Politikus Rusia Usul Gunakan Sperma Putin Untuk Ciptakan Generasi Hebat

- detikNews
Jumat, 07 Nov 2014 17:45 WIB
Vladimir Putin (Reuters)
Moskow -

Seorang anggota parlemen Rusia memiliki ide gila dan aneh soal Rancangan Undang-Undang (RUU) yang mengatur penggunaan sperma milik Presiden Vladimir Putin bagi wanita-wanita Rusia. Hal ini demi menciptakan generasi Rusia yang hebat.

Yelena Borisovna Mizoulina yang merupakan Ketua Komisi Parlemen Urusan Wanita, Anak, dan Keluarga menyampaikan usulan tersebut dalam diskusi parlemen membahas angka kesuburan di Rusia. Menurut wantia yang memiliki gelar PhD bidang hukum ini, sperma Putin akan mampu meningkatkan patriotisme di Rusia.

Berita ini dilaporkan oleh surat kabar berbahasa Rusia, Trust dan dilansir sejumlah media asing, termasuk Daily Mail dan New York Observer, Jumat (7/11/2014).

Tidak hanya itu, Mizoulina menyatakan kepada State Duma (parlemen Rusia) bahwa keturunan Putin nantinya akan menerima tunjangan khusus dari negara, sebagai balasan atas kesetiaan kepada negara.

"Inti dari usulan saya, sederhana. Setiap warga Rusia akan menerima materi genetik Putin lewat surat, agar bisa hamil dan mengandung anaknya. Ibu-ibu ini akan menerima tunjangan khusus dari negara," terang Mizoulina.

Dengan asumsi bahwa keturunan Putin akan berjenis kelamin laki-laki, Mizoulina menjelaskan bagaimana anak-anak keturunan Putin nantinya akan dididik dalam institusi khusus semacam Souvorov Schools, jenis sekolah asrama pada era Uni Soviet.

Tujuannya, lanjut Mizoulina, agar anak-anak tersebut nantinya akan sangat berdedikasi pada tanah air dan secara pribadi kepada Presiden Federasi Rusia.

"Anak-anak yang lahir dari Presiden Rusia, di masa depan akan membentuk elite militer dan politik negara," ucapnya.

Namun tokoh Rusia Mikhail Klikishin menuturkan kepada New York Observer, berita yang ditulis Trust ini hanya omong kosong belaka yang dibuat oleh media kuning Ukraina.

Mizoulina selama ini memang dikenal akan usulannya yang aneh. Baru-baru ini, dia merekomendasikan agar seluruh warga Yahudi di Rusia pergi meninggalkan negara tersebut karena terlalu banyak masalah.

Kemudian awal tahun ini, dia mengusulkan RUU yang melarang pendidikan tinggi bagi setiap wanita Rusia yang belum melahirkan. Lalu dia juga mengusulkan RUU yang melarang adanya hubungan seks di wilayah Crimea dan Sevastopol. Namun RUU tersebut belum diloloskan parlemen.

(nvc/ita)