Kisah-kisah Tak Nyaman di Gerbong KRL Wanita

- detikNews
Jumat, 03 Okt 2014 13:27 WIB
Jakarta - Kejadian yang dialami Nur Komalasari (25) cukup membuat miris. Alhamdulillah, perempuan yang hamil 6 minggu ini tak keguguran. Namun, luka di kakinya mengeluarkan darah karena tergesek-gesek penumpang lainnya di gerbong wanita. Nur selama di kereta berdiri.

Nur juga sempat jatuh didorong perempuan lain saat turun di Stasiun Cawang, Jakarta pagi tadi pukul 07.00 WIB, Jumat (3/10/2014). Darah yang keluar dari luka di kaki sempat disangka darah karena keguguran. Setelah dicek dokter, kandungan Nur aman.

Namun lepas dari tragedi yang dialami Nur di gerbong khusus wanita, ada juga cerita-cerita lainnya. Justru banyak perempuan yang tak nyaman dengan ulah sejumlah perempuan yang tak ramah dengan sesama kaumnya.

Berikut kisah yang disampaikan pembaca ke redaksi@detik.com.

1. Ada yang Pura-pura Tidur Pakai Earphone

Pengalaman Ayu Guritno mungkin dialami perempuan lain. Dia merasa sesama penumpang perempuan tidak ada toleransi.

"Sesama wanita malah nggak toleran," jelas Ayu.

Suatu hari, dia naik gerbong wanita dengan membawa dua anak, dan salah satunya balita. Tapi tak ada yang memberi tempat duduk pada dia dan anak-anaknya.

"Entah tidur, pake earphone kenceng banget. Nggak berasa perempuan dan belum pernah hamil dan punya anak kayaknya, atau nggak mikir kalau ibunya sendiri gimana. Terutama saya perhatikan yang muda-muda Yang ibu-ibu berusia paruh baya ke atas nggak ngasih karena merasa sudah tua dan berhak, yang muda merasa berhak karena sudah bayar, dan duduk bukan di bangku prioritas," ungkap Ayu.

"Belum lagi, kalau naik-turun dorong-dorongan. Atau tidak mau masuk kedalam, sehingga penumpang nggak bisa naik. Anehnya, di gerbong umum nggak gitu-gitu banget. Malah banyak yang pengertian. Mungkin bapak-bapak itu kebayang istri/anak perempuannya sendiri. Percaya atau nggak, penumpang kereta ekonomi (penumpang eks kereta ekonomi) lebih bermartabat, akrab, dan toleran daripada penumpang KRL AC," urai Ayu yang biasa naik kereta dari Bogor.

2. Perempuan yang Merangsek Duduk Seenaknya

Kisah lain di gerbong khusus wanita diceritakan Ayesya. Suatu hari dia naik kereta dari Stasiun Manggarai. Dia memilih kursi di gerbong perempuan.

"Saya hendak naik di stasiun manggarai, setelah kereta datang sayang langsung memilih gerbong wanita karena saya tak perlu bersinggungan dengan penumpang pria. Saya menemukan space kosong untuk diri saya sendiri, lalu saya pun menuju kearah tersebut," ujar Ayesya.

"Ketika sudah duduk tiba tiba seorang wanita bertubuh gemuk langsung merangsek duduk persis di samping saya padahal kursi telah terisi dan saya tidak duduk di kursi khusus ibu hamil atau lansia. Tanpa banyak kata ia pun menindih tubuh saya dan orang di samping saya yaitu nenek tua," jelasnya.

Alhasil, lanjut Ayesya, dia mengalah berdiri dan perempuan itu tetap duduk dengan tanpa bersalah.
"saya tidak peduli jika ia ingin merebut kursi tersebut, tetapi nenek tua itu pun tertiban tubuhnya. mungkin untuk pembelajaran bagi kita semua, meminta kursi baik baik tanpa aksi meniban atau sebagainya, apalagi ada lansia," tutur Ayesya.

3. Para Wanita di Gerbong Wanita Tak Beperikewanitaan

Julia mengisahkan pengalamannya di gerbong khusus wanita yang tak mengenakkan. Menurutnya di jam-jam sibuk, pagi dan sore, muatan KRL seperti ikan teri di dalam toples.

"Penuh luar biasa hingga bergerak saja nyaris tak bisa. Bila hal demikian terjadi di gerbong campur tentu rasanya jengah karena harus beradu bahu, punggung, paha dengan lawan jenis. Jadi adanya gerbong khusus wanita, lagi-lagi merupakan hadiah berharga dari KRL bagi para wanita. Sayangnya, para wanita yang menaiki gerbong ini makin lama makin tidak berperi-kewanitaan dan cenderung tidak berperi-kemanusiaan lagi," ungkap Julia.

Julia memberikan gambaran kerasnya 'persaingan' di gerbong wanita.Begitu kereta datang, maka bisa dipastikan kita akan terdorong bahkan bisa nyaris terlempar bila diam saja. Kadang terpaksa karena kalau tidak, kita yang celaka, terpaksa harus juga mendorong balik.

"Kadangkala saya merasa, pengisi gerbong wanita itu lebih kejam. Tadi pagi saja, saya dan seorang nenek nyaris terjepit tertindih orang-orang di belakang kami yang berebut mau masuk gerbong. Sampai kami berdua menempel ke dinding luar gerbong kereta. Saya menjerit marah sementara nenek disebelah saya sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suara," urai dia.

"Tapi, tak ada yang peduli, semua tetap berebut untuk masuk. Jadi bukan mustahil akan ada yang terdorong jatuh. Herannya, bila itu terjadi dalam kondisi kereta penuh, meski tidak manusiawi, tapi paling tidak ada alasan yang mendukung," tutup dia.

(ndr/mad)