Kasus Penyerangan Rumah dan Gereja di Sleman, JK: Ini Pelanggaran Besar

- detikNews
Senin, 02 Jun 2014 18:17 WIB
Foto: Taufan N Ismalian/detikcom
Yogyakarta - Cawapres Jusuf Kalla (JK) menjenguk korban penyerangan dan penganiayaan Julius Felicianus yang terjadi di rumahnya di Sleman, Yogyakarta. JK menganggap aksi kekerasan tersebut merupakan sebuah pelanggaran besar.

"Dalam negara kita kekerasan dalam bentuk apapun, apalagi bersifat sara agama tentu melanggar hukum dan persatuan negara kita. Ini suatu pelanggaran besar!" ujar JK di RS Panti Rapih, Yogyakarta, Senin (2/6/2014).

JK menilai Yogyakarta merupakan kota yang masyarakatnya selalu hidup tentram dan damai. "Kenapa tiba-tiba terjadi seperti itu (kekerasan)? Orang boleh berdoa di manapun, tapi kenapa orang berdoa di rumah sendiri malah membuat kemarahan pihak lain," keluh pria berumur 72 tahun ini.

JK meminta hukum harus menindak tegas kasus ini. Meski korban Julius kini telah memaafkan pelaku yang menganiayanya.

"Julius itu sudah memaafkan secara pribadi tapi secara hukum tidak boleh. Kalau sekali dibiarin nanti akan terulang lagi, dan Sri Sultan sudah mengambil tidakan pra hukum kepada pelaku kekerasan," jelasnya.

Adapun JK tak luput mengucapkan rasa duka cita dan simpatinya terhadap para korban kekerasan. Menurutnya jangan sampai ada pembiaran dalam kasus kekerasan dan penganiayaan yang mengakibatkan korban luka ini.

"Dia (korban) tulangnya patah, beberapa luka di kepala karena batu, kita berjanji akan memberikan perhatian yang lebih besar, meminta pra hukum bertindak lebih keras,
Ini untuk menciptakan rasa aman negeri ini, jangan sampai ada pembiaran," terang ketua Dewan Majid Indonesia ini.

Kamis (29/5/2014) lalu, sekelompok orang melakukan tindak kekerasan dan penganiayaan terhadap jemaat yang tengah melakukan ibadah rosario di rumah Julius Felicianus di Sleman, Yogyakarta. Kemarin, sekelompok orang juga menyerang gereja. Polisi turun tangan tapi sejauh ini pelaku dan motifnya aksi itu belum terkuak.




(tfn/try)