" ujar Santi, perempuan asal Brebes, Jawa Tengah, itu.

Santi mempunyai 3 orang anak. Anak pertama laki-laki berusia 12 tahun yang duduk di bangku kelas 1 SMP, anak kedua perempuan berusia 11 tahun, yang masih duduk di kelas 6 SD. Sedangkan anak yang bungsu masih duduk di bangku kelas 1 SD. Santi dan keluarganya saat ini mengontrak di daerah Kemanggisan.

Namun, ujar Santi, yang rutin mengemis setiap hari hanya dirinya dengan si bungsu. Santi beralasan selalu ditemani anak bungsunya mengemis karena tidak tega membiarkannya mengemis sendirian. Apalagi kaki kiri anak bungsunya itu menderita cacat sejak lahir.\\\"Paling sehari-hari saya jalan sama si bungsu saja. Lumayan kalau jalan sama anak kecil dapetnya bisa banyak. Beda kalau mengemis sendirian,\\\" terangnya.

Sementara dua anaknya yang lain mengemis seminggu sekali. Sebab keduanya banyak kegiatan sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Diakui Santi, sehari-hari paling tidak ia berhasil mendapatkan uang Rp 50 ribu-Rp 100 ribu. Uang yang didapatkannya itu sebagian ditabung untuk menutupi biaya sekolah. Sisanya dipakai untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Maraknya pengemis anak-anak yang saat ini beroperasi di kota-kota besar, seperti Jakarta, menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait bisa dipetakan dalam 2 kategori. Pertama, untuk menutupi kebutuhan ekonomi. Kedua, akibat adanya sindikat dalam menyewakan anak.

Aksi pengemis yang menggunakan anak-anak ini semakin marak di bulan puasa. Mereka biasanya beroperasi di mal dan tempat-tempat ibadah. Puncaknya sehari sebelum lebaran.

Berdasarkan perkiraan Komnas Perlindungan Anak, pengemis yang usianya di bawah 18 tahun di wilayah Jakarta jumlahnya berkisar antara 8.000 sampai 12.000 orang. Dari jumlah tersebut terdapat 1.000 sampai 2.000 anak-anak balita.

Banyaknya anak-anak yang mengemis di jalan-jalan, kata Arist, disebabkan ada yang memobilisasi. Baik yang dilakukan orang tuanya maupun kelompok atau sindikat sewa menyewa anak.

Adanya mobilisasi ini terlihat dari pergerakan anak-anak yang mengemis. Misalnya jika di Jakarta terlihat sepi karena sedang ada penertiban, maka daerah lain, seperti Bekasi dan Tangerang akan banyak dengan pengemis anak-anak. \\\"Angka pengemis anak, terutama balita sangat mengerikan. Pemprov DKI Jakarta harus melakukan pengawasan yang ekstra secara terus menerus. Jangan hanya waktu Ramadan saja,\\\" desaknya.





(iy/nrl)
Ikuti informasi penting, menarik dan dekat dengan kita sepanjang hari, di program "Reportase Sore" TRANS TV, Senin sampai Jumat mulai pukul 14.30 - 15.00 WIB
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed