detikNews
Rabu 16 November 2016, 16:46 WIB

Panglima TNI: Tambahan Militer AS di Australia Ancaman Untuk NKRI

Gibran Maulana - detikNews
Panglima TNI: Tambahan Militer AS di Australia Ancaman Untuk NKRI Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat memberikan kuliah umum di UI. Foto: Gibran Maulana/detikcom
Depok - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia. Gatot pun mengingatkan kepada mahasiswa akan berbagai ancaman yang dihadapi Indonesia.

Dalam kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa, Gatot sempat berkelakar. Acara bertajuk 'Mari Teladani Semangat Juang Pahlawan Kemerdekaan Menuju Indonesia Raya' itu digelar masih dalam rangka memperingati Hari Pahlawan.

"Jujur saya tidak berani datang sendirian ke sini, harus bawa pasukan karena di sini ada presiden BEM kan, ha ha ha. UI merupakan sejarah bagi saya. Pertama kali saya berani tampil umum di UI ya ini," ungkap Gatot saat memberikan kuliah umum di Balai Sidang UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Para mahasiswa yang hadir tergelak mendengar seloroh itu. Dalam pemaparannya, Gatot menjelaskan Kondisi Indonesia dari perspektif ancaman dari luar negeri. Terutama dari pulau-pulau terdepan Indonesia.

"Pulau Masela, Pulau Saumlaki, Pulau Selaru (daerah Maluku). Masela dan Darwin (Australia) jaraknya kurang lebih 90 KM. Di Darwin ada 1.500 personel militer Amerika dan mau ditingkatkan jadi 2.500. Pertanyaannya ngapain ke situ? Saya sebagai panglima TNI boleh melihat hal itu sebagai ancaman," ucapnya.

Selain itu, Gatot menyoroti soal ancaman terorisme di Indonesia. UU pemberantasan terorisme disebutnya masih sangat lunak dan ia berharap revisi UU tersebut yang kini tengah digodok di DPR dapat mengkategorikan tindakan terorisme sebagai kejahatan terhadap negara.

"UU pidana terorisme Indonesia sangat lunak, berbuat dulu baru dihukum. Seharusnya ini digolongkan sebagai kejahatan terhadap negara. ISIS itu latar belakangnya bukan orang-orang yang patah hati tapi (sumber) energi," terang Gatot.

"Teroris di Indonesia dana yang paling besar adalah dari wilayah Australia, Malaysia, Brunei dan Filipina. Islamic state saya katakan nanti akan pindah ke Asia Tenggara yaitu Jolo. Saya bersyukur presiden Filipina telah mendengarkan itu. Dia akan mengorbankan HAM untuk menjaga rakyatnya aman," imbuh dia.

Gatot pun berharap agar RUU Pemberantasan Terorisme dapat segera selesai. Jenderal bintang empat itu mengaku tak masalah jika TNI tidak dilibatkan selama terorisme dikategorikan sebagai kejahatan terhadap negara.

"Kita berdoa agar cepat selesai dan definisinya menjadi kejahatan terhadap negara. Dalam UU tidak menyebut satu kata pun TNI tidak masalah. Saya hanya telepon presiden teroris itu begini begini, presiden setuju, saya langsung kerjakan tanpa mendengarkan yang lain," tutup Gatot.
(elz/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed