Sebut Makam Wali Jadi Berhala, Buku SKI Kelas VII MTs Ditarik Kemenag

- detikNews
Rabu, 17 Sep 2014 15:52 WIB
Jakarta - Direktorat Pendidikan Madrasah Kementerian Agama merevisi Buku Pedoman Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) untuk kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs). Pasalnya, ada beberapa kalimat dalam halaman 14 yang mendapat kritik dari masyarakat dan dianggap mendiskreditkan pihak tertentu.

Oleh karena itu, demi alasan efektivitas, buku tersebut akan ditarik dan tidak digunakan lagi oleh para guru. Instruksi penarikan telah diinformasikan kepada Kanwil Kemenag di seluruh Indonesia.

"Keputusan yang kami ambil sebagai bentuk tanggung jawab, maka buku itu kami tarik dari edaran," kata Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag, Nur Kholis Setiawan dalam jumpa pers di kantor Kemenag, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (17/9/2014).

Buku yang akan ditarik tersebut sebanyak 15.200 eksemplar yang telah tersebar di seluruh Indonesia. Nur Kholis mengakui, pihaknya kurang cermat dalam melakukan proses editing.

"Kami mohon maaf dengan sepenuh hati atas kekurangcermatan pada proses proof reading pada halaman tersebut," kata Nur Kholis.

Namun menurutnya, Direktorat Pendidikan Madrasah telah bekerja maksimal dalam menyusun buku panduan itu. Proses editing dilakukan dalam waktu 2 bulan dengan ritme kerja ekstra.

"Ada 54 judul buku yang kami susun, jadi bisa dibayangkan berapa ribu halaman yang kami edit," katanya.

Sebelum penarikan ini, pihaknya juga telah memberikan surat edaran revisi yang disebarkan ke seluruh Kanwil Kemenag di daerah. Ada 3 kalimat yang direvisi dalam halaman 14 buku SKI kelas VII MTs tersebut.

Kalimat tersebut menjelaskan tentang perbedaan antara kondisi kepercayaan masyarakat Makkah sebelum Islam dengan masyarakat sekarang. Yakni kalimat, ‘Berhala dilakukan oleh agama selain Islam, yaitu Hindu dan Buddha. Kalimat ini diganti redaksinya menjadi ‘Berhala dilakukan oleh kepercayaan lain’.

Kalimat kedua, 'Berhala sekarang adalah kuburan para wali’, diganti redaksinya menjadi ‘Berhala sekarang adalah kuburan yang dianggap keramat’. Kemudian kalimat terakhir yang mengalami revisi adalah ‘Istilah dukun berubah menjadi paranormal atau guru spiritual’ direvisi menjadi ‘Istilah dukun berubah menjadi paranormal’.

Namun menurut Nur Kholis, logika dalam contoh tersebut tetap tidak sinkron. Sehingga pihaknya akan mengubah total redaksi dalam halaman 14 itu.

"Nanti logikanya lagi membandingkan. Kita arahkan guru mengeksplorasi agar siswa mendeskripsikan apa itu berhala. Bisa jadi berhala mengalami proses perluasan makna," tutupnya.

(kff/rmd)