Fenomena Ular Urban

Penanganan Medis Gigitan Ular di Indonesia Masih Kurang

- detikNews
Rabu, 03 Sep 2014 07:06 WIB
Depok - Yayasan Sioux Ular Indonesia menilai penanganan medis terhadap kasus gigitan ular di Indonesia masih sangat minim. Ini dilihat dari kurang siapnya obat-obatan dan tenaga medis yang paham mengenai gigitan ular.

"Di Indonesia serum anti bisa itu cuma ada 1 serum. Padahal kita itu punya 400 jenis ular, itu pun masih ada turunannya lagi. Jadi 1 serum itu untuk semua jenis ular itu. Karakter ular kan beda-beda. Kalau di luar negeri monovaren, 1 jenis ular itu 1 serum," jelas Instruktur Sioux, Tyo kepada detikcom di Shelter Sioux, Jl Pitara Raya, Depok, Jabar, Selasa (2/9/2014).

Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Salah satunya karena paradigma medis di Indonesia yang masih menganggap penyakit konvensional merupakan penyakit yang lebih berat sehingga para dokter lebih konsentrasi untuk mendalaminya.

"Penyakit jantung dianggap yang paling mematikan. Padahal ada bisa ular yang sangat mematikan. Jangan lupa kita tinggal di wilayah tropis. Ular banyak ditemukan di sini," jelas pria asal Magetan ini.

"Mungkin juga karena di Indonesia masih kental dengan pawang sehingga kalau digigit ular dibawanya ke dukun. Jadi kurang latihan juga dokter-dokternya karena kurang menemui kasus-kasus gigitan ular," tambah Tyo.

Host program TV survival ini pun menyatakan ia bersama Sioux berusaha mengubah paradigma masyarakat yang membawa korban gigitan ular ke dukun. Pemerintah pun diminta untuk menyediakan serum-serum anti bisa di seluruh rumah sakit dan apotek yang ada di Indonesia.

"Nggak semua RS punya serumnya. Saya udah tanya-tanya. Bahkan salah satunya di RSUD di Jakarta Timur, nggak nyediain serumnya. Padahal ada di peraturan Menkes yang mewajibkan itu. Apotek-apotek juga nggak ada, padahal serum itu penting sekali," ungkap koordinator Sioux Snake Rescue, Erwandi dalam kesempatan yang sama.

Erwandi pun mengatakan jika di RS besar saja tidak ada serum dan kurang tenaga medis yang mumpuni dalam penanganan gigitan ular, apalagi di puskesmas-puskesmas. Padahal untuk warga-warga di daerah yang sulit menjangkau RS, andalan mereka adalah Puskesmas.

"Perlu ada pelatihan bagi tenaga medis tentang penanganan gigitan ular yang benar seperti apa. Serum juga harus disediakan di RS, puskesmas, dan apotek," tukas Elang.

Kembali ke Tyo, sejumlah dokter disebutnya memiliki perhatian khusus mengenai penanganan dalam kasus-kasus gigitan ular. Dokter-dokter tersebut belum lama ini mengundang Sioux untuk memberikan pelatihan.

"Kita juga kemarin ada sharing dengan dokter yang membuat perkumpulan mengenai penanganan ular. Mereka ingin buat program bantuan ke dokter-dokter yang belum begitu paham tentang penanganan gigitan ular. Ke depannya akan kerja sama juga sama kita. Pemerintah harus memperhatikan permasalahan ini," tutup Tyo.

(ear/vid)