DetikNews
Follow detikcom Like Follow
Jumat 21 Sep 2012, 08:23 WIB

Kolom Djoko Suud

Jokowi-Ahok Menang

- detikNews
Jokowi-Ahok Menang
Jakarta - Akhirnya Jokowi-Ahok unggul. Mereka gemilang meraih itu. Filosofi menang nora ngasorake<\/em> (menang dengan tidak merendahkan yang kalah) dipraktikkan. Dan pilkada DKI yang ketat itu pun berjalan sempurna. Aman, tertib, semoga amanah. Bagaimana peta politik Jakarta di tangan \\\'Solo-Belitung\\\' itu nantinya?

Enam lembaga survei dalam penghitungan cepat menyebutkan Jokowi-Ahok mengungguli pasangan Foke-Nara. Ini sudah diprediksi. Malah mungkin karena lama saya tidak menulis di kolom ini, \\\'bos detik.com\\\' sempat menelepon dan tanya, siapa kira-kira yang bakal menang dalam pilkada yang \\\'keras\\\' ini.

Tanpa tedeng aling-aling saya menyebut, Jokowi-Ahok. Tapi kenapa kamu menjadi pendukung Foke-Nara? Jawaban saya, mendukung tidak harus jago yang didukung menang. Itu pilihan. Pilihan yang alasannya sangat personal.

Jokowi-Ahok memang layak menang. Kemenangan itu pertama didukung keinginan rakyat Jakarta yang ingin perubahan. Jalanan macet dan banjir bertahun-tahun telah menciptakan pengertian, bahwa tanpa pergantian pucuk pimpinan, maka dua persoalan itu tak akan terselesaikan.

Kedua, \\\'keliaran\\\' Jokowi-Ahok di masing-masing daerah diasumsikan sebagai jawaban yang pas untuk membenahi Kota Jakarta. Jokowi berani \\\'melawan\\\' Gubernur Jawa Tengah ketika kebijakannya dianggap tidak pro-rakyat Solo. Dan Ahok sebagai pengusaha yang pernah menerima tindakan semena-mena dari pejabat daerah berusaha menyudahi itu. Ini alasan Ahok terjun ke dunia politik sejak tahun 2003.

Ketiga, Foke-Nara sering membuat blunder dalam kampanyenya. Memilah warga Jakarta berdasar suku dan agama, serta melontarkan ucapan sinis terhadap lawannya. Akibat itu, warga Jakarta yang bukan kelahiran Jakarta mayoritas menjatuhkan pilihan pada Jokowi-Ahok. Terus bagaimana peta Jakarta di tangan Gubernur baru ini?

Saya yakin Jakarta semakin baik. Itu tak lepas dari dua sosok tokoh yang kini tinggal menunggu pengumuman kemenangan definitifnya itu. Keduanya figur yang diragukan kemampuan dan idealismenya membangun Jakarta. Rekam jejak Ahok yang \\\'kutu loncat\\\' tidak dicari pembenarannya. Dan Jokowi yang \\\'hanya\\\' Wali Kota Solo dianggap pencalonannya sebagai bentuk pencitraan.

Keraguan itu menciptakan rasa dendam. Dendam konstruktif, untuk segera mewujudkan program yang dijanjikan. Membuat perubahan terhadap persoalan Jakarta yang dari tahun ke tahun dikeluhkan. Mensejahterakan, dan memberi ruang yang lebih manusawi terhadap kehidupan wong cilik.

Memang tidak mudah untuk merealisasikan program itu. Kota Jakarta amatlah beda dengan kota di daerah lain. Di ibukota negara ini terlalu banyak penguasa dan pengusaha, yang bisa saja sebuah kebijakan merugikan mereka dan direkayasa agar gagal diaplikasikan.

Namun dalam kacamata etno-politik, Wong Solo itu sudah biasa mengatasi tekanan seperti itu. Kota yang tenang ini secara politik merupakan kawah candradimuka pergerakan. Dari gerakan bersifat intelektual, relijius, sampai yang bercorak premanisme.

Itu sudah terjadi sejak abad 18. Dari Perjanjian Giyanti (13 Pebruari 1755) yang memecah Mataram, Perjanjian Salatiga (17 Maret 1757) memunculkan Raden Mas Said sebagai Pangeran Sambernyawa, hingga pelopor gerakan pers, \\\'Sastra Kiri yang Kere\\\' dalam sastra modern, atau tenang-tenang Gedung Walikota dibakar, eksistensi Pondok Pesantren Ngruki dengan Ustad Ba\\\'asyir, serta terorisme yang menembak mati polisi.
\\\'Keberanian khas Solo\\\' itu saya pikir merupakan modal besar untuk membenahi Kota Jakarta. Sebab keberanian itu tidak ditampilkan telanjang. Keberanian itu dibungkus halus dengan lobi dan persuasi, yang kadang membuat orang lain berdecak kaget, \\\'kok bisa ya\\\'.

Selamat datang Jokowi-Ahok. Semoga Jakarta di tangan Anda makin sumringah. Bisa disanak warga seluruh daerah di negeri tercinta. Dan menjadi etalase membanggakan bagi Indonesia.

*) Djoko Suud Sukahar<\/strong> adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.<\/em>


(vit/vit)
Komentar ...
News Feed