Pelecehan Seksual di Transjakarta

Kisah Penumpang Transjakarta Korban Pelecehan Seksual

- detikNews
Rabu, 29 Jan 2014 14:16 WIB
Antrian penumpang bus Transjakarta. (foto-detikcom)
Jakarta - Peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan empat petugas Transjakarta belum lama ini mengingatkan Natalina pada kasus serupa yang pernah dia alami. Beberapa bulan lalu, perempuan berusia 25 tahun itu tengah menumpang bus Transjakarta rute Pluit – Pinang Ranti.

Siang itu bus yang ditumpangi Natalina dari halte Kuningan Timur sudah cukup penuh. Namun masih ada sedikit ruang sehingga tubuh sesama penumpang tak perlu saling menempel.

Ketika bus sudah mulai bergerak kembali di jalur khusus itu, dia mulai merasa tidak nyaman. Apalagi aturan pembagian ruangan antara perempuan dan laki-laki tidak dipatuhi. Beberapa orang pria berdiri berdesakan dengan wanita di bagian depan bus, yang seharusnya khusus untuk wanita.





Natalina berdiri di dekat pintu yang berseberangan dengan pintu yang dijaga petugas. Di belakangnya ada beberapa orang laki-laki. Di tengah perjalanan, ia mulai merasa ada pria yang memepetkan tubuhnya ke belakang dia.

Awalnya dia berpikir mungkin itu karena kondisi bus yang sangat penuh. Maka ketika di pemberhentian berikutnya ada beberapa penumpang yang turun dan bus sudah lebih longgar, ia menggeser badannya lebih jauh.

Namun pria remaja yang diingatnya mengenakan kaus warna oranye itu tetap saja mepet dari belakang. “Dia menggesekkan tubuh dan kelaminnya dan mengambil kesempatan nyenggol ketika bus mengerem,” kata Natalina kepada detikcom, Selasa (28/1) kemarin.

Merasakan ada yang tak beres, ia langsung berpindah tempat dan berdiri agak jauh. Tampaknya pria tersebut belum sadar aksinya mulai diketahui. Dia tampak santai saja. Saat bus di halte Cawang beberapa penumpang masuk, pria yang diperkirakan masih berusia belasan tahun itu kembali mengulangi aksinya; memepetkan tubuh dan kelaminnya ke tubuh penumpang perempuan lain.

Wanita bertubuh tambun yang masuk belakangan tidak langsung menyadari karena dia juga meletakkan tasnya ranselnya di belakang. “Saya sempat menarik cewek itu tapi enggak langsung bilang apa yang sedang dilakukan cowok di belakang dia,” kata dia.

Begitu turun di halte UKI, Natalina sempat berbisik kepada petugas agar mengawasi gerak-gerik pelaku. “Tapi hanya sampai di situ. saya enggak tahu apakah dia akhirnya ditangani petugas atau tidak. saya terpikir untu menegornya dengan teriak, tapi enggak berani takut dia bertindak macam-macam,” kata Natalina.

Kepala Badan Layanan Umum Transjakarta Pargaulan Butarbutar mengakui masih adanya peluang pelecehan seksual di dalam armada Transjakarta. Dia berharap penumpang perempuan agar menyesuaikan tempat di dalam bus.

Apalagi sebagian besar pengguna Transjakarta adalah perempuan. Pargaulan mengamati penumpang perempuan di dalam bus masih sering nekat berada di areal pria. Hal ini pula yang memicu kerap terjadinya pelecehan seksual di dalam bus.

“Yang saya amati kalau sidak seperti itu. Sudah dibilangin sama petugas tapi penumpang perempuan tapi enggak mau pindah. Padahal, bus masih belum penuh,” kata pria kelahiran Medan, 52 tahun lalu itu.

(erd/erd)