DetikNews
Kamis 27 Sep 2012, 10:50 WIB

Lewat Jalur Independen pun Jokowi Menang

- detikNews
Lewat Jalur Independen pun Jokowi Menang Ardi Winangun
Jakarta - Buah manis kemenangan Jokowi-Ahok rasanya mulai kecut. Sebabnya di antara elite partai pengusung, PDIP dan Partai Gerindra, mulai timbul rasa curiga, bahwa di antara mereka sudah ada dusta, ada yang mengatakan memanfaatkan Jokowi untuk Pemilu 2014. Agar partai-partai pengusung tidak besar kepala mari kita katakan, lewat jalur independen pun Jokowi menang.

Pilkada Jakarta ini menarik dan mampu menyedot perhatian banyak orang sebab selain berada di pusat kekuasaan Indonesia, juga dikarenakan Jokowi ketika maju dalam pilkada masih menjabat sebagai Walikota Solo, Jawa Tengah. Selain itu karena partai yang mengusung dirinya hanya dua partai, sedang rivalnya didukung banyak partai.

Jokowi bisa memenangi pilkada disebabkan adanya keinginan masyarakat Jakarta yang ingin melakukan perubahan. Dirasa kepemimpinan sebelum pilkada tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di tengah masyarakat, seperti macet, banjir, kemiskinan, dan problem sosial lainnya.

Jokowi yang sukses mampu membangun Kota Solo dijadikan acuan warga Jakarta untuk memilih pemimpin yang baru. Dengan kesuksesan di Solo itulah warga Jakarta menmgharap agar kesuksesan itu ditularkan dan diterapkan di Jakarta.

Selain itu figur Jokowi yang murah senyum, supel, dan gaul yang membuat masyarakat merasa menjadi lebih dekat. Unsur-unsur seperti ini tidak ditemukan pada pasangan lainnya. Pasangan lainnya dianggap memiliki wajah yang kaku, galak, dan tak gaul. Beruntunglah Jokowi memiliki karakter yang demikian, sebab karakter yang demikian tidak bisa dibuat-buat atau disekolahkan di sekolah kepribadian.

Toh kalau pasangan lain harus diajarkan bagaimana cara berjalan, berbicara, dan tersenyum, hal demikian sifatnya bersandiwara. Bila lepas kendali, wajah aslinya akan kelihatan.

Terlepas dari semua hal itu, Jokowi yang memiliki banyak kelebihan itu bila menggunakan jalur independen pun bisa menang. Terbukti dalam pilkada ini, seseorang yang diusung banyak partai pun tak akan menjamin menang. Partai sekarang bukan jaminan untuk memenangkan calon. Dengan demikian seorang yang memiliki elektabiltas yang tinggi, ia melalui jalur independen pun akan mampu memenangi pilkada.

Dulu semasa Pilpres 2004, SBY yang memiliki Partai Demokrat, partainya hanya mampu meraih suara sebanyak 8.455.225 suara atau 7,45% dengan raihan kursi di DPR sebanyak 55. Bandingkan dengan Partai Golkar yang meraih 24. 480.758 suara, PDIP 21.026.629 suara, PKB 11.989.564 suara, dan PPP 9.248. 764 suara.

Namun karena SBY memiliki elektabiltas yang tinggi, yang dalam putaran I didukung oleh Partai Demokrat, Partai Keadilan, dan PPP, ia bisa lolos dalam putaran selanjutnya. Pada putaran II, sebab memiliki peluang menang yang tinggi, banyak partai merapat ke dirinya untuk bisa ikut menikmati kemenangan. Dalam Pilpres 2004, SBY menang bukan karena partai politik namun karena elektabilitasnya yang tinggi.

Selama ini jalur independen sering kalah lebih banyak disebabkan sang calon hanya mengandalkan idealisme dan kepintarannya. Calon-calon independen biasanya datang dari kalangan akademisi, LSM, dan tokoh-tokoh oposisi di wilayah masing-masing.

Dalam soal pilihan, masyarakat kita tidak memandang calon itu pintar atau tidak, namun sejauh mana ia mampu menyentuh hatinya. Terkadang justru calon independen banyak yang doktor atau profesor malah membuat masyarakat rendah diri, sebab rata-rata masyarakat masih berpendidikan tidak tinggi, paling banter<\/i> SMA.

Dalam Pilkada di Garut, Jawa Barat, pasangan Aceng H M Fikri dan Dicky Candranagara mampu memenangi Pilkada 2008 dari jalur independen sebab Aceng lebih banyak dibesarkan dan tumbuh di tengah masyarakat, sementara Dicky Candranagara adalah orang Sunda dan artis. Kita lihat Aceng mempunyai riwayat pekerjaan di Koperasi Peternak Unggas, Koperasi Raksa Sawarga, dan Koperasi Pesantren. Pendidikan dan organisasi massa-nya pun lebih banyak di pesantren dan sekolah-sekolah Islam.

Bandingkan dengan pendidikan calon independen saat Pilkada Jakarta, Faizal Basri. Pendidikan Faizal Basri adalah Sarjana Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Master of Arts dalam bidang ekonomi, Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika.

Jokowi dengan kelebihan-kelebihannya itu mampu menyentuh hati masyarakat. Ketika ia turun ke bawah, dalam melakukan pendekatan ke masyarakat, ia lebih menggunakan hati dan dengan dialog yang sabar dan bila perlu mengalah. Untuk menyakinkan kebijakannya dilakukan tidak sesekali untuk meyakinkan, namun masyarakat dirayunya agar mau menuruti kemauannya.

Dengan mengacu bahwa elektabilitas dan pilihan masyarakat ke depan, orang-orang seperti Jokowi bisa maju dalam pilkada tanpa diusung oleh partai politik. Jadi sebuah langkah yang keliru bila Bupati Garut, Aceng, pindah ke partai politik untuk menjadi pengusung dalam pilkada yang akan datang. Aceng sepertinya lupa masa lalunya bagaimana ia dimenangkan, bahwa ia menang karena lewat jalur independen dan karena elektabilitasnya.

Kemenangan Jokowi dan Aceng sebenarnya menjadi pelajaran bagi partai politik bahwa ada yang salah pada mereka. Ulah partai politik yang menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri dan kelompoknya membuat masyarakat antipati kepada partai politik, sehingga untuk melawan yang demikian, keputusan di elite partai politik tidak serta merta diiikuti oleh anggota, pendukung, dan simpatisannya.

PKS yang terkenal memiliki massa yang solid pun, dalam Pilkada banyak yang menyebut massanya jebol ke Jokowi.

*) Ardi Winangun, pengamat politik, tinggal di Matraman, Jakarta<\/em>


(nwk/nwk)
Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi", Senin - Jumat pukul 04.15 - 05.00 WIB, dan Sabtu - Minggu pukul 04.00 - 05.00 WIB hanya di Trans TV
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed