Iri dengan Menteri Susi, Buwas: Kapal yang Bawa Narkoba Tenggelamkan Juga

Iri dengan Menteri Susi, Buwas: Kapal yang Bawa Narkoba Tenggelamkan Juga

Budi Sugiharto - detikNews
Kamis, 27 Okt 2016 02:38 WIB
Komjen Budi Waseso (Foto: Hasan Alhabshy/detikcom)
Komjen Budi Waseso (Foto: Hasan Alhabshy/detikcom)
Surabaya - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso atau Buwas memiliki mimpi besar untuk melawan bandar atau jaringan narkoba luar negeri. Ia ingin kapal yang mengangkut narkotika ditenggelamkan.

Keinginan penenggelaman kapal asing yang terbukti memuat narkoba itu karena Buwas sangat kesal melihat jaringan narkoba yang sudah masuk ke segala usia di Tanah Air.

"Hari ini ada ton-tonan yang sudah ada di negara kita. Saya tidak tahu ada berapa puluh ton atau 300 ton (narkoba)," ungkap Kepala BNN Komjen Budi Waseso (Buwas) saat pertemuan dengan media di Hotel Singgasana, Surabaya, Rabu (26/10/2016) malam.

Buwas menceritakan ketika awal memimpin BNN merasa iri dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang bisa dan mendapat dukungan untuk menenggelamkan kapal pencuri ikan.

"Sewaktu saya jadi kepala BNN pertama, saya menelisik ada kontainer yang masuk ke Indonesia. Makanya saya gencar, kepengin betul. Masak Bu Susi bisa menenggelamkan kapal yang mencuri ikan, tapi kan dikosongkan dulu. Masak saya Kepala BNN yang laki-laki tidak bisa menenggelamkan," kata Buwas.

Karena kesal dengan para gembong narkoba yang terus mengincar penduduk Indonesia itu, Buwas pun menghadap Panglima TNI untuk menyampaikan 'mimpi' penenggelaman kapal yang dipakai untuk mengirim barang haram itu.

"Terus saya lapor panglima TNI, KASAL dipanggil. Terus saya bilang ini A1, saya tanggung jawab, jika nanti sudah masuk ke perairan kita , mohon ditenggelamkan. Sak orang-orangnya sak barang-barangnya. Biar jadi monumen di lautan. Panglima bilang wah kepala BNN ini provokator," terang Buwas.

Buwas tak putus asa. Dia meyakinkan kepada panglima bahwa ada kapal dari luar negeri yang mengangkut narkotika menuju ke Indonesia.

"Saya bilang saya ini berdasarkan informasi A1, kerja sama sudah lama yang saya ikuti. Kapalnya sudah diketahui dari China berlabuh dari Malaysia, setelah beberapa saat kita ikuti dia berubah nama lambungnya kapalnya, benderanya," paparnya.

"Dan mereka siap-siap untuk masuk Indonesia, lewat Batam. Kita tidak tahu kapalnya berubah semua, barangnya dipindah semua. Kita sudah koordinasi dengan negara itu, tapi negara itu diam saja. Bahkan membiarkan itu terjadi, sekarang sudah masuk ke Indonesia," tambahnya.

Buwas juga merasa kecewa dengan negara di ASEAN yang sudah menjalin kerja sama dengan Indonesia untuk secara bersama-sama memerangi peredaran narkoba. Sebab, upaya BNN selalu tak membuahkan hasil ketika koordinasi dengan negara tetangga.

"Ini bukti memang ada kepentingan, saya kerja sama dengan beberapa negara lain untuk koordinasi mengungkap kasus jejaring di negara itu, tapi tidak pernah berhasil. Ada yang ditutupi. Padahal kita punya bukti fakta, bahwa nomornya ada di situ, titik koordinatnya di situ, orangnya namanya itu dari hasil pembicaraan-pembicaraan itu, begitu kita sampaikan hilang. Selalu. Saya bilang lebih baik mikirin negara kita sendiri," tandasnya.

Jaringan narkotika yang mengincar Indonesia itu berasal dari luar negeri. Semua bandar asing melihat Indonesia sebagai pasar yang empuk. Mereka ingin Indonesia hancur.

"Jaringan luar negeri seperti Amerika, Afganistan, Timur Tengah, China semua larinya ke Indonesia," kata Buwas di acara yang diselenggarakan BNNP Jawa Timur ini.

Bahkan Buwas mengaku pernah diprotes oleh Australia karena narkoba yang masuk ke negaranya ternyata berasal dari Indonesia.

"Australia pernah protes ke saya. Pak Kepala BNN kami menaruh perhatian atas sepak terjang kepala BNN. Tetapi kami juga mohon jangan kirim narkotika ke negara kami. Ini kata polisi Australia," kata Buwas menceritakan.

Keluhan itu ditanggapi serius oleh BNN. Setelah dilakukan penelusuran ternyata memang benar jika pengiriman narkoba berasal dari dua daerah di Indonesia.

"Setelah saya tanya dan telisik, betul. Masuknya dari Bali dan Yogya. Ternyata melalui pengiriman suvenir-suvenir, dengan berkedok pariwisata. Ini sudah saya sampaikan ke Bea Cukai," katanya.

(ugik/dhn)