DetikNews
Kamis 14 Apr 2011, 16:56 WIB

Mengapa Semua Meloncat ke Partai Demokrat?

- detikNews
Mengapa Semua Meloncat ke Partai Demokrat?
Jakarta - Satu per satu, kepala daerah yang selama ini menjadi elite di salah satu partai politik, melakukan migrasi atau meloncat ke Partai Demokrat (PD). Setelah Walikota Makassar Ilham Arif Sirajuddin yang sebelumnya Ketua Golkar DPD Sulawesi Selatan kemudian menjadi Ketua Umum PD Sulawesi Selatan 2010-2015.

Selanjutnya Gubenur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi, yang sebelumnya kader Partai Bulan Bintang (PBB), kemudian secara resmi menjadi bagian dari PD, menjadi Ketua Umum PD NTB 2011-2016. Setelah Ilham dan Zainul, menyusul kemudian Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf juga melakukan hal yang sama.

Bermigrasi dari PAN ke PD<\/strong>

Berpindah ke partai lain atau kutu loncat, sebenarnya merupakan suatu hal yang biasa. Semasa Orde Baru pun ini pernah terjadi, apalagi dalam era reformasi ini di mana kebebasan berpolitik seolah tanpa batas, membuat siapa saja, dengan seenaknya sendiri tanpa menghiraukan etika yang ada, menjadi kutu loncat.

Menjadi pertanyaan menarik mengapa mereka melakukan migrasi ini secara serentak dan bersamaan? Mereka yang pindah partai tentu dilandasi oleh banyak hal, namun semua dilandasi sebuah sikap yakni oportunis, mencari tempat di mana bisa menguntungkan dirinya, baik secara politik maupun ekonomi. Namun bila diselusuri lebih detail mengapa mereka pindah ke partai lain karena disebabkan oleh faktor. Pertama, adanya provokasi, iming-iming atau janji dari marketing partai tertentu agar ia sudi untuk berpindah ke partai itu. Tentu provokator dalam mengiming-iming agar orang lain pindah ke partainya dijanjikan sebuah harapan bahwa partainya besar, partainya pasti lolos parliament threshold (PT), dan menang pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014.

Marketing partai dalam memprovokasi tentu ditujukan kepada bukan orang sembarangan, namun di-white list, siapa-siapa saja yang mempunyai potensi untuk digalang agar kehadiran mereka juga memberikan keuntungan partai pada Pemilu 2014. Untuk itu dirayulah tokoh masyarakat, artis, tokoh agama yang secara kebetulan menjadi kepala daerah. Dari penggalangan orang-orang yang mempunyai potensi ini tentu juga akan menguntungkan partai yang memprovokasi.

Langkah PD dalam merayu dan berhasil mengajak Zainul Majdi menjadi bagian dari PD, sebuah langkah yang sangat cerdas. Sebab selain ia gubenur, Zainul Majdi adalah Ketua Umum Nadhlatul Wathan (NW). NW adalah organisasi massa Islam Islam terbesar di NTB. NW didirikan di Pancor, Kabupaten Lombok Timur oleh Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Tuan Guru Pancor) pada tanggal 25 Agustus 1935. Organisasi ini mengelola sejumlah Lembaga Pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Zainul Majdi sendiri di kalangan NW sendiri merupakan orang yang berdarah biru, sebutan di kalangan NU untuk orang-orang yang keturunan ulama besar. Ia putra dari pasangan HM Djalaluddin SH dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid, putri TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor), pendiri organisasi NWdan pendiri Pesantren Darun-Nahdlatain.

Dengan potensi yang ada itu, dan dengan sikap masih berkembangnya budaya patronisme, Zainul Majdi pastinya akan menggunakan fasilitas sebagai kepala daerah dan Ketua Umum NW, secara sembunyi-sembunyi atau terus terang akan membesarkan PD yang juga untuk kepentingan dirinya sendiri. Dari proses tarik menarik ini, kedua belah pihak bisa saling untung.

Kedua, mereka mau migrasi atau meloncat ke partai lain, bisa jadi partai yang selama
ini menampung dirinya sudah tidak memiliki prospek. Zainul Majdi sudi berpindah haluan, sebab partai lamanya, PBB, sudah tidak memiliki masa depan lagi. Buktinya selain saat ini PBB dikabarkan berfusi ke PPP, ia juga merupakan partai yang tidak lolos PT dalam Pemilu 2009.

Tentu Zainul Majdi berpikir karier politiknya bisa mati apabila ia tetap bertahan di PBB. Karena dalam Pilkada 2013, untuk bertarung mempertahankan jabatan kedua kalinya sebagai gubenur, pasti ia membutuhkan partai yang besar dan menjamin dirinya bisa melanjutkan jabatannya sebagai gubernur. Dalam hal ini PD-lah yang dirasa bisa mengakomodasi kepentingannya itu. Berdasarkan alasan ini, maka Zainul Majdi migrasi ke PD.

Demikian pula halnya Dede Yusuf, meski PAN masih memiliki prospek, namun partai yang didirikan oleh Amien Rais itu berada dalam posisi yang mengkhawatirkan apabila PT disepakati sebesar 3% sampai 5%. Daripada ragu-ragu di PAN yang keberadaannya masih hidup atau mati di Pemilu 2014, maka ia pun lebih memilih berlabuh di PD yang dirasa memiliki prospek yang bagus di Pemilu 2014.

Ketiga, pernah tercatat ada sekitar 158 bupati\/walikota dan 17 gubernur sebagai tersangka dalam kasus korupsi, bahkan Makamah Agung (MA) telah menyampaikan seluruh kepala daerah terindetifikasi melakukan tindak pidana korupsi. Dari data inilah yang mungkin juga dijadikan alat provokasi bagi marketing PD untuk mengajak kepala daerah untuk bergabung dengannya. Kompensasinya apa bila sudi bergabung dengan PD? Ya bisa jadi proses hukumnya bila kepala daerah itu dianggap korupsi akan diperlambat atau dibiaskan sehingga sang kepala daerah itu akan selamat.

Di tengah era reformasi ini sorotan kasus korupsi semakin kuat sehingga ketika seseorang terjerat kasus korupsi maka ia akan mencari tempat berlindung. Kalau dulu jenderal bisa dijadikan tempat berlindung, sekarang hal demikian sudah ketinggalan jaman. Saat ini tempat berlindung yang paling aman ya berada di bawah Presiden. Dan kebetulan presidennya adalah Ketua Umum Dewan Pembina PD. Jadi marketing PD dalam mengajak kepala daerah untuk bergabung tidak hanya rayuan, namun bisa juga dengan ancaman.

Adanya kutu loncat ini menunjukan tidak adanya etika politik. Politikus bertingkah seolah-olah seperti pemain bola professional yang bisa pindah kapan saja dan di club mana saja yang dilandasi hanya tingginya nilai kontrak. Kutu loncat ini menunjukan tidak adanya idealis seorang politisi. Ia berada di dalam partai politik bukan karena untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, namun kepentingan diri sendiri. Dari sikap ini, percayalah, ia kelak akan meninggalkan PD, bila PD gagal meraih suara yang terbanyak.

*) Ardi Winangun<\/strong> adalah pengamat politik dan pengurus Presidium Nasional Masika ICMI. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. E-mail: ardi_winangun@yahoo.com<\/em>


(vit/vit)
Ikuti informasi penting, menarik dan dekat dengan kita sepanjang hari, di program "Reportase Sore" TRANS TV, Senin sampai Jumat mulai pukul 14.30 - 15.00 WIB
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed