Jumat, 24/09/2004 11:41 WIB

Rumah SBY Masih Kalah Luas dengan Rumah Subagyo HS

Luhur Hertanto - detikNews
Bogor - Perumahan Puri Cikeas Indah makin populer seiring salah seorang penghunimya, SBY, akan menjadi presiden 2004-2009. Penghuni perumahan ini kebanyakan para jenderal purnawirawan. Rumah SBY berdiri di lahan seluas 7.500 meter persegi. Lahan milik SBY masih kalah luas dibanding milik mantan KSAD Jenderal (purn) Subagyo HS. Perumahan Puri Cikeas Indah ini terletak di Desa Cikeas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. SBY mulai membangun rumah di perumahan ini pada tahun 1997. Rumah SBY diapit oleh dua lahan kosong yang merupakan milik warga setempat. Rumah SBY terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, merupakan rumah utama yang dibangun di atas kavling 4.500 meter persegi. Bangunan rumah ini dibangun dengan sistem mediterania, terdiri banyak teras, dengan atap berundak tiga. Bangunan rumah terdiri dua lantai dan bercat cokelat muda dan krem. Halaman rumah utama tampak rimbun dengan sejumlah pepohonan. Antara lain, ada pohon palem, pohon bambu, flamboyan, dan ada tanaman perdu yang memagari jalan setapak yang menghubungkan carport dengan teras depan dan teras samping kiri. Teras samping kiri ini terhubung dengan ruang kerja SBY. Di ruang inilah, SBY menerima tamu-tamunya dan melakukan rapat koordinasi. Ruangan itu tampak tidak terlalu luas dan dikelilingi oleh rak buku. Di tengah ruangan terdapat meja pertemuan dengan kapasitas 10 kursi. Di teras samping itu sendiri terdapat seperangkat meja kursi untuk ruang tunggu bagi tamu-tamunya. Sementara bagian kedua, berupa lahan seluas 3.000 meter persegi dan terletak di samping kiri bangunan rumah utama. Di lahan seluas 3000 meter ini, dibangun sebuah pendopo dengan arstitektur ukiran Jepara seluas 10 x 10 meter. Pendopo ini merupakan ruang serbaguna yang bisa digunakan untuk konferensi pers, menerima tamu dalam jumlah besar, tempat pengajian, salat bersama, dan lain-lain. Pendopo ini memiliki halaman yang sangat luas. Ada pohon rambutan sebagai peneduh. Bangunan pendopo ini baru dibangun pada awal 2004, di waktu awal-awal persiapan Pemilu. Menurut salah seorang pengawal yang telah lama ikut SBY, sebelum dibangun pendopo, tanah itu dibiarkan kosong dan penuh dengan pohon rambutan dan alang-alang setinggi lutut. Lahan 3.000 meter ini dikelilingi tembok batu setinggi dua meter. Antara bangunan pendopo dan bangunan rumah utama dihubungkan dengan sebuah pintu berterali besi yang, baru-baru ini selalu dijaga oleh petugas kepolisian. Setelah pilpres II usai, para tamu yang ingin bertemu SBY, akan melewati pemeriksaan dan screening. Screening dilakukan oleh Mayjen (Purn) Irfan Eddisono, mantan Gubernur Akmil yang kini menjadi salah seorang tim sukses SBY. Bila Irfan tidak ada, maka screening dilakukan oleh Suko Sudarso, mantan fungsionaris PDIP yang kini menjadi tim sukses SBY. Di garasi mobil rumah utama SBY, bila SBY dan keluarganya tidak bepergian, tampak tiga buah mobil berharga mahal yang diparkir. Satu buah sedan Volvo S 80 warna biru yang merupakan kendaraan harian Ny Kristiani, isri SBY. Dua buah mobil lainnya adalah Jeep BMW X5 warna abu-abu metalik dan Toyota Alphard warna biru. Perumahan Puri Cikeas Indah sendiri memiliki luas lahan 25 hektar. Banyak purnawirawan jenderal yang tinggal di perumahan ini. Selain SBY, Subagyo HS, mantan Wakil Ketua MPR Letjen (Purn) Agus Widjojo, dan mantan Kasum Letjen (purn) Suyono juga memiliki rumah di perumahan ini. Menurut informasi yang didapatkan detikcom, memang lahan yang dimiliki para mantan jenderal ini terhitung luas. Namun, yang paling luas adalah milik Subagyo HS, yang berluas 1 hektar. Rumah Subagyo sendiri agak jauh dari rumah SBY, sekitar 500 meter. Rumah Subagyo ini bercat putih dan dilengkapi dengan sebuah gelanggang olah raga. Sedangkan rumah Agus Widjojo, berjarak sekitar 400 meter dari rumah SBY. Rumahnya juga tampak luas, berarsitektur Jepang. Rumah ini memang lebih indah daripada yang lain. Tanah seluas 25 hektar di Perumahan Puri Cikeas Indah ini pada awalnya milik FX Surato, seorang purnawirawan perwira tinggi bintang dua TNI. Menurut seorang warga di perumahan itu yang keberatan disebutkan namanya, Surato membeli tanah 25 hektar itu pada tahun 1995 dengan harga Rp 5.000 per meter persegi. Tanah seluas ini kemudian dikapling-kapling dan ditawarkan kepada perwira tinggi di jajaran Hankam pada tahun 1996. Akhirnya, sejumlah jenderal membelinya, termasuk SBY. Tanah milik Surato ini ditawarkan kepada para jenderal sebesar Rp 35 ribu per meter persegi. Kini, lahan 25 hektar sudah terjual seluruhnya. Namun, baru sepertiga saja lahan yang didirikan rumah. Selebihnya masih dibiarkan lahan kosong. Surato sendiri membangun rumah tepat di depan rumah SBY. Surato membangun rumahnya bersamaan dengan SBY pada tahun 1997. Saat ini, Surato menjadi salah satu ketua DPP Partai Demokrat. Seiring dengan menangnya SBY dalam pilpres putara II, pengamanan di perumahan ini tampak diperketat. Seperti hari ini, Jumat (24/9/2004), didirikan sebuah pos pemeriksaan baru di sebuah lapangan yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah SBY. Semua kendaraan yang melewati pos itu diperiksa dengan ketat oleh polisi, seperti pemeriksaan di mal-mal di Jakarta.
(asy/)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 19/10/2014 19:41 WIB
    Iriana Bicara tentang Gaya, Media Sosial, Burung hingga Diri Sendiri
    Gb Iriana, tidak lama lagi akan menjadi Ibu Negara. Banyak yang penasaran akan sosoknya. Iriana, yang cenderung tak banyak berbicara, kali ini bersedia menjawab pertanyaan. Mulai soal gaya, hobi merawat burung hingga tentang dirinya sendiri. Seperti apa?
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
70%
Kontra
30%