DetikNews
Jumat 14 Oct 2011, 08:37 WIB

Selamat Datang Aliansi Politik Media

- detikNews
Selamat Datang Aliansi Politik Media
Jakarta - Politik selalu memberi kejutan. Ketika kasus Nazarudin menyeruak, publik terhenyak, wow ada rangkaian laku megakorup yang sedemikian sistemik dan akut bertengger di aras kekuasaan yang dimotori oleh para petinggi partai. Drama Nazarudin menebar ironi, menyulut pesimisme adanya sistem politik yang bersih dan nir kepentingan pragmatis pengerukan uang negara. Geliat Nazarudin --sang petualang lihai-- menguras atensi publik berminggu-minggu laksana episode sinetron lebay yang diminati banyak orang. Penuh dengan ironi, adegan menyayat hati, dibumbui intrik, banyak artis pendukung yang numpang ngetop dan lain sebagaimanya.

Kini episode Nazarudin mulai redup. Media akhirnya menemukan titik jenuh mengurai benang kusut yang melilit Nazarudin, yang hingga tulisan ini dibuat belum dipecat dari partai Demokrat (meski telah diberhentikan sebagai Bendahara Umum PD). Beritanya masih sesekali muncul, tapi tidak sebombastis ketika pelariannya, episode skype, maupun kicauan-kicauan menggetarkan jantung tentang kaitan keterlibatan kolega-koleganya di demokrat maupun pejabat negara, bahkan KPK.

Selain proses reshuffle yang tengah dimainkan oleh Presiden SBY, kabar politik yang cukup gress dan menarik perhatian, yakni soal parpol Nasional Demokrat yang perlahan terus menancapkan eksistensinya. Surya Paloh (SP), the man behind NasDem, tak lagi malu-malu menyatakan diri sebagai \\\'sang empunya\\\' partai yang sejak awal telah diprediksikan bakal menjadi kendaraan politik pemilik Metro TV itu. Kini, manuver awal dimainkan SP dengan menggaet Harry Tanoesodibjo (Hartan), pemilik MNC Grup, sebuah konglomerasi media yang kian diperhitungkan karena menguasai RCTI, Sindo TV, Global TV dan rupa-rupa jaringan media cetak, online.

Tadinya saya sangsi apa iya Hartan mau terjun ke politik praktis, mengingat ia memang bukan politisi dan track record politiknya tidak terendus sama sekali. Masuk ke rimba politik tentu adalah hak setiap warga negara, dan justru sering menjadi pilihan akhir para pengusaha yang ingin mencoba memainkan peran lebih setelah capaian bisnisnya sudah berada di titik optimum.

Apapun itu, langkah Surya Paloh jelas menjadi catatan, jika tidak secara ekstrim menyebut ancaman. Surya Paloh bukan pemain politik kemarin sore dalam panggung Indonesia yang telah melewati berbagai orde. Ia politisi kaliber wahid yang sekarang memilih aktif dan agresif di arena meski ia sadar pertarungan ini cukup berat karena berhadapan dengan \\\'ibu kandung\\\' sendiri yakni Partai Golkar yang sudah well-known dan well-managed.

Strategi brilian Surya Paloh menggaet Hartan, tentu dengan mudah ditebak sebagai langkah memperkuat proses pencitraan (branding) NasDem dengan memanfaatkan kolaborasi media (Media grup plus MNC grup). Ini menarik, karena joint venture politik ini sangat jarang terjadi mengingat sulit menyeret kepentingan politik dua gerbong ke dalam satu rel politik.

Lagi-lagi ini menarik pasalnya sang tandem adalah pemilik media, si \\\'empunya corong\\\' yang dengan mudah akan menyisipkan agenda-agenda politik dalam setiap kebijakan redaksional, alokasi durasi program tayangan, space halaman, dan pelbagai \\\'ruang\\\' strategis dari tiap media yang diedarkan sebagaimana publik saksikan diejawantah oleh media milik Surya Paloh.

Jika ini terjadi, maka kita tidak perlu kaget jika duo rajawali, RCTI dan Metro TV akan segera menjejalkan berbagai produk politik berwajah Nasdem dalam setiap tayangan mereka. Ini tentu menjadi aliansi politik media yang monumental dalam sejarah, karena baik RCTI dan Metro TV memiliki share pemirsa yang signifikan.

Lalu, apakah ini salah? Tergantung dari perspektif mana kita mendudukkannya, di satu sisi membangun citra politik adalah bagian dari proses berdemokrasi menjalankan komunikasi politik yang dinamis dan intensif kepada basis konstituennya, serta mencari dukungan publik seluas-luasnya. Yang menjadi problem bagaimana independensi media bisa dirawat agar tidak dikooptasi oleh kepentingan politik pragmatis sang pemilik.

Di sinilah idealisme akan beradu dengan subjektivitas dan alokasi kepentingan yang cenderung mendominasi ruang gerak pekerja media. Tidak mudah bagi institusi media mendudukkan independensi dan profesionalitas dalam rumah yang diatapi oleh agenda-agenda politik tanpa larut dan ikut terbuai.

Ada sebuah kisah menarik, suatu ketika Presiden Amerika, Lyndon Johnson ditanya oleh seorang produser TV tentang opininya terkait politik di Amerika sejak ia terlibat aktif, bermula dari seorang anggota kongres dari Texas tahun 1930. Tanpa basa-basi, Lyndon berujar \\\"All you guys in the media. All of politics has changed because of you. You\\\'ve broken all the (party) machines and the ties between us in the Congress and the city machines. You\\\'ve given us a new kind of people.\\\"

Ungkapan spontan ini, sesungguhnya mempertegas posisi media yang mampu menjadi penentu arah kehidupan politik Amerika di era itu. Tentu fakta ini masih relevan hingga kini, hanya dengan berbagai varian dan kondisi yang berbeda.

Sulit menebak apa agenda Hartan dan apa tawaran SP bagi sahabatnya itu. Sebagian melihat ada kekecewaan dalam diri seorang Hartan yang ingin ia lampiaskan dengan membangun eksistensi di panggung politik. Apa pun itu, Hartan kini sudah masuk pusaran politik praktis dengan bendera Nasdem –meskipun hingga tulisan ini dibuat—tidak ada konfirmasi jelas, posisi Hartan dalam struktur partai.

Apapun itu, yang pasti ke depan kita lebih baik mulai membiasakan diri mengutak-atik remote control TV. Dalam hal ini, Anda bisa menebak maksud saya. So, salam TV!

*) Michael Umbas <\/strong>adalah penulis, jurnalis dan Direktur Elyonews Media Consulting. Email: brillianco@gmail.com<\/em>


(vit/vit)
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam", Senin sampai Jumat pukul 00.30 - 01.00 WIB, hanya di Trans TV
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed