detikcom
Jumat, 20/07/2007 12:29 WIB

Pelat Hitam vs Pelat Kuning

Berbagi Suka Duka Naik Omprengan

Nograhany Widhi K - detikNews
Jakarta - Terlepas omprengan merupakan kendaraan ilegal, naik omprengan memang banyak suka dukanya. Tapi dibanding dukanya, tampaknya lebih banyak sukanya. Berikut suara hati pelanggan omprengan, Jumat (20/7/2007); Lina Saya adalah salah satu pengguna jasa omprengan Cibubur-Jakarta dan sebaliknya. Ada suka dukanya pakai jasa omprengan bagi komuter seperti saya. Sukanya: Waktu tempuh menjadi semakin cepat karena tidak ada istilah ngetem untuk omprengan, sedianya pool omprengan dibuat sangat dekat dengan pintu gerbang tol, sehingga begitu mobil penuh langsung masuk ke jalur bebas hambatan sampai tujuan. Tidak jarang saya menghubungi sopir omprengan atau salah satu pengelola di pool omprengan untuk menanyakan jadwal apakah masih ada mobil yang ngetem atau sudah habis, sehingga saya tidak perlu buang waktu menuju pool tinggal langsung cari alternatif lain. Ongkos hampir sama dengan kendaraan umum lain. Minus tukang ngamen. Kalau lagi beruntung dapat mobil yang luas dan baru, paling tidak full AC dan free smoking. Dukanya: Normalnya bangku tengah paling banyak diisi 3 orang, tapi untuk memaksimalkan penghasilan ngompreng bangku tengah dipaksakan untuk 4 orang. Boleh diisi 3 orang tapi dengan kenaikan ongkos (tambahan Rp 2.000). Begitu pun dengan kursi depan, boleh hanya diisi satu penumpang saja dengan catatan ongkosnya ditambah, atau diisi 2 orang dengan ongkos normal. Bangku belakang apalagi harus 6 orang (3 deret saling barhadapan), kalau ilustrasinya seperti ini berarti jangan menuntut jaminan keselamatan berkendara dengan beban yang melampaui batas. Paling apes mobil omprengan adalah Carry, maksudnya diangkut dengan Carry tidak seleluasa diangkut minibus lain seperti kijang atau panther, (bahkan ada yang pakai Travello), karena dengan mobil yang lebih kecil tidak berarti jumlah penumpang yang diangkut bisa dikurangi. Kalau datang di luar jam operasional jangan harap bisa menemukan omprengan. Boleh saja omprengan dihapuskan, asalkan: Diganti dengan fasilitas transportasi yang tidak hanya memadai namun lebih manusiawi, transjakarta dinilai sangat manusiawi saat ini dibandingkan dengan sarana transportasi lain, murah, mudah dan nyaman. Yang paling penting adalah sopir dan kru angkutan diberikan orientasi disiplin berlalu lintas, beri tindakan keras bagi setiap pelanggaran, sehingga baik penumpang maupun kendaraan lain disekitarnya tidak terganggu dengan ulah sopir yang seenaknya, ugal-ugalan, salip kanan kiri, motong jalan semaunya, dll. Dengan demikian diharapkan angka kecelakaan pun dapat dikurangi. Jaya Saputra Saya bukanlah pemakai omprengan atau pemilik omprengan atau pemilik angkot. Saya hanya ingin berbagi pendapat saja. Menurut saya, omprengan yang harus ditertibkan (dihapuskan) adalah omprengan yang jalur operasinya tumpang tindih dengan jalur angkot (sarana transportasi yang resmi) yang sudah ada dan atau yang dengan sengaja menyediakan kendaraan pribadi untuk tujuan komersil (misalnya mengangkut penumpang kantoran). Ini menjadi tugas Dishub dan Polantas. Sedangkan omprengan yang sifatnya mengisi jalur yang belum ada angkotnya (sementara jalur tersebut sudah sangat dibutuhkan oleh masyarakat) menurut saya tidak perlu dihapuskan. Omprengan seperti ini ternyata saling menguntungkan antara orang yang ngompreng (pengompreng) dengan pemilik kendaraan dan sekaligus juga sudah mengurangi volume kendaraan pribadi yang masuk ke kota Jakarta (kebanyakan omprengan berasal dari sekitar Jakarta/komuter). Bayangkan jika semua komuter membawa kendaraan (mobil) sendiri-sendiri ke Jakarta. Di sisi lain pemerintah selalu berusaha dengan menyediakan sarana tranportasi (walaupun belum berhasil dengan baik) dan regulasi yang salah satu tujuanya adalah untuk membatasi jumlah mobil komuter yang masuk ke Jakarta. Liber Manurung: Omprengan dihapus? Tambah susah deh! Mobil omprengan tidak boleh langsung dicap sebagai suatu masalah. Kenapa? Kita harus terlebih dahulu memahami kenapa sampai timbul mobil omprengan. Mobil omprengan/yang diomprengkan ada 2 kategori antara lain: 1. Mobil omprengan yang hanya sekali jalan dari tempat asal sampai tujuan dan dikemudikan oleh pengawai kantoran/pedagang/bisnismen itu sendiri. 2. Mobil omprengan yang memang sengaja ngompreng dan bolak balik berkali-kali. Mobil omprengan pada poin 1 muncul karena kebutuhan (tambahan penghasilan, karena adanya kawasan three in one, waktu tempuh yang jauh lebih cepat dan segi keamanan/kenyamaman). Mobil omprengan pada poin 2 muncul karena banyaknya penduduk yang menjadi pengangguran, minimnya penghasilan padahal ada kesempatan yang halal serta tidak memadainya angkutan yang legal. Namun di satu sisi ada benarnya juga dengan munculnya mobil omprengan jelas mempengaruhi penghasilan para awak angkutan resmi (tapi juga menjadi lahan penghasilan bagi banyak orang, seperti pengangguran, jadi ada kegiatannya kan. Saran saya, biarkanlah kondisi tsb seperti air keruh yang keruh mengalir dan biarkan pula jernih secara bertahap. Habis mau diapain lagi? Wicaksono Wahhhh kalau omprengan dihapus maka akan menambah biaya transportasi, makin capek aja dong, berangkat pulang jadi tambah molor dan belum lagi risiko kecopetan. Apa angkot udah bisa nyediain sarana yang kayak omprengan dan tepat waktu dan lagi yang kita tumpangin juga kan mobil-mobil temen atau tetangga sendiri. Itung-itung simbiosis mutualisme gicuuu. Nanung Omprengan, oh omprengan. Fenomena omprengan sering kita lihat di Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor. Ini sebetulnya menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah masih jauh dari mampu memberikan solusi transportasi massal yang terpadu. Mengacu pada prinsip ekonomi "supply and demand", sudah jelas bahwa "demand" masyarakat untuk transportasi yang nyaman dan aman sudah tak tertahan lagi. Sementara itu, bagaimana dari sisi "supply"-nya? Padahal tiap hari kita lihat pemandangan angkot yang berjejalan memenuhi jalanan di kota-kota tadi, tapi masih pula banyak pengguna yang kecewa (lalu memilih omprengan) dan angkot yang kosong (lantas berdemo)? Betul-betul mismatch yang luar biasa. Belum lagi ongkos ekonomi dan sosial yang harus dibayar. Kesimpulannya, selama pemerintah selalu mengedepankan argumen politis dan "penjatahan kue" dari sektor transportasi ini sementara kepentingan konsumen (yang katanya "raja") seringkali dikesampingkan; selama itu pula tidak akan pernah ada solusi yang optimal. Buat saya yang termasuk komuter Bogor-Jakarta setiap hari, yang paling penting adalah bagaimana bisa sampai di kantor dengan segar dan semangat, dan bisa cepat sampai di rumah dengan selamat dan sehat untuk bercengkarama lagi dengan keluarga. Pemerintah nggak mikirin kita? Ya kita dong yang harus mikirin diri kita sendiri. Kembalikan hak konsumen. I.K Budiasa Jangan hapus omprengan! Saya tinggal di Perumahan Bukit Golf, daerah Cibubur, kantor di Jl Jenderal Sudirman, sementara istri bekerja di daerah Tanah Abang. Selama 2 tahun tinggal di Cibubur, angkutan yang selalu kami gunakan adalah omprengan. Cepat, aman dan nyaman. Kami biasa berangkat jam 06:30 dan sampai kantor jam 08:00. Omprengan ada karena ketidakmampuan pemerintah memenuhi tuntutan masyarakat akan moda transportasi yang baik. Saya pernah mencoba menggunakan Busway-- kebanggaan Bang Yos, sekalian mencoba menjadi warga negara yang baik : pemerintah menyediakan angkutan alternatif dan dibanggakan, kenapa mesti tetep menggunakan omprengan yang melanggar peraturan? Pertama saya harus naik angkot 121 sampai Kampung Rambutan, kemudian naik busway. Karena busway Kp Rambutan-Matraman masih digunakan bareng-bareng dengan angkutan umum dan pribadi, jadinya macetnya sama saja dengan naik angkot, plus AC tetapi minus berjejal model ikan sarden. Untuk mencapai Sudirman, harus ganti busway 3 kali, Kp Rambutan-Matraman, Matraman-Dukuh Atas, Dukuh Atas-Karet Kolong. Tahu jam berapa saya sampai kantor? Jam 11:00! Bayangkan, saat itu teman-teman kantor sudah siap-siap mau makan siang. Itu belum jarak jalan kaki di halte busway Matraman dan Landmark-Dukuh atas yang tidak sempat saya ukur karena tidak bawa meteran. Sejak itu, saya mengikuti saran Tukul: kembali ke omprengan. Ini memang melanggar aturan--yang tidak pernah saya baca UU-nya. Tetapi saya tidak korupsi, saya tidak mencuri, dan tidak menyebabkan orang lain berdarah-darah. Mungkin hanya mengurangi potensi pendapatan negara dari pajak angkutan umum yang kacau balau dan tidak manusiawi itu. Jadi sebelum polisi menindak omprengan, pemerintah harus menyediakan dulu angkutan yang layak baik dari sisi waktu dan kenyamanan. Karena masalahnya tidak simpel. Kalau bangun terlalu pagi, pulang terlalu malam --karena waktu habis di jalan---plus stres karena tidak nyaman dan merasa tidak aman, maka sangat mungkin biaya kesehatan masyarakat akan naik, seiring naiknya biaya angkutan yang justru semakin tidak nyaman. Pemerintah punya solusi? Dyah Ayu Kurniawati Omprengan jangan dihapus dong. Kebayang kan kalu naik bus sudah penuh, masih suka dipaksa-paksa nambah penumpang, kayak sarden. Kebayang kan panasnya nggak ada udara. Rumah saya Karawaci, kerja di Gatot Subroto. Kalau angkutan umum bisa bikin para penumpang nyaman sih nggak masalah. Saya kalau naik bus umum, belum sampai kantor sudah capek, kalau naik omprengan kan bisa tidur dan relatif lebih aman. Kalau pemerintah bisa memberikan kenyamanan buat para pengguna angkutan umum, kita juga pasti nggak perlu naik omprengan. Jadi jangan salahkan orang yang mengomprengan mobilnya, karena mereka membantu kita pengguna angkutan umum, untuk sampai tempat tujuan dengan aman, nyaman, dan cepat. Dhani Prasetyo Saya dukung supaya omprengan jangan dihapuskan. Sebetulnya sistem omprengan kan sejalan dengan kebijakan pemerintah DKI yang memberlakukan 3 in 1. Karena menuruti peraturan tersebut pemilik mobil pribadi mengajak orang orang untuk masuk daerah 3 in 1 bersama-sama. Herry Gunawan Saya saat ini memang bukan lagi pengguna omprengan, tapi saya pernah merasakan manfaat omprengan. Jadi saya tahu bagaimana rasanya kalau omprengan dihapuskan. Pernah saya bicara dengan sopir angkot saat berhenti "ngetem" sudah lebih dari 20 menit "Bang, sudah hampir setengah jam neh, kapan berangkat?" Dengan nada marah, sopir angkot menjawab,"Lo mau nggak nambahin setoran gue kalo nggak cukup?" Langsung aja saya keluar, naik ojek. Kresna Kalau omprengan dihapuskan ya kasihan juga ya sama karyawan yang sudah terbiasa naik angkutan tak resmi ini, banyak yang bisa dihemat lho selain waktu, tenaga juga uang transportasi, belum lagi kerugian tak terduga seperti kecopetan, pelecehan seksual (bagi wanita di bus biasanya), sampai ke masalah SP (surat peringatan) dari kantor (PHK malah) karena seringnya terlambat bila menggunakan angkot (resmi). Plus bila menggunakan omprengan tentunya jalur macet bisa diakali dengan mencari jalur alternatif yang lain yang jauh lebih lancar. Saya pergi/pulang ke kantor/rumah biasa membawa kendaraan sendiri (Suzuki Carry) dan biasanya sudah mempunya penumpang berlangganan yang dijemput/diantar di/ke pinggir jalan sesuai rute pergi/pulang saya kebanyakan di dapat dari situs nebeng.com) berangkat dari arah Ciputat menuju Sudirman. Penumpang saya merasa nyaman dengan kelebihan di atas walau tarif bervariasi tergantung lokasi jemput/antar Rp 8.000-10.000. Di sisi saya sendiri juga cukup membantu pengeluaran perawatan kendaraan dan pembelian bensin, selain itu juga sangat membantu untuk melewati jalur 3 in 1. Para penumpang pun merasa nyaman dapat beristirahat selama perjalanan, aman, nyaman dan cepat sampai tujuan. Apalagi bila turun hujan tiba-tiba, tidak jarang saya pun mengantar penumpang benar-benar sampai tujuan. Hubungan penumpang dan omprengan tentunya saling menguntungkan. Pangsa pasar omprengan dan angkot tentunya punya pangsa pasar sendiri-sendiri dan relatif tidak saling mengganggu. Penghapusan omprengan boleh saja dilakukan asal sarana transportasi terutama di pinggir kota mengarah ke pusat kota sudah mencukupi, nyaman dan tentunya murah. Karena sebagian besar pekerja bertempat tinggal di pinggiran kota dan memiliki pekerjaan di pusat kota atau bahkan menyeberangi kota (seperti Depok-Tj Priok, Bekasi-Grogol, Ciputat-Kota). Eko Agus Roma Sebenarnya saya bukan pengguna langsung omprengan. Tetapi istri saya adalah pelanggan setia jenis angkutan omprengan tersebut. Biasanya dia naik dari Taman Galaxy, dekat rumah kami, ambil jurusan Grogol, karena kantornya di Slipi. Sebelum mengetahui jenis angkutan tersebut, saya biasa antarjemput istri saya pagi dan sore. Bayangkan, dari Galaxy, antar dulu sampai Slipi, kemudian baru berangkat kerja ke Kelapa Gading. Sorenya, dari Kelapa Gading, jemput dulu ke Slipi, baru pulang ke Galaxy. Bisa dihitung kan, berapa biaya bensin dan tenaga yang harus dikeluarkan? Sementara pernah dicoba, istri saya pergi-pulang menggunakan bus atau angkot. Hasilnya? Masuk kantor selalu telat, banyak copet, pernah jatuh karena si sopir tidak menunggu sampai istri saya turun dulu baru menjalankan angkotnya. Walhasil, jangan deh dihilangkan itu omprengan. Rudy Dajoh Kemarin saya tidak tahu mengenai keributan sopir angkot, tetapi yang saya heran, adalah kemarin nyetir di jakarta rasanya indah sekali. Nyaman sekali, ngga ada yang main pepet, main potong. Kalau Jakarta terus kayak begini, saya bisa pulang jauh lebih cepat dari biasanya. Biasa jam 8 saya baru bisa jalan karena terkena macet, dan pusat kemacetan biasa angkot dan bis yang ngetem di depan Artha Gading. Agus Widodo Pada saat pulang malam saya sering naik omprengan dari Cawang ke Karawang, memang lebih cepat dan lebih nyaman, hal itu saya lakukan karena memang angkutan ke Karawang setelah jam 9 malam sudah tidak ada lagi. Solusi untuk pemerintah ya sediakan aja angkutan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan (para komuter), jangan asal melarang tanpa memberikan solusi yang tepat. Bagi sopir angkutan harus cari terobosan baru contohnya narik omprengan aja. Basuki Saya biasa naik omprengan di depan perumahan Taman Galaxy. Padahal di depan tempat mangkal banyak juga Mikrolet M-26 atau K 58 (Perumnas 1-Bumi Satria Kencana-Cililitan via tol), mereka santai-santai aja nggak pernah bentrok. Omprengan ini ibarat gerakan underground transportasi dan nggak cuman jadi alternatif tapi sangat membantu pekerja komuter seperti saya dan pasti banyak juga anggota masyarakat yang lain.

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.30 WIB

(nrl/umi)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Kebijakan Ahok Larang Pemotor Masuk HI Digugat

Kebijakan Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok yang melarang kawasan HI hingga Medan Merdeka Barat akan digugat. Kebijakan itu dinilai diskriminatif. Bagaimana menurut Anda? Bila Anda setuju kebijakan itu digugat pilih Pro. Bila tidak setuju kebijakan itu digugat pilih Kontra.
Pro
54%
Kontra
46%