DetikNews
Kamis 14 Juni 2018, 15:21 WIB

Landasan Jemaah An Nadzir Lebaran Hari Ini

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Landasan Jemaah An Nadzir Lebaran Hari Ini Markas jemaah An Nadzir di Koja, Jakarta Utara. Hari ini jemaah An Nadzir sudah merayakan Lebaran dan salat Idul Fitri. (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Jemaah An Nadzir menggelar salat Idul Fitri hari ini. Salat Idul Fitri digelar karena, menurut perhitungan jemaah An Nadzir, hari ini merupakan awal bulan Syawal 1439 Hijriah.

detikcom menyambangi lokasi pelaksanaan salat Idul Fitri Jemaah An Nadzir di Koja, Jakarta Utara. Pantauan di lokasi, tampak sisa-sisa pelaksanaan Lebaran di rumah ibadah bercat biru itu.

Anggota jemaah An Nadzir, M Anwar, menjelaskan alasan jemaah menggelar salat Idul Fitri hari ini. Berdasarkan hasil pengamatan dan penentuan akhir Ramadan, ditetapkan 1 Syawal jatuh pada hari ini.

Suasana di dalam Suasana di dalam rumah ibadah jemaah An Nadzir (Marlinda Octavia Erwanti/detikcom)


"Kami tetapkan sekarang (tanggal) 14 Juni (2018), 1 Syawal (1439 H)," kata Anwar saat ditemui detikcom, Kamis (14/6/2018).

Anwar menjelaskan penetapan 1 Syawal 1439 Hijriah dilakukan melalui pengamatan dan penentuan akhir Ramadan 1439 Hijriah. Pengamatan dilakukan berdasarkan perjalanan bulan sepanjang tahun.

"Kita kan pantau sepanjang tahun. Perjalanan bulan, khususnya di bulan Rajab, Syaban kita dapat. Untuk gampangnya memantau bulan, kita lihat pertengahan bulan. Kita ikuti perkembangannya sampai dapat nanti akhir bulan dapat awal bulan berikutnya. Misalnya bulan Rajab, kita lihat dari pertengahan bulan ini kan 15 hari bulan atau purnama," tutur Anwar.

Selain jadi tempat ibadah, Markas An Nadzir ini juga dijadikan tempat tinggal beberapa jemaahSelain jadi tempat ibadah, markas An Nadzir ini dijadikan tempat tinggal beberapa jemaah (Foto: Dok. Istimewa)


"Begitu nyampe di akhir bulan, maka kita dapat awal bulan Syaban. Syaban nanti kita ikuti juga sampai nanti pertengahan bulan. Pertengahan bulan nanti kita cocokkan dengan apa yang kita dapatkan di bulan Syaban, jatuhnya 30 hari Syaban. Maka kita dapatkan akhir dan awal Ramadan," lanjutnya.

Tak hanya mengamati perjalanan bulan, Anwar mengatakan, pengamatan juga dilakukan terhadap kondisi alam. Khususnya pasang-surut air laut.

Terjadinya air pasang tertinggi di laut, menurut penjelasannya, disebabkan adanya posisi terbentuknya garis astronomi antara matahari, bulan, dan bumi. Pada garis itu, matahari, bulan, dan bumi mendekati sejajar sehingga melahirkan efek gravitasi terhadap air laut yang hanya terjadi sebanyak satu kali dalam siklus 29/30 hari perjalanan bulan.


Suasana di dalam rumah ibadan jemaah An Nadzir (Foto: Marlinda Octavia Erwanti/detikcom)Suasana di dalam rumah ibadah jemaah An Nadzir (Marlinda Octavia Erwanti/detikcom)

"Maka kita dapat awal Ramadan itu itung-itungannya pokoknya sampai hari ini tanggal 14 kita jatuh 1 Syawal itu ada 29 hari Ramadan. Satu bulan itu 29 hari," ujarnya.

Anwar mengatakan berbedanya pelaksanaan Lebaran antara jemaah An Nadzir dan pemerintah bukan tahun ini saja. Beberapa tahun sebelumnya, jemaah An Nadzir juga menggelar Lebaran lebih cepat dari pemerintah.

"Sesuai dengan pengamatan yang kita jalani, kalau dia jatuhnya hari ini 1 Syawal, kalau kita masih berpuasa, haram hukumnya. Kan di waktu-waktu Lebaran itu kan diharamkan berpuasa. Kita takut itu. Kita takut sama Allah," kata Anwar.
(jbr/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed