DetikNews
Minggu 13 November 2016, 16:47 WIB

BMKG: Waspada! Puncak Musim Hujan di Indonesia Awal 2017

Nograhany Widhi K - detikNews
BMKG: Waspada! Puncak Musim Hujan di Indonesia Awal 2017 Foto: Bundaran HI macet (Dhani/pasangmata.com)
Jakarta - Puncak musim hujan di Indonesia akan terjadi pada awal 2017. Warga diminta waspada bencana dampak puncak musim hujan.

"Dalam beberapa pekan ke depan hingga periode awal tahun 2017 sebagian wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim hujan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar waspada dan lebih berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, pohon tumbang, jalan licin dan lainnya," jelas Kabag Humas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Harry Tirto.

Hal itu disampaikan Harry Tirto dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (13/11/2016).

Sedang di Jabodetabek, berdasar riwayat data klimatologinya, puncak hujan di kawasan Jabodetabek, terutama Jakarta biasanya terjadi antara pertengahan Januari sampai pertengahan Februari 2017.

Selain itu, Harry menambahkan dalam beberapa hari ke depan suplai uap air sebagai pendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera dan Jawa relatif tinggi.

"Diprakirakan potensi hujan masih terus meningkat dalam seminggu ke depan khususnya di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara," papar dia.

Besarnya pengaruh lokal dan tingginya pemanasan mengakibatkan periode saat ini hingga akhir November nanti memicu peningkatan intensitas Thunderstorm (hujan badai) yang memungkinkan terjadi petir dan angin kencang. Sehingga masyarakat diimbau berhati-hati ketika beraktifitas di luar rumah pada sore hari. Selain itu khusus untuk daerah perkotaan dan dataran tinggi agar mengantisipasi hujan lebat dengan durasi singkat yang dapat menyebabkan genangan bahkan banjir bandang.

Semakin meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah Indonesia seperti banjir bandang di Bandung dan Aceh, tanah longsor di Garut, serta angin kencang di Kalimantan Selatan dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh kondisi atmosfer yang sangat labil di wilayah Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh beragam fenomena, dari daerah pertemuan angin hingga dipicu oleh skala atmosfer skala lokal maupun skala yang lebih luas.

Harry juga menjelaskan tanda-tanda terjadi hujan lebat disertai angin kencang hingga yang bisa menimbulkan puting beliung, agar masyarakat bisa waspada.

Indikasi terjadinya hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang berdurasi singkat:

- Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah.
- Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60%)
- Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis – lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu – abu menjulang tinggi seperti bunga kol.
- Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus).
- Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat.
- Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.
- Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita.
- Jika 1 – 3 hari berturut – turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

Sifat-sifat putting beliung/angin kencang berdurasi singkat:

- Sangat lokal.
- Luasannya berkisar 5 – 10 km.
- Waktunya singkat sekitar kurang dari 10 menit.
- Lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba).
- Lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari.
- Bergerak secara garis lurus.
- Tidak bisa diprediksi secara spesifik, hanya bisa diprediksi 0,5 – 1 jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda-tandanya dengan tingkat keakuratan <50 %.
- Hanya berasal dari awan Cumulonimbus (bukan dari pergerakan angin monsoon maupun pergerakan angin pada umumnya), tetapi tidak semua awan Cb menimbulkan puting beliung.
- Kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama.
(nwk/bar)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed