detikcom
Rabu, 28/02/2007 08:20 WIB

Laporan dari Den Haag

Fokker, dari Kediri Lalu Mendunia

Eddi Santosa - detikNews
Den Haag - Anak petani kopi dari Kediri (Tepatnya di Blitar, namun saat itu Blitar masuk dalam kawasan Kediri) itu melesat menjadi perancang dan produsen pesawat. Kelak namanya kembali ke Nusantara dalam bentuk pesawat yang dipakai maskapai Merpati Nusantara dan Garuda. Setelah sukses mendirikan pabrik pesawat di Jerman, Fokker boyongan kembali ke Belanda (1919), dengan iring-irigan 350 truk yang memuat 220 unit pesawat dan 400 unit mesin. Pada 21/7/1919 dia mendirikan perusahaan dengan bendera Nederlandsche Vliegtuigfabriek Fokker (Pabrik Pesawat Terbang Fokker), pertama di Belanda dengan mengambil dua lokasi, yakni Amsterdam dan Veere. Setahun kemudian pabrik diperluas dengan bendera internasional Netherlands Aircraft Manufacturing Amsterdam, selanjutnya diubah lagi menjadi Fokker Aircraft Corporation. Segera setelah itu bagian terakhir dari pabriknya yang di Schwerin, Jerman, berhasil dipindahkan ke lokasi di Veere, kemudian ke Amsterdam. Lokasi di Veere resmi ditutup pada Juli 1926. Amsterdam-Batavia Fokker terus berproduksi dan melakukan pengembangan pesawat. Setelah gemilang dengan produksi pesawat militernya dalam PD I, Fokker mulai merancang pesawat penumpang. Dia merupakan salah satu perintis yang berani membuat konstruksi badan pesawat dari pipa yang dilas. Akhir 1920-an, Fokker tumbuh menjadi pabrik pesawat terbesar di dunia, dengan cabang di Amsterdam-Noord dan Veere (Belanda) dan tiga cabang di Amerika Serikat (AS). Pada 30/12/1933 pesawat Fokker dari tipe Pelikan bermesin 3, diawaki 4 orang, mencatat sejarah dengan melakukan penerbangan pos pergi-pulang Amsterdam-Batavia (Betawi/Jakarta). Sebuah prestasi yang dielu-elukan. Di awal 1930-an itu, demikian disebutkan dalam dutchspace.nl, pesawat Fokker merajai pasaran dan dipakai oleh 54 maskapai penerbangan di dunia, terutama dari tipe yang saat itu populer: F-VII. Berbagai tipe pesawat Fokker tersebut hingga kini masih bisa disaksikan di Aviodrome, Lelystad (dekat Amsterdam). Perintis dan Dimatikan di AS Sudah sejak 1923 Fokker melakukan ekspansi usaha ke Amerika dengan mengibarkan bendera Atlantic Aircraft Corporation, yang empat tahun kemudian (1927) diubah menjadi Fokker Aircraft Corporation of America. Pesawat-pesawat buatan Fokker di Amerika ini menjadi cikal bakal penerbangan reguler di AS. Fokker menuai sukses gemilang di benua seberang ini, terutama berkat pesawat tipe seri F-VII, pesawat penumpang yang penerbangan perdananya dilakukan pada 24/4/1924. Sementara itu produksi pesawat militer terus berlanjut. Fokker berhasil mengembangkan versi pesawat tempur terbaik masa itu, antara lain tipe T-VIII dan GI yang berekor ganda. Pada 1930 General Motors masuk dan berfusi dengan Fokker. Nama baru dikibarkan General Aviation Manufacturing Corporation. Dari namanya sudah menjadi pertanda buruk bagi Fokker: namanya hilang. Skenario sesudahnya menjadi antiklimaks bagi si jenius kelahiran Kediri itu. Fokker dibuat tidak berkutik oleh para petinggi General Motors. Hanya berselang satu tahun saja Fokker dipaksa mundur dari perusahaan yang dibangun susah payah dan dicintainya sejak muda. Setelah 'dimatikan' dari perusahaannya, akhirnya Fokker menemui ajalnya di sebuah rumahsakit di New York pada 23/12/1939, dua hari sebelum Natal.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(es/es)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 14/09/2014 14:52 WIB
    Lulung: Yang Penting Pak Ahok Manis Bicara, Ai Dukung
    Gb Haji Lulung mengaku sudah tidak ada masalah dengan Ahok yang bersuara keras soal kebobrokan DPRD jika pilkada tidak dilakukan langsung. Dia mengingatkan Ahok berhati-hati bicara sehingga tidak ada yang tersinggung.
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
24%
Kontra
76%